Pola Pemasaran Kopi Lampung Barat, Masih Belum Untungkan Petani

Posted: November 11, 2009 in Market Itu Pasar
biji kopi

biji kopi

Lampung Barat merupakan salah satu kabupaten penghasil kopi yang cukup besar di Provinsi Lampung. Ada dua jenis kopi yang dihasilkan di Lampung Barat, yaitu Kopi Robusta dan Kopi Arabika. Robusta merupakan kopi yang paling banyak dihasilkan di Lampung Barat.



Berdasarkan data Dinas Perkebunan Lampung Barat tahun 2007, lahan untuk tanaman Kopi Robusta sekitar 60.483,7 hektar dengan menghasilkan biji Kopi Robusta sebanyak 38.419,2 ton. Kopi Arabika jarang dipakai petani karena iklim di Lampung Barat kurang bersahabat dengan kopi jenis ini. Tidak bersahabatnya iklim akan mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman kopi tersebut. Kopi Robusta Lampung Barat terkenal dengan nama Kopi Rupe. Rupe merupakan akronim dari Robusta Pepen Supendi. Pepen Supendi merupakan orang yang pertama kali mengenalkan masyarakat Lampung Barat, khususnya di masyarakat Sumberjaya, dengan bibit tanaman Kopi Robusta.

Sebagai kabupaten penghasil kopi yang cukup besar ternyata bertolak belakang dengan pendapatan petani yang tidak besar. Kebanyakan petani kopi Lampung Barat hanya sebagai price taker (penerima harga). Ini disebabkan bergainning position (posisi tawar) mereka masih rendah sehingga keuntungan yang mereka peroleh belum optimal. Posisi tawar yang rendah juga disebabkan pola pemasaran kopi di Lampung Barat masih terdapat rantai pemasaran yang panjang. Ada empat rantai pemasaran yang terjadi.

  1. Petani – Konsumen
  2. Petani – Tengkulak – Pengumpul – Pengumpul Besar – Konsumen
  3. Petani – Pengumpul – Pengumpul Besar – Konsumen
  4. Petani – Pengumpul Besar – Konsumen

Saluran Pertama.

Dalam saluran pertama hanya terjadi interaksi langsung antara petani dengan konsumen. Hal ini dilakukan petani kopi bernama Romi, dia menjual Kopi Robusta di warungnya yang berada di Jalan Simpang Gadis, Kecamatan Sumberjaya. Kopi Robusta tersebut bukan dalam bentuk biji melainkan dalam bentuk bubuk. Kopi bubuk tersebut dikemas dalam plastik sederhana yang sudah diberi brand Cahaya Indah. “Kopi bubuk ini hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sini saja, dan bisa buat oleh-oleh,” ujarnya. Romi menjual kopi bubuknya dengan harga Rp. 10 ribu per 0,25 Kg. Bahan dasar kopi bubuk milik Romi tidak berasal dari biji Kopi Robusta kualitas nomor wahid. Romi membuatnya dari biji Kopi Robusta yang tidak memenuhi syarat ekspor.

Saluran Kedua.

Tengkulak, pengumpul, dan pengumpul besar telah berperan dalam saluran pemasaran kedua. Pengumpul di Lampung Barat dibagi menjadi dua, yaitu pengumpul kecamatan dan pengumpul kabupaten. Untuk pengumpul besar masyarakat sering menyebutnya dengan tokek. Tokek umumnya perusahaan besar eksportir kopi yang berada di Teluk Betung Panjang. Saluran kedua ini merupakan saluran yang sangat tidak menguntungkan bagi petani karena petani akan memperoleh harga yang sangat rendah, jauh dibawah harga pasar.

Tengkulak akan beraksi pada bulan 12, tepat di musim paceklik. Menurut Kosasih, ketua kelompok Bina Wana, kebanyakan petani belum bisa menahan emosi untuk tidak berfoya-foya pada musim panen. “Bisa dilihat jika musim panen tiba, desa yang biasanya sepi bakalan rame dipenuhi kendaraan bermotor,” ungkap Kosasih. “Selesai musim panen biasanya ada di bulan sembilan, dan pada musim paceklik di bulan 12 petani kebanyakan sudah tidak punya uang untuk kebutuhan hidupnya karena uang habis untuk berfoya-foya di musim panen,” kata Kosasih menambahkan. Kondisi inilah segera dimanfaatkan oleh tengkulak. Tengkulak menggunakan sistem ijon dalam transaksinya. Untuk tanaman kopi yang masih berbunga, tengkulak biasanya membeli dengan harga sekitar Rp. 3 – 4 juta. Umumnya jasa tengkulak dipakai oleh petani yang membutuhkan uang cash.

Setelah musim panen kemudian tengkulak menjualnya ke pengumpul. Hati-hati terhadap tengkulak nakal. Ada tengkulak yang membuat kecurangan dengan mencampurkan biji yang masih basah dengan biji yang sudah kering. Pencampuran biji basah dengan biji keing bisa berpengaruh ke penimbangan. Akan bertambah berat tentunya.

