Pasar Induk Beras Dargo, Barometer Harga yang Terancam Bubar

Posted: May 29, 2009 in Market Itu Pasar
Bangunan PAsar Dargo Semarang

Bangunan Pasar Dargo Semarang

Jakarta mempunyai Pasar Induk Beras Cipinang untuk menyuplai kebutuhan berasnya. Demikian pula Semarang mempunyai Pasar Induk Beras Dargo. Namun kondisinya sekarang sangat memprihatinkan karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Meskipun begitu, Pasar Dargo tetap menjadi barometer beras di Jawa Tengah.


Pasar Induk Beras Dargo Semarang berada di Jalan Dr. Cipto. Pasar Dargo buka setiap hari mulai dari jam 8 hingga jam 4 sore. Pasar dengan dua tingkat ini mempunyai luas areal sekitar 2440 m2. Untuk lantai dasar pasar ditempati para pedagang beras, sedangkan di lantai dua ditempati para pedagang sembako, pedagang ikan laut, pedagang daging, dan bakul. Beras yang beredar di Pasar Dargo yaitu beras dengan jenis Mentik Wangi, C4 Membramo, C4 Poles, C4 46, C4 Super Poles, Cisadane, dan beras Rojolele. Beras yang masuk, kata Kastawar yang merupakan Ketua Persatuan Pedagang Beras Pasar Dargo, umumnya berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah seperti Grobogan, Delanggu, Bakung, Karang Ampel, Demak, Kudus, dan Kendal. Selain dari kota di Jawa Tengah, beras juga tak jarang datang dari beberapa kota di Jawa Barat seperti Indramayu dan Cirebon.

Lokasi Pasar Dargo sekarang ini merupakan lokasi baru. Pasar yang berada di wilayah Semarang Timur ini sudah dua kali pindah lokasi. Awalnya, Pasar Dargo berada di YAI Permai dekat alun-alun kota Semarang. Kemudian tahun 1965 Pasar Dargo dipindah ke daerah Sabakarti. Tak hanya berhenti di Sabakarti, pemindahan lokasi Pasar Dargo kembali terjadi di tahun 1996 yang mengharuskan Pasar Dargo akhirnya pindah ke Jalan Dr. Cipto merupakan lokasi yang ditempati sekarang ini. Pembangunan Pasar Dargo dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang dengan PT. Investindo Cipta Karya sebagai rekanannya. Dalam pengelolaannya, Pemerintah Kota mengelola kios yang berada di bagian dalam pasar, sedangkan kios yang berada di luar dikelola oleh PT. Investindo Cipta Karya.

Pedagang beras yang berada di lantai dasar pasar sekarang ini jumlahnya hanya 7 orang yang terdiri dari 3 pedagang grosir dan 4 pedagang eceran. Untuk lantai dua, kata Toying Ketua Persatuan Pedagang Lantai 2, sudah dihuni sekitar 110 pedagang yang terdiri dari 40 orang pedagang sembako, 30 orang pedagang ikan laut, 5 orang pedagang daging, dan 25 orang bakul. Untuk sembako, biasanya datang dari berbagai daerah seperti Kendal, Cirebon, Klaten, Delanggu, Kudus, dan Pati.

Pasar Dargo didesain dengan 770 kios. Anda pun masih bisa menyewa kios di Pasar Dargo, karena hingga saat ini sekitar 407 kios sudah ditempati pedagang, sedangkan yang lain, sebanyak 363 kios belum ditempati. Untuk menyewa kios di Pasar Dargo, Anda bisa merogoh kocek hingga Rp. 10 juta/tahun. Harga Rp. 10 juta/tahun untuk menyewa kios di bagian dalam pasar yang berukuran 4 x 8 M, sedangkan jika Anda ingin menyewa kios di bagian luar yang berukuran 3 x 8 M, Anda cukup menyewa dengan harga Rp 4,5 juta/tahun. Sangat berbeda jauh memang perbandingan harganya.

Salah satu kios beras

Salah satu kios beras

Untuk memasuki Pasar Dargo tidak ada hambatan yang cukup berarti bagi pedagang lama ataupun pedagang baru. Anda hanya akan di pungut retribusi sebesar Rp.1000/ bulan untuk keamanan dan Rp. 3000/bulan untuk kebersihan pasar. Anda pun bisa langsung bertransaksi di pasar ini. Di Pasar Dargo juga tidak ada pungutan liar, baik dari pungutan liar dari dinas atau dari preman pasar. Untuk masalah keamanan, menurut Kastawar dan Toying, tak perlu dikhawatirkan. Keamanan bertransaksi Anda di Pasar Dargo sangat terjamin, ini dikarenakan pihak pasar telah bekerjasama dengan Babin Kamtibnas dan Koramil setempat untuk memonitoring masalah keamanan pasar.

Keberadaan Pasar Dargo sendiri mempunyai andil yang penting dalam perdagangan beras di Jawa Tengah. Pasar ini masih digunakan sebagai pancang harga beras di segala penjuru kota di Jawa Tengah. “Harga beras di sini masih menjadi patokan bagi harga-harga beras di daerah lain,” ujar Kastawar. Dari pantauan akhir AO,  harga beras C4 Super Poles mencapai Rp. 5.200/Kg, beras C4 biasa Rp. 4.700/Kg, beras Rojolele Rp. 8 ribu/Kg, sedangkan harga beras Mentik Wangi mencapai Rp.5.500/Kg.

