Harga Tinggi: Antara Remajakan Kebun atau Genjot Produksi

Posted: January 31, 2011 in Coba Beropini

Ningsih, buruh sadap Desa Pulau, Kecamatan Banyuasin, Sumatera Selatan, tampak semangat menyadap lateks di setiap pohon karet milik majikannya. Sudah sedari pagi ia berada di kebun itu. “Saya semangat menyadap kalau harga karet naik seperti sekarang ini, sangat membantu di saat harga-harga barang juga ikut naik,” kata Ningsih. Ditanya soal apakah majikannya akan meremajakan kebunnya, Ningsih menjawab tidak ada indikasi kebun milik majikannya akan diremajakan. “Sepertinya tidak, karena tanaman di sini masih muda, harga tinggi seperti sekarang ini yang penting sadap dan sadap,” ujarnya.

Pernyataan Ningsih diamini oleh Cicilia Nancy, Peneliti Sosial Ekonomi dari Balai Penelitian (Balit) Sembawa, Palembang. Melambungnya harga karet hingga USD 4,2 per kg karet kering (Rp 14 ribu per kg slab dengan kada karet kering 50%) seperti sekarang ini mendorong petani karet untuk terus menggenjot produksi lateks. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, lonjakan harga getah karet dipicu membaiknya ekspor ke sejumlah negara seperti Eropa dan Amerika Serikat terutama membaiknya usaha di bidang otomotif.

Analisa Nancy, harga tinggi akan berimbas terhadap peningkatan pendapatan petani. Seiring meningkatnya pendapatan juga akan mendorong peningkatan konsumsi petani. “Konsumsi petani cenderung meningkat, bisa mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau digunakan meremajakan kebunnya. Namun biasanya petani lebih memilih membeli barang konsumsi di saat harga tinggi. Ini membuat petani menunda meremajakan kebunnya, dan mindset ini harus segera diubah,” ujar Nancy.

Menurut Nancy, kecil kemungkinan bila harga karet tinggi petani kemudian meremajakan kebunnya. “Kecuali bagi petani yang mempunyai tanaman sudah berumur lebih 20 tahun, namun itu juga mereka punya kebun cadangan lain yang dapat digunakan sebagai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Nancy. Nancy menjelaskan ada kasus lain, jika mereka tidak mempunyai kebun cadangan, tetapi mereka mempunyai penghasilan lain, petani akan mengambil keputusan meremajakan kebunnya. “Biasanya mereka menjadi buruh sadap di kebun orang,” tambahnya.

Pendapatan sebagai buruh sadap mengalami peningkatan seiring kenaikan harga karet. Diasumsikan buruh sadap mengelola kebun seluas dua hektar. Dalam seminggu diambil rata-rata memperoleh 100 kg/ha, berarti dalam seminggu buruh dapat menyadap 200 kg lateks. Dengan sharing 40:60 maka buruh sadap memperoleh lateks sebanyak 80 kg. Apabila harga lateks Rp 12 ribu/kg maka buruh sadap akan memperoleh Rp 960 ribu/minggu sehingga dalam satu bulan buruh sadap bisa memperoleh pendapatan Rp 3.840.000. Menurut Nancy, dengan penghasilan dari buruh sadap saja, petani sudah dapat memenuhi kehidupan sehari-hari. “Belum jika suami istri juga bekerja, bisa memperoleh penghasilan dua kali lipatnya,” jelas Nancy.

Oleh karena itu, jika petani sama sekali tidak mempunyai penghasilan lain, mereka akan tetap terus menyadap tak peduli umur tanaman mereka sudah lebih 20 tahun. Karena dengan keputusan meremajakan maka penghasilan mereka akan terputus hingga lima tahun kedepan. Penghasilan lain digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejalan dengan pernyataan Nancy, Jahidin Rosyid peneliti Farming System Balit Sembawa membagi petani menjadi tiga kelompok yaitu petani kecil, menengah, dan besar. Petani kecil mempunyai areal kebun karet kurang dari 2 ha, petani menengah (2-5 ha), dan petani besar (lebih dari 5 ha). Merreka memiliki respons yang berbeda terhadap naiknya harga karet. Petani kecil dengan harga tinggi seperti sekarang ini, akan lebih menggenjot produksi lateksnya ketimbang meremajakan kebun.

Jika mereka mendapat karet 5 kg/hari dengan harga sekarang mencapai Rp1 4 ribu/kg maka mereka mendapatkan Rp 70 ribu/hari dengan kerja hanya tiga jam, maka mereka akan malas meremajakan. “Ini kesempatan mereka untuk menikmati hidup yang lebih baik, maka pendapatan akan dialokasikan untuk konsumsi bahkan cenderung pemborosan,” ujar Jahidin.

