Saatnya Peduli Kualitas Benih

Posted: July 8, 2010 in Nikmatnya berbisnis

Berdasarkan data Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Sumatera Selatan,2008, benih yang masuk ke Sumatera Selatan mencapai sekitar 35,6 juta benih. Sekitar 16 juta benih dipasok dari Medan, sedangkan sisanya dipasok dari penangkar lokal di Sumatera Selatan. Dengan harga satu benih hingga Rp5 ribu, maka perputaran uang bisnis benih di Sumatera Selatan bisa mencapai Rp178 miliar.


Umumnya benih bersertifikat ini digunakan untuk proyek atau tender pemerintah. Tak gampang menekuni bisnis benih bersertifikat karena benih harus memenuhi beberapa persyaratan yang sudah ditetapkan oleh Balai Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) Tanaman Perkebunan yang berada di bawah pengawasan Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi.  Menurut Kepala BPSB Sumatera Selatan, Supriyanto, sertifikasi benih dilakukan karena sesuai dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1992 pasal 13 dan Permentan No. 39 tahun 2006.

Sertifikasi dimulai dengan sertifikasi biji, kebun entres hingga batang bawah. “Untuk biji harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu biji berasal dari klon yang sama dan harus terlihat segar sebelum sampai ke penangkar,” ujar Supriyanto. Keseragaman biji dari klon yang sama, menurut Supriyanto, bisa dilihat secara visual dengan melihat bentuk dan pola batik dari biji tersebut. “Kadang ada pengirim yang nakal dengan mencampur biji yang berbeda klon bahkan ada yang dari klon asalan. Jika sudah begitu biji tidak bisa kami loloskan,” ungkap Supriyanto.

Sedangkan untuk kesegaran biji dapat dilihat dengan membelah biji tersebut. Ada empat kriteria untuk mengklasifikasikan kesegaran benih. Untuk biji kelas 1 mempunyai kriteria biji berwarna putih dan basah, jika dibelah biji bisa merekat kembali. Untuk biji kelas 2 dan 3 mempunyai kerenggangan jika biji dibelah. Sedangkan biji kelas 4 merupakan biji yang sudah kering dan kisut penampakannya serta umumnya biji sudah busuk. “Pemilihan untuk sertifikasi biji dilakukan dengan menggunakan sampel karung kemudian dari sampel karung tersebut dipilih sampel biji, “ ungkap Suparyitno.

Suparyitno menambahkan, selain melakukan sertifikasi biji melalui keseragaman dan kesegaran biji, BPSB juga melakukan terhadap kuantitas biji yang dikirim. “Semisal biji dikirim dari Medan ke Palembang, biji yang dikirim sudah disertifikasi oleh BPSB Sumatera Utara, kemudian dilakukan sertifikasi ulang oleh BPSB Sumatera Selatan begitu sampai di Palembang. Kami mengecek benar tidak penangkar beli sekian juta. Kadang beli dua juta benih yang sampai satu juta,” ujar Supriyanto. Biji yang sudah lolos sertifikasi akan memperoleh Surat Keterangan Mutu (SKM) yang dikeluarkan oleh BPSB. Untuk biji yang berasal dari Medan biasanya datang pada bulan September hingga Oktober, sedangkan biji dari Sumatera Selatan pada bulan Februari hingga Mei.

Setelah sertifikasi biji, kemudian dilakukan sertifikasi kebun entres. Sertifikasi kebun entres dilakukan jika kebun entres sudah dilakukan pemurnian yang dilakukan Balai Penelitian (Balit) Sembawa. “Pemurnian dilakukan secara dua tahap, tahap pertama dilakukan sendiri oleh Balit Sembawa. Kemudian untuk tahap kedua dimurnikan ulang bersama BPSB,” tambah Supriyanto. “Entres yang lolos pemurnian umumnya diberi tanda merah. Pemberian tanda ini sebagai tanda bahwa entres berasal dari satu klon,” tambah Supriyanto.

