MUHIBAH KE NEGERI SEBERANG, KITA MEMANG HARUS BERLARI

Posted: June 1, 2011 in Coba Beropini

(AGUS SUPRIONO) Produksi karet alam dunia dikuasai Thailand, Indonesia, dan Malaysia yang tak kurang dari 70 persen total produksi dunia. Antar ketiganya selalu terjadi persaingan, namun kerjasama di bidang perkaretan selalu dipertahankan.

Muhibah kali ini yang dilakukan oleh Balai Penelitian Sembawa ke Malaysia dan Thailand tak lain dimaksudkan untuk lebih mempererat kerjasama dan menambah wawasan pengetahuan para peneliti dan staf pendukung lembaga riset di Indonesia. “Kita melakukan kongsi pengalaman,” kata Ir. Khaidir Amipalupy, Kepala Balai Penelitian Sembawa, memakai istilah dalam bahasa melayu.

“Muhibah dimaksudkan untuk berbagi pengalaman dengan rekan-rekan dari negeri sahabat Malaysia dan Thailand. Apa yang bagus dari mereka dapat kita ambil dan yang bagus dari kita juga dapat memberikan inspirasi bagi mereka,” lanjut Khaidir. Hal ini diamini oleh Dr. M. Supriadi, Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Karet, “Kita memang selalu memprogramkan kegiatan yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan para staf peneliti, baik melalui kunjungan seperti ini maupun mengikuti seminar dan konferensi internasional di luar negeri”.

Titik Mula Penyebaran

Perjalanan muhibah ini di mulai di negeri Paman Lee, Singapura. Negeri ini seakan tak punya andil dalam perkaretan dunia, karena memang tak satupun batang pohon karet tampak di sini. Namun bila kita tengok kilas balik di akhir abad 19, maka negeri ini mempunyai peran yang sangat penting. Ketika awal penyebaran tanaman karet di Asia Tenggara, di samping Malaya, Singapura merupakan salah satu titik penting penyebaran tanaman karet ke Sumatera Timur dan Sumatera bagian Selatan. Kita masih ingat dengan “Kew Garden” di Singapura yang menjadi tempat penanaman karet pertama di Asia Tenggara.

Singapura juga penting untuk pengolahan karet asal Indonesia sebelum pemerintah Indonesia  melakukan larangan ekspor ‘raw material’ karet alam bermutu rendah di tahun 1969. Sebelum larangan itu, Singapura tercatat sebagai salah satu eksportir terbesar Crumb Rubber di dunia. Namun setelah suplai bahan baku karet dari Indonesia terputus, industri crumb rubber Singapura terpuruk. Namun pengusaha Singapura tak kehabisan akal, mereka melakukan ekspansi kapital dengan membangun pabrik-pabrik crumb rubber di Sumatera bagian selatan. Hoktong misalnya masih beroperasi di Palembang hingga sekarang.

Kini Singapura menjelma menjadi negeri jasa perdagangan terbesar dan termaju di dunia. Di negeri ini terdapat bursa perdagangan karet dunia. Dari sinilah harga karet dunia terbentuk dan menjadi acuan bagi produsen karet alam. Hutan beton menjulang tinggi memenuhi negeri ini, namun tetap terasa kesejukan karena tanaman penghijauan kota tetap diprioritaskan untuk tumbuh dengan baik.

Belajar Dari Thailand

Memasuki wilayah Thailand Selatan  seakan berada di Sumatera. Di samping banyak terlihat rumah-rumah orang miskin, wilayah yang berawa dan tanah podsolik tampak menghiasi Thailand bagian Selatan. Tampak jelas persamaannya dengan Sumatera adalah kebun karet sepanjang perjalanan menuju Hatyai, Songkla, Thailand Selatan. Namun terlihat juga dengan jelas kebun karet di Thailand memang layak disebut kebun, karena lebih terawat. Pertanaman karet rakyat di Thailand terlihat rapi berjajar dengan besar batang relatif sama. Berbeda dengan kebun karet di Indonesia yang lebih sesuai di sebut ‘jungle rubber’.

Konon, Thailand banyak menggunakan klon unggul hasil pertukaran klon internasional, terutama dari Indonesia. Hasilnya tak mengecewakan. Sejak akhir tahun 80an, Thailand telah menjadi produsen karet alam peringkat pertama di dunia. Yang lebih mengagumkan penggunaan klon unggul atau bahan tanam okulasi di tingkat petani sudah mencapai 95 persen. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya mencapai 55 persen. Demikian pula produktivitas perkebunan karet rakyat Thailand mencapai 1700 kg karet kering/hektar/tahun, sedangkan Indonesia baru 950 kg karet kering/hektar/tahun.

