Karet Jadi Tulang Punggung PTPN IX

Posted: February 1, 2011 in Nikmatnya berbisnis
Tags:

Harga karet yang semakin menjanjikan telah menggoda PTPN IX untuk terus mengembangkan karet. Konversi tanaman kopi dan kakao ke karet pun dilakukan. Tak hayal, kin, karet menjadi sumber pendapatan utama bagi perusahaan perkebunan yang berpusat di Semarang ini.

Sejarahnya, N9 terbentuk dari hasil penggabungan dari beberapa PT. Perkebunan (PTP) yakni PTP XV, PTP XVI, dan PTP XVIII. Dalam mengelola tanamannya, N9 membagi jadi dua divisi tanaman yaitu Divisi Tanaman Tahunan dan Semusim. Divisi Tanaman Tahunan membudidayakan dan menghasilkan produk-produk dari tanaman karet, kopi, kakao, dan teh. Sedangkan Divisi Tanaman Semusim menghasilkan produk dari tanaman tebu. N9 memiliki 8 pabrik pengolahan tebu menjadi gula yang tersebar di Jawa Tengah. Industri hilir N9 berupa teh celup dan serbuk merek “Kaligua”, Kopi bubuk “Banaran”, dan Gula pasir “Gula 9”, sedangkan untuk karet masih berupa raw material.

Saat ini areal konsesi 32 ribu ha, sekitar 27 ribu ha didominasi tanaman karet. PTP Nusantara IX juga mengelola komoditas sampingan seperti pala, kapuk, kelapa, dan agrowisata di Kebun Banaran dan Kaligua. “Dari semua komoditas yang ada, sekitar 80% pendapatan diperoleh dari karet, dan saat ini, karet menjadi tulang punggung perusahaan kami,” ujar R. Harwiyanto, Kepala Bagian Tanaman PTP Nusantara IX. Tahun 2009, PTP Nusantara IX berhasil membukukan laba dengan komposisi sebesar Rp 40 miliar dari hasil penjualan sejumlah komoditas. Komposisi dan terbesar diperoleh dari komoditas karet. Direktur Pemasaran dan Rencana Pengembangan PTP Nusantara IX, Dwi Santosa mengatakan perolehan laba sebesar itu melampaui target yang ditetapkan,yakni Rp35 miliar. PTP Nusantara IX pernah mendapat keuntungan yang cukup tinggi saat booming karet pada 1998, mencapai Rp 89 miliar.

Hingga akhir tahun 2009, ada 11 kebun karet yang dikelola dengan luas areal 2.116,6 ha. Sebelas kebun tersebut antara lain Kebun Warnasari, Kawung, Krumput, Blimbing, Siluwok, Sukamangli, Merbuh, Ngobo, Getas, Batujamus, dan Balong. Karet cukup dominan dari empat komoditas pokok yang dikelola PTP Nusantara IX. Untuk tanaman tahun ini (TTI) karet tahun 2009 luasnya 2.116,60 ha. Tahun 2010 diprediksi meningkat 2.253,89 ha, baik dari tanaman replanting maupun konversi. Kakao merupakan tanaman yang akan banyak dikonversi menjadi karet karena menurut Harwiyanto, tanaman kakao sudah tidak cocok dengan perubahan yang terjadi akhir-akhir ini. “Kakao hanya akan kami sisakan 300 ha sebagai kebun bibit kakao. Selain itu, tanaman kopi dan teh pada beberapa kebun yang sudah tidak potensial juga akan kami konversi ke karet,” ujar Harwiyanto.

Untuk tanaman replanting, pada tahun 2010 PTP Nusantara IX akan “menggarap” 2.200 ha. Menurut Harwiyanto, pengembangan tanaman karet dilakukan karena berdasarkan pengalaman, harga karet paling konstan bahkan cenderung meningkat. “Tanaman lain sulit kami prediksi.  Berbeda dengan karet yang prospeknya bagus. Empat tahun ini investasi tanaman karet sangat tinggi. Karet akan kami posisikan sebagai core business yang handal,” ungkap Harwiyanto.