Memprihatinkan.

Sebenarnya kondisi Pasar Dargo sekarang ini, menurut Kastawar, sangat memprihatinkan. Banyak hal yang membuat Pasar Dargo ditinggalkan penghuninya.“Dulu pedagang beras grosiran di sini jumlahnya bisa mencapai 75 pedagang, sekarang tinggal 3 orang saja,” ujar Kastawar. Retribusi yang dikenakan pedagang pun menambah kondisi Pasar Dargo semakin merana. Pedagang setiap harinya dikenakan retribusi sebesar Rp. 3.500. “Kami sudah menyewa kios dengan harga mahal, ditambah dengan adanya retribusi sebesar Rp. 3.500 per hari tentu memberatkan kami. Apalagi pemerintah berencana menaikkan retribusi hingga Rp. 10 ribu per hari, bisa-bisa kami meninggalkan pasar ini,” ungkap Kastawar yang sudah berdagang beras di Pasar Dargo sejak 1965.

Lokasi Pasar Dargo yang baru juga sangat merugikan pedagang. Lokasi pasar dinilai tidak strategis karena selain jauh dari kota, juga karena pasar berada diantara pasar swalayan. Semakin sepinya Pasar Dargo juga terjadi karena adanya persaingan dari pasar modern yang keberadaannya semakin banyak. Selain itu, keberadaan pedagang beras eceran yang semakin banyak di setiap daerah juga mempengaruhi sepinya pedagang di Pasar Dargo. Menurut Kastawar produsen beras sekarang ini lebih memilih menjual berasnya langsung ke pengecer terdekatnya sehingga hal ini menyebabkan rantai tataniaga beras semakin pendek. “Dulu produsen beras pasti masuk ke Pasar Dargo untuk menjualnya,” kenang kakek yang sekarang telah berusia 73 tahun ini.

DSCN6881

Pedagang sembako sedang menunggu pelanggan

Semakin pendek rantai tataniaga beras yang terjadi, menyebabkan berkurangnya biaya transportasi yang dikeluarkan produsen beras. Dengan adanya strategi ini menyebabkan produsen tak perlu lagi masuk ke Pasar Dargo untuk menjual berasnya. Keperluan produsen ke Pasar Dargo sekarang ini hanya untuk melihat harga pasar beras yang sedang terjadi saja. Bahkan dengan kemajuan telekomunikasi sekarang ini, memungkinkan produsen beras daerah tak perlu datang lagi ke pasar. “Sekarang mereka (produsen) tinggal telpon saya untuk tanya harga. Kadang mereka juga masuk pasar kalo sedang ada operasi pasar dari pemerintah,” ungkap Kastawar.

Kurang Peduli.

Kondisi Pasar Dargo yang sangat mengkhawatirkan ini merupakan buah dari kurang perhatiannya pihak pemerintah kota dan pihak pengembang pasar ini yaitu PT. Investindo Karya Cipta. Hal ini terlihat dengan kondisi pasar dengan atap yang mulai rusak dan pasar yang terlihat kumuh karena kurang perawatan. Menurut Kastawar, jika kondisi pasar masih seperti ini mana mungkin menarik konsumen untuk bertandang ke Pasar Dargo. “Mereka (konsumen) pasti lebih suka ke pasar modern yang lebih bersih dengan pelayanan yang lebih menarik ketimbang ke pasar yang kondisinya seperti ini,” ujar Kastawar sambil menerawang pasar yang mulai usang.

Berkurangnya konsumen sudah terlihat ketika terjadi penurunan penjualan di setiap pedagang. “Dulu pas rame saya bisa menjual sampai 40 ton per minggu, tapi sekarang saya paling banter jual 12 ton saja per minggu,” ungkap Kastawar. Hal ini senada diungkapkan Erlin salah satu pedagang beras eceran, menurut Erlin penjualannya saat ini hanya bisa mencapai 8 ton per minggu. “Pas pasar sini lagi rame, saya bisa menjual sampai 16 ton per minggu,” jelas Erlin. Sejurus dengan Erlin, Pranowo seorang pedagang beras eceran juga, kini dia pun hanya bisa menjual hingga 5 ton per minggunya.

“Saya mohon lah pemerintah mendengar keluhan kami. Kami cuma pingin pasar ini rame lagi seperti dulu,” kata Kastawar siang itu. Namun, untuk sekarang ini tampaknya keluhan-keluhan para pedagang masih belum bisa memekakkan telinga Pemerintah Kota Semarang terutama Dinas Pasar Kota Semarang sebagai pengelolanya. Masih ada secercah harapan bagi pedagang yang masih bertahan di Pasar Dargo jika keluhan-keluhan mereka bisa didengar dan diselesaikan oleh pemerintah. Harapan mulia untuk mempertahankan Pasar Dargo tetap berdiri sebagai pancang harga beras di Jawa Tengah bisa cepat terwujud. Semoga.

Diterbitkan di Majalah Agro Observer Edisi 24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s