Ekspor karet alam Thailand cukup beragam jenisnya. Dalam lima tahun terakhir ekspor Thailand berupa RSS (34%), TSR (42%) dan Latex  (24%). Sangat mengagumkan, mengingat dua negara produsen lainnya, yaitu Indonesia dan Malaysia, lebih dari 90 persen sudah beralih ke jenis crumb rubber (karet remah). Dua hal dapat kita cermati dari fakta ini. Pertama, pasar RSS ternyata masih ada, terbukti produksi karet alam Thailand dapat terserap habis di pasar dunia. Kedua, ini menarik, petani Thailand mampu menghasilkan lateks yang dapat diolah menjadi RSS dan lateks pekat. Berarti di tingkat petani, produksi yang dihasilkan lebih tinggi mutunya dibandingkan petani Indonesia yang hanya memproduksi slab atau lump bermutu rendah.

Salah satu kunci keberhasilan Thailand membangun perkebunan karetnya adalah adanya ‘pungutan’ ekspor.. Semua hasil pungutan ekspor ini dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan perkaretan Thailand, baik untuk peremajaan, penguatan kelembagaan petani, perbaikan sistem pemasaran melalui lelang sampai penguatan lembaga riset. Indonesia pun sebenarnya pernah menerapkan pungutan ekspor yang disebut dana Cess. Namun salah kaprah penggunaan dana Cess ini membuat pemerintah menghentikan pungutan ini (baca: dinolkan, bukan dicabut). Mungkin sudah saatnya, dengan di motori Dewan Karet Indonesia, kembali digagas penerapan pungutan dana Cess tersebut.Manfaat dana pungutan ekspor tampak nyata di Thailand. Tengok saja peremajaan perkebunan karet rakyat sangat luas diterapkan. Penggunaan klon unggul merata di tingkat petani. Kualitas produk ditingkat petani sangat terjaga. Sistem pemasaran produk petani melalui sistem lelang juga berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada lelang ‘arisan’ atau ‘basa-basi’ seperti yang sering terjadi pada lelang di Indonesia. Yang menarik, sistem lelang pemerintah Thailand dijalankan oleh Lembaga Penelitian Karet Thailand. Walau hanya mampu menjangkau 10 persen dari total produksi Thailand, namun lembaga pelelangan ini telah mendapatkan ‘trust’ dari konsumen terhadap kualitas barang yang dilelang dan kualitas sistem lelang yang dijalankan.

Tampaknya, kini giliran kita yang harus belajar ke Thailand untuk urusan karet alam. Karakteristik perkebunan karetnya pun nyaris sama, yaitu: dominasi perkebunan rakyat. Jadi, cukup pantas dipertanyakan kenapa perkebunan karet rakyat kita tak bisa sebaik perkebunan rakyat Thailand.

Gandrung Kelapa Sawit

Pemandangan yang kontras cukup terasa ketika kita berada di wilayah Malaysia. Di negeri jiran ini, hampir sepanjang perjalanan dipenuhi kebun-kebun kelapa sawit. Ini bisa dimaklumi, karena memang Malaysia sejak tahun 80-an beralih dari perkebunan karet ke kelapa sawit. Konon, Malaysia membongkar 700.000 hektar kebun karet dan menggantinya dengan kelapa sawit.  Situasi ini tergambar pada komposisi usaha yang digeluti FELDA Plantations Sdn Bhd, sebuah perusahaan milik negara Malaysia. Dari keseluruhan luas perkebunan yang dikembangkan, karet hanya punya porsi 10%. Bandingkan dengan kelapa sawit yang mendominasi tak kurang dari 80% dari luas total.

FELDA sendiri merupakan sebuah badan negara yang mempunyai banyak bidang usaha seperti perkebunan, properti dan wisata. Di bidang perkebunan, di samping mempunyai perkebunan sendiri, FELDA juga membina perkebunan rakyat. Mirip dengan konsep inti-plasma di Indonesia.

Lagi-lagi Indonesia tertinggal satu langkah dibanding Malaysia. Negeri jiran ini menyadari sepenuhnya bahwa nilai tambah hanya dapat diraih dengan membangun industri hilir. Produk yang dikembangkan antara lain, ban kendaraan bermotor, sarung tangan, alas kaki dan komponennya. Kuantitas ekspor karet mentah boleh saja kalah dari negara lain, tapi nilai tambah produk karetnya jauh lebih besar. Saat ini, industri hilir karet  Malaysia mampu menjadi salah satu produsen sarung tangan terbesar di dunia.

Adakah Indonesia segera menyadari semua ketertinggalan itu dari negara-negara tetangga ini? Semoga muhibah kali ini bisa menambah pengetahuan dan membuka mata kita bahwa tak ada kata lain selain bekerja keras untuk mengejar kertinggalan kita.

*Penulis adalah Direktur Centre for Agriculture Policy Studies (CAPS)

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5 Pusat Penelitian Karet Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s