Jor-joran dalam mengembangkan karet telah membuahkan hasil terhadap peningkatan produktivitas setiap tahun. Peningkatan inipun diamini oleh Harwiyanto,”Produktivitas kami naik dari tahun ke tahun. Tahun 2005, kami hanya memperoleh 1.176, tetapi tahun 2009 sudah mencapai 1.414 kg per hektar per tahun. Prediksi kami, tahun 2011 bisa mencapai 1.564 kg per hektar per tahun”. Harwiyanto menambahkan peningkatan produktivitas selain karena pertambahan luas areal karet, juga berkat penggunaan klon-klon unggul rekomendasi Balit Getas, antara lain klon-klon BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, IRR 118, IRR 32, IRR 42, RRIC 100, dan PB 217. Dari beberapa klon rekomendasi tadi, PTP Nusantara IX  paling banyak mengelola klon PB 217.

Tak hanya itu. Penggunaan gas stimulan etilen untuk memerah latekspun diterapkan. “Dengan menggunakan gas etilen, volume lateks meningkat hingga 200%. Teknologi gas ini diterapkan pada pohon pohon tua, tiga tahun sebelum diremajakan,” ujar Harwiyanto. Dalam 5 tahun terakhir ini, penggunaan gas stimulan etilen dipakai pada beberapa perusahaan perkebunan karet seperti PT. Pinago di Sumatera Selatan dan PTP Nusantara XII. Hasilnya menunjukkan produksi yang stabil konstan, tidak ada penurunan produksi secara signifikan dan mengurangi penurunan kualitas karet. “Tapi kami masih berhati-hati, karena dalam jangka panjang pasti ada dampak akibat pemerasan lateks tersebut. Misalkan saja jika pemeliharaan dan pemupukan tidak dilipatgandakan tentu akan berpengaruh,” tambah Harwiyanto.

Agar produktivitas dapat terus ditingkatkan, PTP Nusantara IX juga memperhatikan perawatan kebun dalam bentuk pemupukan, pemberantasan gulma, dan hama penyakit. Pemupukan masih konvensial baik tunggal atau majemuk, demikian juga pupuk organik. PTP Nusantara IX juga menggunakan rorak dalam,mengisinya  dengan pupuk kandang untuk mengurangi kekeringan pada musim kemarau dan akan terus dibuat setiap tahun sebanyak 25% persen dari luas areal. Rorak sudah dibuat ketika TBM 2 hingga 3. Harwiyanto mengklaim rorak dalam terbukti mempengaruhi pertumbuhan lilit batang dan ketebalan kulit ketika musim kemarau tiba.

Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) dan penyakit daun masih menjadi bayang-bayang yang menakutkan bagi karet di PTP Nusantara IX. Pencegahan sudah dilakukan sejak TBM dan terus mereka lakukan. Salah satu pencegahan JAP dengan menggunakan Triko Combi G yang diproduksi Balit Getas. “Hasilnya,serangan JAP pada karet kami sudah berkurang,” ujar Harwiyanto. Triko Combi G merupakan inovasi terbaru dari Balit Getas untuk menanggulangi JAP. Meskipun masih dalam tahap pengujian, Triko Combi G sudah menunjukkan keberhasilan  yang memuaskan.

Untuk terus meningkatkan kinerja tanaman, selain bekerjasama dengan Balit Getas, PTP.Nusantara IX juga bekerjasama dengan Balit Sungei Putih. Kerjasama dengan Balit Getas berkaitan dengan investasi tanaman, sedangkan dengan Balit Sungei Putih berkaitan dengan sistem eksploitasi. “Setiap tiga bulan sekali mereka datang untuk mengevaluasi semua kondisi tanaman kita,” tambahnya.