Peluang besar meremajakan kebun ada pada kelompok petani menengah dan petani besar. Petani menengah, dengan areal hingga lima hektar yang mereka punya, kemungkinan dua hektar kebun mereka akan diremajakan. “Mereka tak masalah dengan dua hektar kebun yang diremajakan, karena mereka masih mempunyai pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari dari tiga hektar kebunnya,” jelas Jahidin.

Petani besar pun demikian, harga tinggi sebagai kesempatan besar untuk meremajakan kebun. Di samping itu, mereka akan mengalokasikan dana untuk ekspansi lahan. “Harga tinggi membuat petani melakukan ekspansi lahan hingga puluhan hektar. Karena di Sumatera Selatan lahan sudah mulai sempit, mereka biasanya membeli lahan jauh hingga ratusan kilometer .. Mereka biasanya mencari lahan inkonvensional, lahan yang belum pernah ditanam karet,” ungkap Jahidin.

Konsumsi berlebihan di saat harga tinggipun dilakukan Ateng Suryana, petani Desa Pulau. “Karena hal tersebut tidak bisa dihindari, ini kesempatan untuk menikmati hasil jerih payah kami,” ujar Ateng. Namun Ateng sedikit lebih baik, karena dia sudah menyisihkan dana untuk meremajakan kebun dan ekspansi lahan seluas 20 ha.

Biarkan Petani Bergairah. Naiknya harga karet ternyata disambut baik oleh Noerdy Tedjaputra, Direktur Utama PT. Badja Baru, perusahaan crumb rubber di Palembang. Noerdy melihatnya sebagai sinyal positif bagi perkaretan Indonesia. “Harga saat ini terlalu tinggi dan menjadi record-nya tertinggi. Tidak masalah bagi perusahaan kami, malahan ini bagus karena menjadi daya tarik bagi petani karet. Mereka akan menanam dan mereka mampu replanting, kedepan mereka bisa mengembangkan kebunnya,” ujar Noerdy.

Noerdy menambahkan, jika harga tidak seperti sekarang ini mungkin petani akan malas berproduksi. Harga bagus sebagai hikmah yang baik sehingga petani penuh gairah. “Biarkan petani bergairah memproduksi karet, daripada mereka malas tentu akan merepotkan perusahaan kami dalam memenuhi bahan baku,” tambahnya. Namun yang disayangkan Noerdy adalah kenaikan harga tidak diimbangi dengan peningkatan volume karet. “Harga tinggi tapi volume karet yang masuk berkurang jumlahnya, suplai kami ke pabrik ban masih kurang,” ujar Noerdy di kantornya.

Menurut Noerdy, melambungnya harga karet disebabkan karena anomali cuaca yang menerpa dunia. Negara produsen karet, Thailand saat ini sedang dilanda banjir, begitu juga banjir menggenangi perbatasan Malaysia. “Daerah produksi terganggu akibat banjir di kedua negara, sehingga mengganggu suplai karet dunia. Apalagi ekonomi dunia sudah mulai membaik, harga minyak juga naik, dan kebutuhan karet dunia meningkat,” jelas Noerdy.

Kekhawatiran muncul bagi industri hilir karet seperti perusahaan ban. Harga tinggi karet berimbas meningkatnya harga ban di pasaran, dan produsen khawatir ban yang mereka produksi tidak laku terjual ditambah daya beli konsumen yang sedang menurun. Namun Noerdy meyakinkan bahwa produsen dan konsumen tidak perlu khawatir, karena harga tinggi sekarang ini hanya sementara. “Tentu akan ada koreksi pasar, harga tidak akan terus meninggi. Produsen dan konsumen harap bersabar, berikan kesempatan petani untuk menikmati harga tinggi ini,” ujar Noerdy. Noerdy memprediksi, harga tinggi akan bertahan satu hingga dua bulan kedepan. Noerdy mengharapkan di saat harga tinggi petani dapat menyisihkan dana untuk meremajakan kebun, agar volume karet yang dihasilkan bisa meningkat.

Harga tinggi juga disambut baik oleh PT. Sumatera Prima Fibreboard (SPF), perusahaan pengolahan kayu karet di Palembang. John Hendarso selaku Direktur Operasional PT. SPF mengatakan harga tinggi akan meningkatkan kemampuan petani karet dalam meremajakan kebunnya. Apabila peremajaan dapat dilakukan oleh banyak petani, tentu suplai bahan baku kayu karet akan semakin meningkat. “Peremajaan kebun sangat membantu kami dalam suplai bahan baku,” ujarnya.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s