Perum Perhutani I Rangkul Getas Bikin Kebun Baru Karet

Posted: January 31, 2011 in Nikmatnya berbisnis

Perambahan hutan jati oleh masyarakat di wilayah Perum Perhutani Unit I, Jawa Tengah khususnya di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang semakin tidak terbendung. Minimnya lapangan pekerjaan ditenggarai sebagai penyebabnya. Mengkonversi kebun jati menjadi kebun karet dijadikan sebagai salah satu solusi permasalahan. Balai Penelitian (Balit) Getas pun dirangkul untuk andil dalam budidaya kebun tersebut.

“Inti utama kami melakukan konversi dengan tanaman karet adalah tingginya perambahan hutan oleh masyarakat di wilayah KPH Pemalang. Tanaman Jati masih muda sering hilang diambil masyarakat dan kami sudah kewalahan menanganinya. Sehingga kami memutuskan seandainya lahan tersebut ditanami karet, akan menjadi solusi sehingga bermanfaat ke masyarakat,” ungkap Mamat Surahmat, Kepala Administrasi Pengelolaan Sumberdaya Hutan (PSDH) KPH Pemalang. Mamat menambahkan kerjasama ini juga dalam rangka program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) racikan Perum Perhutani, sehingga penanaman karet diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi masyarakat untuk merambah hutan.

Dalam redesain lahan tersebut, total lahan yang akan ditanam karet mencapai 2.342 ha dengan target hingga 2012. Kerjasama yang tertuang dalam kontrak Pengembangan dan Pengelolaan Tanaman Karet Klonal Penghasil Lateks dan Kayu (Latex Timber Clone, LTC) ini sudah dimulai tahun 2008. Luas areal kebun karet ini memakai 10 persen dari total areal KPH Pemalang dengan lokasi di Desa Karanganyar, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Akses menuju lokasi penanaman memang agak sulit, ada dua alternatif menuju ke sana. Pertama, dengan menggunakan mobil, namun jika tidak sedang musim hujan. Karena jika musim hujan tiba, mobil tidak bisa menjangkau karena jalan masih tanah yang akan menjadi lumpur pekat. Alternatif kedua menggunakan perahu motor kecil, berangkat dari Danau Cacaban dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 15 menit menuju lokasi.

Lahan yang sudah ditanam karet hingga akhir 2009 mencapai 399,1 ha dengan perincian tahun 2008 seluas 106,7 ha dan tahun 2009 mencapai 292,4 ha, sedangkan untuk tahun 2010, ditargetkan mencapai 93,7 ha. “Kurang lebih dalam satu hektar terdapat 480 pohon, dan kami menggunakan klon anjuran dari Balit Getas yaitu PB 217,” ujar Mamat. Karena harus mengacu pada Hutan Tanaman Industri (HTI), maka pada lahan tersebut tidak 100 persen untuk tanaman karet. Konsep penanaman di kebun tersebut yaitu setiap enam larik tanaman karet, akan ada tanaman selingan sebanyak tiga larik. Perhutani menggunakan tanaman jati sebagai tanaman selingannya. Sadap perdana kebun ini direncanakan pada tahun 2013. Produktivitas kebun dengan luas 2.342 ha ini diprediksi akan mencapai 1048 kg/ha/tahun, kata Mamat, siang itu di kantornya.

Sebelum penanaman, survei lahan dilakukan bersama Balit Getas untuk melihat kesesuaian lahan tersebut bagi tanaman karet. “Menurut Balit Getas, lahan sangat cocok untuk tanaman karet. Terbukti dengan pertumbuhan karet tahun 2008 menunjukkan hasil yang memuaskan,” ujar Sugianto, penanggung jawab kerjasama ini. Sugianto menambahkan bentuk kerjasama antara Perhutani dengan Balit Getas ini berupa lahan dan pemeliharaan menjadi ranah Perhutani, sedangkan Balit Getas penyedia bibit tanaman karet dan melakukan pengawalan teknologi dari pra panen, pemanenan, dan pasca panen termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Kerjasama ini sangat bermanfaat bagi kami, karena dapat menambah pengetahuan kami akan budidaya tanaman karet,” ujar Mamat.