Tak hanya kebun produksi, PTP Nusantara IX juga memiliki kebun bibit pada di setiap kebunnya dengan luas masing-masing sekitar 62 ha. Untuk pembibitan, kebanyakan masih menggunakan OMT, tetapi PTP Nusantara IX juga sudah mengadopsi Tanam Benih Langsung (Tabela) untuk kebun bibitnya. Menurut Harwiyanto, penggunaan okulasi hijau dengan sistem Tabela dapat dikatakan sangat efisien, karena pelaksanaan okulasi sudah dilakukan saat bibit berumur empat bulan. “Untuk menghasilkan bahan tanam hanya butuh satu tahun, sehingga sangat menghemat investasi,” ujarnya. Hingga akhir tahun 2009, jumlah bibit polibeg yang dimiliki PTP Nusantara IX sebanyak 1.411.722 bibit, akan meningkat pada tahun 2010 sebanyak 1.503.345 bibit.

Pengembangan karet tak hanya dilakukan pada kebunnya, kualitas Sumberdaya manusia (SDM) juga mulai ditingkatkan. Menurut Sinta Setyarini, karyawan bagian Corporate Secretary, pengembangan SDM dilakukan dengan menggelar beberapa pelatihan bagi sinder, asisten sinder, dan sinder kebun baru, bekerjasama dengan balai-balai penelitian. “Ini dilakukan sebagai bagian dari peningkatan kompetensi mereka dalam budidaya karet, sehingga mereka memahami secara utuh mengelola kebun karet yang baik. Jika perlakukan kebun kami baik, tentu akan baik pula produksi karetnya,” ujar Sinta.

Ekspor

Raw material karet yang dihasilkan PTP Nusantara IX berupa Ribbed Smoke Sheet (RSS), lateks pekat, dan brown crepe. Sekitar 85% dihasilkan PTP Nusantara IX dalam bentuk RSS yaitu RSS I, II, III, IV, Cut A, dan Cut B. Raw material diolah di pabrik-pabrik milik PTP Nusantara IX yang saat ini berjumlah 11 pabrik. Setiap kebun memiliki satu pabrik pengolahan. Pabrik lateks pekat hanya ada di Kebun Getas, sedangkan pabrik brown crepe di Kebun Balong, Merboh, Getas, dan Batu Jamus.

Pangsa pasar karet perusahaan yang pernah berpusat di Surakarta ini lebih ditujukan untuk pasar ekspor, khususnya RSS. Negara tujuan ekspor RSS diantaranya Singapura, China, Jepang, Ukriana, Korea, dan Rusia. “Kami paling banyak mengekspor sheet ke China,” ujar Sinta. Volume ekspor karet PTP Nusantara IX tahun 2009 mencapai 14 ribu ton dari total produksi sebanyak 26 ribu ton. Produksi itu berasal dari hasil panen di lahan seluas 23.000 ha yang tersebar di beberapa wilayah di Jateng. Menurut Sinta, tahun 2010, produksi ditargetkan naik 10% dari tahun lalu dengan perolehan laba 2010 ditargetkan naik 300%. “Kami optimis penjualan karet akan meningkat karena harga karet mulai merangkak naik ke USD3,17 per kilogram per Juni kemarin,” ungkap Sinta.

BUMN Hijau.

Di kebun-kebun karet PTP Nusantara IX, selain ditanami karet, juga ditanam beberapa jenis pohon seperti Jabon, Albasiah, dan Sengon. “Kami mengadopsi dari PTP Nusantara XII. Pohon-pohon tersebut kami tanam di sepanjang jalan kontrol dan tanah-tanah marjinal yang tidak bisa ditanami karet,” ujar Harwiyanto. Ditambahkannya, pada tahun 2011 diproyeksikan pohon-pohon tersebut akan mencapai 3 juta pohon. Dengan demikian, lima tahun kedepan,pada masa panen kayu-kayu tersebut, termasuk dengan kayu karet,PTP Nusantara IX akan menuju bisnis perkayuan. Saat ini, sebagian besar kayu karet digunakan untuk pengasapan pada pengolahan RSS. PTP Nusantara IX belum mengandalkan kayu karet ke dalam bisnis meubel. “Tapi jika ada sisa kayu, kami juga menjualnya ke pihak ketiga dengan harga sekitar Rp50-60 ribu per pohon,”ungkap Harwiyanto.