Pemurnian dilakukan dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi penangkar antara lain jenis klon merupakan klon anjuran dengan jarak tanam 1 X 1 m, lokasi kebun harus mempunyai drainase yang baik. Selain itu, entres mempunyai mutu pertumbuhan dengan mata tunas yang baik dan segar dan dilakukan pemangkasan secara regular serta dipelihara minimal tiga cabang per pohon untuk entres cokelat dan minimal sepuluh cabang per pohon untuk entres hijau. Untuk kondisi tanaman sendiri harus mempunyai pertumbuhan yang baik dan seragam serta bebas gangguan hama dan penyakit. Untuk entres yang tidak lolos pemurnian langsung ditebang.

Apabila  pemurnian telah dilakukan hingga mencapai  100 persen dan dianggap lolos oleh BPSB maka kebun entres tersebut akan memperoleh Surat Keputusan (SK) kebun entres. “Kecurangan bisa terjadi saat sertifikasi kebun entres, kadang penangkar mengambil dari entres orang lain dan menggabungkan dengan entres dia. Ini biasanya dilakukan karena penangkar kekurangan entres dari entres yang dibutuhkan,” ungkap Suparyitno. Kendala bagi BPSB dalam melakukan sertifikasi entres yaitu entres belum banyak yang dilakukan pemurnian.

Setelah dilakukan sertifikasi kebun entres kemudian dilakukan sertifikasi batang bawah yang berasal dari biji yang telah mempunyai SKM. Batang bawah dilihat dengan sistem ubin atau sample baris. Sekarang ini untuk mendapatkan batang bawah biji bersertifikat agak sulit didapat. “Dari kebutuhan satu juta biji kadang cuma dapat 48 ribu batang bawah saja. Ini terjadi karena keterlambatan penanaman biji, kadang baru dua minggu kemudian penangkar baru menanamnya,” ungkap Supriyanto. Setelah dinyatakan lolos dari tiga tahap tersebut penangkar baru memperoleh Standar Registrasi Usaha Perbenihan (STRUP) Dinas Perkebunan Provinsi.

“Selain sertifikasi biji, entres, dan batang bawah, penangkar biasanya juga melakukan sertifikasi bibit berpolibek dan stump mata tidur untuk dijual. Bibit berpolibek dan stump mata tidur merupakan hasil pengokulasian antara batang bawah dengan entres yang sudah bersertifikat. Untuk bibit berpolibek biasanya sudah mempunyai satu hingga dua payung,” ungkap Supriyanto. Ada tiga macam pelabelan dalam proses sertifikasi benih yaitu label biru, merah, dan ungu. Bibit berpolibek dan stump mata tidur berlabel biru dan merah biasanya dijual untuk perdagangan, sedangkan untuk label ungu digunakan untuk penelitian. Untuk label ungu biasanya digunakan untuk kebun entres.

Berkaitan dengan harga, bibit berpolibek dan stump mata tidur berlabel biru lebih mahal dibandingkan dengan berlabel merah. Pantauan akhir Hevea, bibit berpolibek berlabel biru mempunyai harga Rp4.500, sedangkan untuk label merah mencapai Rp2.500 per batang. Dalam proses sertifikasi ini, penangkar dikenakan biaya retribusi pemerintah daerah sebesar Rp50 per batang, pelabelan dikenakan biaya Rp25, sedangkan untuk asosiasi penangkar sebesar Rp10.

Supriyanto mengingatkan kepada penangkar supaya sadar akan kemampuan menyuplai benih sebelum melakukan perjanjian. “Banyak kejadian untuk mendapatkan keuntungan penangkar menyanggupi menyuplai benih dalam skala besar padahal dia tidak punya kemampuan sebesar itu. Ya yang kejadian muncul adalah kecurangan-kecurangan untuk meloloskan benihnya, dan tentu akan merugikan penangkar tersebut jika kami mengetahuinya,” ujar Supriyanto. Untuk Sumatera Selatan sendiri terdapat empat penangkar besar yaitu dua penangkar di Musi Banyuasin, satu di Prabumulih, dan satu penangkar di Linggau. Supriyanto menambahkan, jika Anda ingin memiliki benih bersertifikat di Sumatera Selatan dalam partai besar, saya sarankan untuk memesan satu tahun sebelumnya. “Karena jika mendadak mungkin Anda tidak akan kebagian,” ungkap Supriyanto.

Diterbitkan di Majalah Hevea, Pusat Penelitian Karet Indonesia Edisi 2

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s