Rainguard, Selamatkan Setiap Tetes Lateks dari Hujan

Posted: February 1, 2011 in Ada Barang Bagus

Hujan menjadi dilema bagi petani karet, di satu sisi, hujan sangat membantu pertumbuhan dan produksi tanaman karet. Sisi lain, hujan bakal menganggu kegiatan panen, hujan datang berhenti lah penyadapan. Apalagi sekarang ini, akibat perubahan iklim, hujan turun tak menentu. Untuk itu, diperlukan teknologi untuk mengatasi terganggunya penyadapan ketika hujan tiba. Rainguard menjadi salah satu solusinya.

Perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) puncak hujan terjadi pada bulan Desember. Hujan jatuh bisa dibagi menjadi tiga yaitu langsung ke permukaan tanah (throughfall), melewati cabang dan batang (stemflow), atau tertahan di tajuk (interception) kemudian hilang melalui evaporasi. Stemflow menjadi kendala peyadapan, namun dengan Rainguard, aliran air hujan akan dibelokkan melalui batang agar tidak masuk ke mangkok sadap dan sekaligus menjaga bidang sadap tetap kering sehingga menurunkan kehilangan lateks karena tercuci hujan yang menyebabkan perolehan lump akan lebih banyak.

Adalah Thomas Wijaya, seorang peneliti dari Balai Penelitian (Balit) Sembawa yang memodifikasi Rainguard. Sebenarnya Rainguard bukan barang baru, namun inovasi Rainguard ciptaan Thomas lebih simpel, mudah dalam penggunaannya, dan murah. “Rainguard yang sudah ada sekarang ini harganya mahal hingga mencapai tiga ribu rupiah per pohon dan tidak tahan lama,” ujar Thomas saat ditemui di Seminar Rainguard yang diadakan di Balit Sembawa, Palembang.

Thomas menambahkan, saat ini belum banyak pekebun yang mengadopsi Rainguard. Menurutnya, ada dua faktor yaitu pekebun belum menyadari kehilangan produksi saat hujan karena “Jam dinas penyadap antara jam enam pagi hingga jam satu siang dan sering hujan datang setelah jam dinas”. Biasanya penyadapan dibatalkan pada jam 9 apabila panel sadap masih basah. Hujan sering terjadi setelahnya saat tidak ada pengawasan. Lateks masih menetes, kehilangan produksi pun terjadi. Pekebun belum menyadarinya,” ujar Thomas. Faktor kedua adalah anggapan hujan sebagai konsekuensi alam, hujan turun ya sudah mau apalagi.

Hujan sudah terbukti menyebabkan kehilangan produksi. Di Bogor, dengan adanya hujan menyebabkan penundaan penyadapan selama satu jam dengan kehilangan produksi sebesar 5 persen dan produksi turun 18 persen jika tertunda hingga tiga jam. Di Malaysia, hujan menyebabkan kehilangan hari sadap mencapai 71 hari/tahun atau kehilangan produksi sebesar 535 kg/ha/tahun. Demikian juga kehilangan cup lump sebesar 50 persen karena tercuci hujan siang hari setelah penyadpan. Thomas mengingatkan bahwa dengan kondisi harga tinggi seperti sekarang ini, pekebun harus mengambil tindakan dengan tujuan membuat seminimal mungkin kehilangan produksi untuk memperoleh keuntungan maksimal.

Saat ini PTPN VII dan PT. Pinago Utama di Sumsel sudah menggunakan Rainguard di kebunnya. Rainguard dari kedua perusahaan tersebut dibuat sendiri. “Kedua perusahaan tersebut sudah sadar akan kehilangan produksinya sehingga dengan kreatif membuat Rainguard buatan sendiri,” ujar Thomas.

Rainguard ala Thomas. Negara produsen Rainguard saat ini datang dari Malaysia dan India. Namun, produk mereka masih enggan digunakan karena harga yang tinggi mencapai Rp3 ribu/unit. “Tentu dengan harga tersebut pekebun akan berpikir dua kali untuk menginvestasikan Rainguard dikebunnya,” ujar Thomas. Untuk itu Balit Sembawa menciptakan Rainguard terbuat dari  bonnet dengan memiliki keunggulan lebih murah dengan kualitas lebih bagus, tahan lama, tidak mengganggu kecepatan penyadap, dan mengurangi gangguan penyakit mouldy rot.