Rencana ke depan, PTP Nusantara IX bersama tiga BUMN lainnya yaitu PT. Inhutani II,PTP Nusantara VIII, dan PTP Nusantara XII akan memperluas lahan karet di  Kalimantan seluas 14.600 ha. PT. Inhutani akan berperan sebagai pemilik dan pengelolaan lahan, sedangkan PTP Nusantara sebagai penyedia dana dan manajemen. Nilai investasi yang menjadi bagian PTP Nusantara IX sebesar Rp392,80 miliar. “Rencana ini dilaksanakan secara bertahap dari tahun 2010 hingga sampai 2018. Nilai investasi tahun 2010 sebesar Rp 4,2 miliar. Semoga saja rencana ini bisa terwujud,” harap Sinta. Sinta menambahkan, untuk industri hilir karet, PTP Nusantara IX N9 bersama PTPN penghasil karet lainnya tengah berupaya mewujudkan pembangunan industri ban kendaraan roda dua. “Nilai penyertaan PTP Nusantara IX sebesar 14,63% atau sekitar Rp9,5 miliar dari total investasi  yang sebesar Rp65 miliar,”jelas Sinta.

Selain itu, PTP Nusantara IX bersama tujuh BUMN lain yaitu PTP Nusantara X, PTP Nusantara XI, PTP Nusantara XII, PT. RNI, Perum Jasa Tirta I, PT. Petrokimia Gresik, dan Perum Perhutani bekerjasama mendirikan PT. BUMN Hijau Lestari II. “Tujuannya, ikut andil dalam melestarikan dan menghijaukan bumi kita. Areal yang akan dihijaukan seluas 300 ha dengan nilai investasi sebesar Rp15,5 miliar,”ujar Dwi Santosa. Pada BUMN Hijau ini, PTP Nusantara IX dan PT. Jasa Tirta I menginvestasikan dana paling besar masing-masing sebesar 25,5% atau sekitar Rp3,953 miliar. Sedangkan BUMN lainnya mempunyai porsi yang sama. “Program ini akan dilaksanakan selama lima tahun secara bertahap. Investasi N9 tahun 2010 mencapai Rp1,403 miliar,” tambah Dwi.

Pendirian BUMN Hijau juga digunakan sebagai sharing pengalaman pengelolaan tanaman, karena tanaman yang akan banyak ditanam  adalah karet, selain sengon, jabon, sereh, aren, dan salak. “Karena komoditas utama PTP Nusantara IX adalah karet, jadi bisa digunakan sebagai berbagi pengalaman dalam budidaya karet,” ujar Dwi. Program BUMN Hijau sudah dimulai di Wonogiri, seluas 300 ha. “Selanjutnya akan dikembangkan pada DAS Bengawan Solo dan Brantas. Setelah itu kami berencana mengembangkan melakukan program penghijauan seluas 100 ha. Saat ini kami fokus di ke Wonogiri dahulu,”ujar Dwi.

Selain sharing pengalaman tanaman, juga dilakukan sharing pendapatan dengan masyarakat yang ikut andil. Untuk masyarakat yang mengelola tanaman sereh dan aren, hasilnya akan diserahkan 100% kepada masyarakat. Tidak ada sepeser pun untuk BUMN Hijau. “Sedangkan untuk tanaman kayu-kayuan seperti karet, sengon, jabon, dan  salak, hasilnya dibagi dengan perbandingan 60:40. Artinya, 60% dari total hasil penjualan diserahkan ke BUMN Hijau, sisanya untuk masyarakat,” ungkap Dwi di kantornya siang itu.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Comments
  1. saiful says:

    Wah.. mantab, terus maju PTPN IX….. kami dari astra agro lestari acungi jempo…. sepertinya kami juga perlu menapak tilas BUMN hijau… Tks

    salam hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s