Saluran Ketiga.

Musim paceklik dimanfaatkan juga oleh pengumpul di saluran ketiga. Saluran pemasaran ketiga dipakai oleh petani yang tidak membutuhkan uang cash untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Sehingga mereka tidak memakai jasa tengkulak. Petani umumnya memerlukan pupuk untuk tanaman kopinya. Disinilah peran pengumpul dibutuhkan. Kebanyakan pengumpul menawarkan jasa peminjaman pupuk. Untuk memperoleh pinjaman pupuk, petani harus setuju dengan syarat yang telah ditetapkan. Syaratnya, jika musim panen tiba petani harus menjual biji kopinya ke pengumpul yang memberi pinjaman pupuk. Berbeda dengan tengkulak, harga beli pengumpul disesuaikan dengan harga yang sedang berlaku di tingkat pengumpul. “Jumlah pengumpul di Lampung Barat sendiri sudah mencapai ratusan,” ungkap Misnan, salah satu pengumpul di Desa Tribudi Syukur.

Pengumpul lantas tak bisa langsung menjual kopinya ke tokek. Biji yang dijual ke tokek umumnya berkualitas ekspor. Pengumpul pun harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh tokek. Syarat-syarat tersebut diantaranya biji tidak berwarna hitam, biji harus dijemur di terpal atau di lantai, dan kadar air biji harus di bawah 20% dari kandungan air biji. Biji akan berwarna hitam jika terlalu lama di penimbunan. Penjemuran di terpal atau lantai agar aroma kopi tidak hilang, karena jika dijemur di tanah selain aroma kopi akan hilang, juga kopi nantinya akan berasa tanah. Jika demikian tidak akan disukai konsumen luar negeri. Untuk kadar air di bawah 20% untuk mengurangi biji terkena kaptis. Kaptis sejenis jamur atau cendawan yang menyerang biji yang bisa menurunkan kualitas kopi. Biasanya tokek meminta kadar air 13%.

Saluran Keempat.

Saluran pemasaran keempat dirasa lebih menguntungkan petani dibandingkan dengan saluran pemasaran lainnya. Ini terjadi karena tokek langsung membeli biji kopi petani. Petani harus tergabung dalam kelompok tani dan kemudian kelompok tani ini tergabung ke dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB). Ada beberapa perusahaan yang memakai saluran pemasaran ini, diantaranya adalah PT. Indo Cafco dan Nestle. Seperti halnya dengan pengumpul, petani juga harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Syarat PT. Indo Cafco, selain sama dengan syarat yang ditetapkan ke pengumpul, juga kelompok harus memenuhi kuota sebanyak 60 ton per musim. Harga beli berdasarkan harga yang sedang terjadi di tingkat tokek, jadi harga beli setiap hari bisa berubah. Syarat dari Nestle hampir sama dengan PT. Indo Cafco, namun untuk kuota kelompok, Nestle meminta 6 ton per minggu. Sedangkan untuk harga beli, Nestle menerapkan kontrak harga selama 1 minggu, jadi harga beli akan tetap selama 1 minggu. Nestle mempergunakan kopi Lampung untuk bahan salah satu produknya yaitu Nescafe.

Kosasih dan Misnan berharap selain PT. Indo Cafco dan Nestle ada perusahaan lain yang  masuk langsung ke petani. “Diharapkan perusahaan eksportir kopi lainnya bisa masuk ke petani, biar ada persaingan harga,” ujar Kosasih. Kosasih menambahkan, “Petani juga masih belum tahu informasi harga yang terjadi di tingkat tokek, diharapkan pemerintah bisa membantu membuka akses bagi petani untuk mengetahui harga yang sedang terjadi di sana”. Pasar ekspor Kopi Robusta Lampung sendiri sudah merambah ke beberapa negara di dunia seperti Italia, Jerman, Portugal, Rumania, Yunani, Amerika, Afrika Selatan, dan beberapa negara di Asia.

Pengumpul Besar (tokek)

Konsumen

Petani

(1)

(2)

(3)

(4)

Gambar. Pola Pemasaran Kopi di Kabupaten Lampung Barat

Comments
  1. bintoro says:

    wah membaca tulisan di atas saya jadi terharu, karena dari awal memang saya juga sudah punya niat pengen pengusaha kopi yang bisa menembus penjualan langsung ke perusahaan besar, biar orang2 di kampung saya bisa sejahtera

    • Sebuah Catatan Bulanan says:

      Peran Koperasi sangat penting Pak Bintoro. Untuk mewujudkan itu dengan cara memperkuat koperasi. Namun di negeri ini, petani kita masih “rapuh” dengan godaan2 yang akhirnya memperlemah peran koperasi itu sendiri…salam

  2. suwono says:

    benar sekali tuh…harga kopi di lambar sangat jauh dr standar pasar…pemerintah stempat hrs bisa mencarikan solusinya supya petani kopi di lambar bisa lebih sejahtra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s