Dalam kerjasama ini terdapat sharing pendapatan antara Perum Perhutani, Balit Getas, dan masyarakat. Perbandingan sharing kerjasama ini 40:40:20, artinya 40 persen dari hasil penjualan getah merupakan jatah Perhutani dan Balit getas, sedangkan 20 persen untuk masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) binaan Perhutani. LMDH nantinya juga diberdayakan sebagai tenaga penyadap. “Jadi mereka juga akan mendapat penghasilan tambahan dari tenaga penyadapan,” ungkap Mamat.

Penyediaan bahan tanam untuk tahun 2010, Balit Getas sudah menyiapkan sebanyak 103 ribu bibit yang kini sudah mendekam di kebun persemaian seluas empat hektar di Desa Kedung Jati, Kecamatan Waru Reja, Kabupaten Tegal. Dalam perawatannya, Perhutani menempatkan seorang pengawas dan beberapa pekerja. “Saat ini ada 13 pekerja, enam orang sebagai okulator dan tujuh orang bagian perawatan yang kami ambil dari masyarakat sekitar, sehingga tidak hanya di kebun saja masyarakat memperoleh tambahan pendapatan,“ ujar Dedi Hastomo, pengawas kebun persemaian.

Penyiraman rutin dilakukan di kebun persemaian, begitu juga pemupukan dengan pupuk tunggal atau majemuk serta organik. Untuk menghasilkan bahan tanam, bibit di okulasi menggunakan sistem okulasi hijau dengan melakukan okulasi saat bibit batang bawah berumur empat bulan. “Meski okulator baru mengenal tanaman karet, tapi mereka sudah dapat melakukan okulasi,” ujar Dedi. Bibit tahun 2010 sebagian sudah di okulasi, namun menurut Dedi, okulator yang sekarang ada masih kurang. Bibit untuk tanam tahun 2010 sudah masuk waktu okulasi sehingga kebun persemaian membutuhkan beberapa tenaga okulator. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Sugianto akan segera mendatangkan lima okulator dari Balit Getas untuk membantu pengokulasian. Masyarakat Desa Karanganyar sangat antusias terhadap penanaman karet di wilayahnya. Menurut Daryoso, kepala RPH Winong, masyarakat sangat berharap ada tambahan penghasilan dari kebun ini, di samping menanam tanaman palawija.

Ke depan Perhutani akan segera memperbaiki akses jalan menuju kebun tersebut. “Perbaikan jalan untuk mempermudah ketika panen nanti. Karena jika musim hujan, dengan kondisi jalan tanah seperti sekarang ini tidak dapat dilewati, dan kami harus menggunakan perahu dari danau Cacaban untuk menuju lokasi,” ungkap Mamat. Perhutani juga berencana membangun pabrik pengolahan karet. “Dengan luas lahan sekarang ini, kami sudah memenuhi syarat untuk membangun pabrik pengolahan karet. Dan kami sudah ada wacana menuju ke sana,” ungkap Mamat. Selain lateks, kayu karet nantinya juga akan dimanfaatkan dan dimasukan ke dalam pengelolaan industri perkayuan Perhutani.

Kerjasama Perhutani dengan Balit Getas tidak hanya sebatas kerjasama ini saja, pembuatan kebun percobaan untuk Balit Getas seluas 100 ha di wilayah KPH Pemalang pun sedang direncanakan. “Seperti kita ketahui Balit Getas belum memiliki kebun karet sendiri, kami berencana membangun kebun karet seluas 100 ha di wilayah kami untuk Balit Getas. Namun sampai saat ini, kami belum menemukan lahan yang tepat,” ungkap Mamat.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s