Berdasarkan hasil praktik lapangan yang dilakukan di kebun Balit Sembawa, menunjukkan batang yang tidak dilindungi Rainguard masih tampak basah, sedangkan batang dibawah lindungan Rainguard tampak kering sehingga dapat disadap. Meskipun hujan disertai angin kencang, batang tetap basah namun karena adanya Rainguard bidang yang terlindungi akan cepat kering. Manfaat lain, air hujan yang mengalir  ke dalam mangkok sadap jauh berkurang. Hasil pengukuran volume air pada mangkok sadap pada pohon yang menggunakan Rainguard hanya 20 persen, artinya kehilangan lateks karena pencucian lebih kecil.

Dalam penggunaan Rainguard juga dikombinasi pembeku Deorub K untuk membekukan tetesan lanjut dalam mangkok menjadi cup lump sehingga lateks tidak membubur. Aplikasi Deorub K per mangkok cukup 25 cc larutan dengan konsentrasi 5 persen. “Namun penggunaan Deorub K bisa dihemat dengan melihat cuaca, apabila diperkirakan tidak akan terjadi hujan, maka tidak diperlukan penambahan Deorub K dalam mangkok,” jelas Thomas. Thomas menambahkan, pemakaian Deorub K sangat penting jika pekebun menggunakan stimulan dalam memerah lateks. Karena penyadapan 1 hingga 3 kali setelah aplikasi stimulan, setelah pemungutan lateks pada siang hari, lateks masih tetap akan mengalir. Tetesan lanjut ini sangat riskan terhadap pencucian oleh hujan apabila tidak dibekukan. Biaya per penggunaan Deorub K hanya Rp8.125 untuk 500 pohon.

Harga Rainguard inovasi Balit Sembawa hanya dibanderol Rp1.500/unit yang bisa bertahan hingga empat tahun. Namun harga tersebut,menurut Haji Alwi, salah seorang anggota Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO), dianggap masih terlalu mahal. “Okelah jika yang memakai adalah perkebunan besar atau petani besar, tapi bagi petani kecil masih terlalu mahal buat mereka,” ujar Alwi. Namun menurut Thomas, dengan harga tersebut tidak terlalu memberatkan di saat harga karet sedang melambung seperti sekarang ini. Chairil Anwar, Direktur Utama Pusat Penelitian Karet Indonesia pun angkat bicara,”Harga ini masih hitungan sementara, tentu kami akan menghitung ulang harga khusus bagi petani kecil.”

Analisa Pembiayaan.

Analisa Pembiayaan Rainguard dan Deorub K per Hanca (500 pohon)

Uraian Volume Harga Unit    (Rp) Nilai (Rp) pada Tahun Rata-Rata (Rp)
I II1) III2) IV1)
Rainguard+Lem (Keping) 500 1.500 750.000 75.000 350.000 75.000  
Pemasangan (HOK) 8 40.000 320.000 80.000 320.000 80.000
Deorub K (liter)

(0,625 l/aplikasi, 35 aplikasi/tahun)

21.875 13.000 284.375 284.375 284.375 284.375
Total 1.354.375 439.375 954.375 439.375 796.875

Keterangan =

1)      Tahun II dan IV biaya untuk aplikasi lem supaya tidak bocor

2)      Tahun III, posisi Rainguard dipindahkan sehingga bahan yang diperlukan hanya berupa lem.

Untuk setiap hanca dengan sistem sadap ½ s d/3, maka jumlah hari sadap per tahun adalah 100 hari. Apabila diasumsikan peluang gangguan hujan sebanyak 35 persen atau 35 hari sadap, maka aplikasi Deorub K pada mangkok sebanyak 35 kali. Setiap penggunaan Deorub K diperlukan 0,625 liter sehingga biaya Deorub K selama setahun Rp284.375. Pemasangan Rainguard pada tahun I mengharuskan merogoh kantong lebih dalam sebesar Rp1.345.375. “Namun karena Rainguard dapat dipakai selama empat tahun maka biaya rata-rata menjadi lebih murah,” ujar Thomas.

Rata-rata biaya pemasangan rainguard per tahun hanya Rp796.875 atau setara dengan 29 kg karet kering. Dengan demikian, menurut Thomas, hanya dengan hasil dari satu hingga dua kali penyadapan setiap hanca (dengan asumsi harga karet kering Rp27 ribu/kg), maka pekebun sudah mencapai Break Event Point (BEP). Thomas kembali mengingatkan, apabila potensi gangguan hujan besar, maka jumlah produksi yang dapat diselamatkan jauh lebih besar baik dari jumlah hari sadap maupun kehilangan tetesan lanjut, dengan demikian penggunaan Rainguard secara ekonomis sangat menguntungkan.

Diterbitkan pada Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s