HARGA TINGGI, BIKIN CEMAS INDUSTRI

Posted: June 1, 2011 in Coba Beropini

Fantastis! Akhir Februari lalu, harga karet sempat menyentuh level US$ 6,3 per kilogram, menjadi level tertinggi di sepuluh tahun terakhir ini. Pelaku di sektor hulu merasa diuntungkan dengan adanya kenaikan harga ini, tapi tidak bagi industri barang jadi karet.

Namun harga sudah terkoreksi pada pertengahan Maret. Ini diungkapkan Chairil Anwar, Direktur Pusat Penelitian Karet Indonesia, ”Harga karet alam hingga pertengahan Maret terkoreksi menjadi US$ 4,8 per kilogramnya. Harga karet alam sedang berfluktuasi saat ini. Naik turunnya harga karet tidak bisa diprediksi secara pasti karena dipengaruhi berbagai faktor.” Kenaikan harga terjadi, kata Chairil, karena terganggunya suplai-permintaan karet alam dunia, ditunjang perekonomian dunia juga sedang membaik. Namun ini tidak diimbangi suplai tiga negara produsen karet alam yang cenderung menurun karena faktor alam dan cuaca.“Jadi karet alam saat ini sangat dibutuhkan. Dan harga sekarang ini pasti akan mengganggu pelaku di sektor industri hilir,” kata Chairil.

Harap-harap Cemas

Kenaikan harga utamanya tidak menguntungkan bagi industri yang pangsa pasar produknya untuk dalam negeri. Apalagi ditambah pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen jika produknya diluncurkan ke pasar dalam negeri. Hal ini akan menyebabkan pembengkakan harga jual produk tersebut. “Di saat daya beli masyarakat sedang rendah, kenaikan harga produk akan memaksa produsen harus lebih kreatif, agar produknya bisa terjual. Khususnya buat produsen yang pasarnya di dalam negeri. Bagi industri dengan pangsa pasar ekspor tidak ada masalah,” ujar Asril Sutan Amir, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo).

Jika produsen kesulitan menjual produknya di dalam negeri, Asril menyarankan bisa dengan melirik pasar ekspor yang saat ini tidak dikenakan pajak sepeser pun. “Namun secara umum kenaikan harga saat ini belum terlalu mengganggu produksi mereka. Industri hilir saat ini harus bersabar, biarkan saat ini petani menikmati harga seperti sekarang ini,” jelas Asril.

Namun tak demikian dalam pandangan Azis Pane, Ketua Dewan Karet Indonesia (Dekarindo). Menurutnya kenaikan harga karet alam tak cuma dinikmati petani saja, tapi juga dinikmati ‘toke’ atau pedagang besar pengekspor karet alam. “Petani paling cuma bisa menikmati 30 persen saja, pedagang besar yang paling menikmati kenaikan ini. Industri hilir harus tetap bersabar dan berusaha survive dengan kondisi saat ini,“ ujar Azis. Industri ban, kata Azis, menjadi industri hilir yang paling berkembang di Indonesia. Saat ini, Indonesia lebih banyak melakukan ekspor karet alam. Tahun 2009, produksi karet alam Indonesia sebanyak 2,5 juta ton, 1,9 juta ton diekspor dengan mendatangkan devisa sebesar Rp3,2 miliar.

Untuk investasi di industri karet saat ini belum terganggu secara signifikan. Ini diungkapkan Didik Hadjar Goenadi, Ketua Asosiasi Inventor Indonesia,“Saat ini iklim investasi khususnya di karet masih baik-baik saja meski ada kenaikan harga. Mungkin di hilir akan sedikit terganggu, namun kenaikan harga ini berdampak baik untuk investasi di hulu. Saat ini cenderung terjadi peningkatan investasi di hulu.”

Kenaikan harga ban tidak bisa ditampik mengganggu produksi ban sepeda motor merek Millennium. Lewat direktur utamanya, Yasin, mengatakan modal untuk produksi mengalami kenaikan, yang tentu akan berimbas kenaikan harga ban di pasaran. “Untuk industri ban mobil penumpang, kenaikan harga ban tidak terlalu memusingkan, karena pasar jenis ban ini ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Namun bagi kami, industri ban sepeda motor sangat terganggu dengan adanya kenaikan harga, karena pasar kami kebanyakan menengah ke bawah. Apalagi daya beli masyarakat saat ini sedang rendah,” ujarnya.

Hal sama juga dikeluhkan Ade Tarya, direktur utama PT. Sugih Instrumendo Abadi, perusahaan pembuat tensimeter. Menurutnya, saat harga karet alam menyentuh US$ 3,3 per kilogram, harga tensimeter buatannya dikeluhkan oleh konsumen di luar negeri, apalagi dengan harga saat ini. “Kami akhirnya mencari bahan alternatif untuk menurunkan harga produk kami, yaitu menggunakan PVC untuk selang atau bladdernya,” ujar Ade. Namun penggunaan PVC dikhawatirkan membuat daya saing produknya menjadi lemah. Karena saat ini kualitas PVC Indonesia masih kalah dengan Cina.

Setali tiga uang dikeluhkan juga oleh pengusaha industri kecil berbahan dasar karet. “Kenaikan harga saat ini mengganggu cashflow kami. Saat kami menandatangani kontrak dengan mitra, kami harus memproduksi dengan harga karet alam saat kami kontrak. Namun ditengah jalan terjadi kenaikan harga yang drastis. Mau tidak mau kami harus menjual produk kami dengan harga lama karet alam, karena sudah terikat kontrak. Jadi kerugian menjadi bayang-bayang kami,” ungkap Henny, pengusaha industri kecil dari Bandung. Kenaikan harga yang fluktuatif ini, lanjut Henny, membuat pengusaha lebih cermat dalam menandatangani kontrak dengan mitra kerjanya.

Siti A. Rukmana, produsen dock fender dari Bandung pun tak jauh beda dengan Henny. Siti lebih baik menghentikan sementara kegiatan produksinya. “Kalau saya paksakan berproduksi, sedang output tidak ada, malah rugi besar. Bisa-bisa saya berhenti dan menghilangkan pekerjaan bagi karyawan saya. Lebih baik saya hentikan sementara, produk yang sudah ada lebih baik disimpan hingga nanti situasi sudah kondusif,” ujarnya.

Yasin berharap pemerintah bisa memberikan insentif harga karet bagi industri dalam negeri. Dengan adanya insentif ini, industri tidak perlu membeli karet alam sesuai dengan harga dunia,  sehingga industri dalam negeri dapat sedikit bernafas meskipun terjadi lonjakan harga seperti sekarang ini.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5 Pusat Penelitian Karet Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s