Asril Sutan Amir: None Knows, Only God Knows

Posted: February 1, 2011 in Coba Beropini
Tags:

Nada optimis dilontarkan Asril Sutan Amir, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) untuk perkaretan Indonesia sebagai dampak membumbungnya harga karet hingga menyentuh USD 4,2. Asrilpun menggadang perkaretan Indonesia bakal menduduki nomor wahid pada tahun 2020. Berikut petikan wawancara dengan Asril Sutan Amir di kantor Gapkindo, Jalan Cideng Barat, Jakarta Pusat:

Bagaimana perkembangan harga karet di Indonesia 10 tahun terakhir?

Sepuluh tahun yang lalu, negara kita masih kurang tepat dalam menganalisa pasar karet. Banyak yang mengatakan bahwa terjadi over supply dari karet. Namun setelah dikaji ulang tahun 2000, sebenarnya tidak. Kemudian terjadi pertumbuhan cepat di China, India, Asia pasifik. Industri otomotif membutuhkan karet alam. Tahun 2001, diadakan Bali Concord oleh tiga negara Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Kita inginkan remunerasi harga yang patut. Kemudian meningkat harga dari 46 cent sampai USD 1 per kilogram. China mengalami perkembangan luar biasa dengan hampir semua provinsi bisa membuka industri ban, dan hingga saat ini China mempunyai pabrik ban sebanyak 366 unit. Dengan penduduk yang banyak, yang dulunya naik sepeda, kemudian motor lalu mobil akibat pertumbuhan ekonomi yang cepat, sangat menyedot karet, dan sampai sekarang ini harga karet naik hingga USD 4,2.

Harga saat ini menyentuh USD 4,2, menurut Anda?

Harga saat ini sebenarnya membuat pusing pengusaha, karena akan membengkakkan working capital mereka. Selama karet di Indonesia paling tinggi sekarang ini, Perang Korea saja hanya mendongkrak hingga USD 3,2. Paling beruntung saat ini adalah pelaku karet di hulu, khususnya petani. Taruh jika kadar mereka 40 persen, mereka sudah dapat Rp14 ribu. Kalau kadar mereka 100 persen bisa mencapai Rp 35 ribu.

Penyebab kenaikan harga tersebut?

Karena negara-negara di Asia, yang disebut emerging market, saat ini mengalami peningkatan GDP. China dan India mengalami pertumbuhan yang luar biasa, China pada kuartal I mencapai 11 persen, 10,6 persen pada kuartal II, dan kuartal III di atas 9%. Pada tahun 2010 China akan tumbuh 10%, meskipun China mengadakan kenaikan suku bunga, tapi ekonomi tetap menghangat. India naik 8%, tahun ini Indonesia sendiri mencapai 6,5%. Dengan kenikan GDP berarti kemakmuran bertambah yang berkorelasi dengan kenaikan konsumsi karet. Tahun lalu, penjualan mobil di China mencapai 13,6 juta unit, tahun ini diprediksi mencapai 16 juta unit. Di Amerika, tahun lalu mencapai 10 juta, tahun ini bisa mencapai 12 juta unit. Terjadi kenaikan permintaan karet alam luar biasa, setidaknya mencapai 5-6 %.

Penyebab lain, menurut Anda?

Pedagang perantara juga memegang peranan terjadinya kenaikan harga saat ini. Rantai tataniaga karet masih cukup panjang. Dari petani, pengumpul tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai pabrik. Mereka cukup mengganggu suplai karet, karena kalau harga naik mereka malah menyimpan karet, sehingga pabrik pengolahan kosong kekurangan suplai bahan baku. Namun kalau harga turun, mereka mengeluarkan semua karet mereka.

Namun harga tinggi, volume produksi kita rendah?

Ya benar. Hingga 22 Oktober 2010, Indonesia yang mempunyai luas areal 3,445 juta hektar. Itu paling luas dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. Namun dengan luas itu, hanya tersadap 2,7 juta dengan produksi 2,592 juta ton atau hanya 935 kg per hektar. Kenapa? Masih banyaknya kebun kita menggunakan bibit asalan tadi. Ini banyak dilakukan pada kebun rakyat, karena hampir 90% areal merupakan kebun rakyat. Penanaman dengan bibit klonal sudah dilakukan pada perkebunan asing, perkebunan negara, dan perkebunan swasta. Sebagai jalan keluar tentu dengan penyediaan bibit unggul yang banyak dan murah bagi petani.

Perubahan iklim disebut-sebut juga mempengaruhi?

Ya benar. Cuaca juga mempengaruhi produksi. Dimana-mana produksi turun karena tidak bisa sadap. Ini terjadi karena hujan turun dari sore hingga pagi. Lateks yang biasanya disadap dengan kadar 30 persen, sekarang kurang dari itu. Biasanya bisa mencapai 70 liter, sekarang paling dapat 30 liter. Ini karena datangnya la nina, tahun ini la nina itu berjalan membawa hujan di daerah Pasifik Barat yaitu Indonesia, Laos, Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia Utara, dan Papua Nugini.

Perubahan iklim juga sebagai penyebab kenaikan harga?

Ya. Terjadi kontraksi dalam suplai karet, Thailand biasanya 3,2 juta ton per tahun, tahun ini diprediksi hanya menghasilkan tiga juta ton akibat perubahan iklim ini, selain juga sempat terjadi bencana banjir. Di Malaysia pun terjadi banjir di lahan produksi karetnya, sehingga mempengaruhi suplai karet. Ketidakseimbangan suplai demand maka terjadi lonjakan harga.

Prediksi anomali sampai kapan?

None knows, only God knows. Anomali cuaca tidak bisa diprediksi, kita hanya bisa mengikuti. Kita lihat saja seberapa jauh perubahan iklim ini berlangsung.

Prediksi harga USD 4,2 bertahan?

Saya kira sampai akhir tahun harga masih bertahan di atas USD 4.

Anomali cuaca yang tidak bisa diprediksi, ada kemungkinan harga bisa melebihi USD 4,2?

Tidak. Kita tidak bisa men-statement seperti itu. Tapi harga tidak akan di bawah USD 2,5, idealnya USD 2,5-3.

Dengan harga seperti sekarang ini, yang harus dilakukan pelaku karet di hulu?

Make it square. Berapa anda produksi, segitu lah yang anda jual. Jangan menyimpan terlalu banyak yang dapat mengganggu suplai.

Pembatasan harga bisa dilakukan?

Tidak bisa. Let the market do that. Ini semua adanya mekanisme pasar yang menentukan harga. Sebagai pengusaha hilir di saat harga tinggi, mereka harus tahu kapan Break Event Point (BEP) perusahaannya. Kenapa Bridgestone, Michelin, Goodyear, Cooper, dan Toyo tidak pernah komplain tentang harga? Yang terpenting buat mereka adalah ketersediaan bahan baku. Masih “anak-anak” buat pengusaha hilir yang meminta pembatasan harga.

Permintaan Karet Indonesia ke depan?

Ke depan permintaan akan karet terus meningkat. Permintaan luar negeri bakal meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan industri otomotif dunia. Dalam negeri pun demikian, terjadi peningkatan produksi produk berbahan karet. Contohnya, beberapa pabrik ban seperti Goodyear dan Bridgestone berencana memindahkan lokasi pabrik karena memperluas dan meningkatkan kapasitas produksinya.

Konsumen potensial karet Indonesia?

Konsumen karet Indonesia masih datang dari Amerika. Mereka dikatakan sebagai traditional market karena sudah dari dulu menjadi konsumen kita. Pemakaian terbesar karet alam oleh Amerika untuk ban, hampir 90 persen.

Tahun depan harga bagaimana?

Tahun 2011, none knows, only God knows. Kalau kita bisnis di karet, kita tidak bisa berspekulasi. Tapi kita harus berhati-hati. If we want to work in rubber business, you have to prepare 24 hour a day, 7 day a week, 30 days a month, 12 month a year. Tapi tahun depan diperkirakan masih banyak perusahaan yang tidak bisa memenuhi kontrak, jadi suplai karet masih terganggu.

Karet Indonesia ke depan akan seperti apa?

Tidak terlalu gegabah jika Saya berkeyakinan tahun 2020 Indonesia bisa nomor satu di dunia dengan produksi 3,5 juta ton, bahkan kemungkinan bisa lebih cepat.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s