PEMERINTAH BERI PERANGSANG KE INVESTOR

Posted: June 1, 2011 in Coba Beropini

Pendanaan menjadi salah satu penyebab belum berkembangnya industri hilir karet di dalam negeri. Pemerintah lalu melirik investor baik dalam maupun luar. Pemberian insentif pun dilakukan untuk merangsang investor agar mau menanamkan modalnya.

Pasokan bahan baku menjadi salah satu aspek penting yang  mempengaruhi keberlangsungan investasi.  Aspek penting lain adalah prospek pasar dari produk yang dihasilkan. Karet alam Indonesia sudah memenuhi kriteria untuk menggaet investor agar menanamkan modalnya. “Sudah banyak yang berinvestasi di karet baik hulu, industri pengolahan, maupun industri hilir,” ujar Didiek Hadjar Goenadi, Staf Khusus di BKPM kepada hevea. Industri pengolahan, lanjut Didiek, lebih banyak berupa industri pengolahan setengah jadi berupa karet remah (crumb rubber), sedangkan untuk industri hilir masih didominasi oleh industri ban, baik ban kendaraan roda empat atau lebih dan roda dua. Di Indonesia, keberadaan Perusahaan Modal Asing (PMA) masih mengungguli Perusahaan Modal Dalam Negeri (PMDN).

Namun saat ini pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memasukkan industri pengolahan crumb rubber ke Daftar Negatif Investasi (DNI). “Karena iklim persaingan industri crumb rubber saat ini terindikasi tidak baik. Suplai bahan baku tidak bisa memenuhi kapasitas pabrik yang ada. Akibatnya muncul persaingan yang tidak sehat. Maka pemerintah memasukkannya ke DNI khususnya pembatasan untuk investor asing,” ujar Didiek. Di Indonesia terdapat lebih 130 pabrik crumb rubber dengan kapasitas mencapai 4 (empat) juta ton.

Masuknya pabrik crumb rubber ke DNI disambut baik oleh Haji Awi, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan,”Adanya kebijakan ini agar bisa terkontrol. Sebenarnya banyaknya yang berinvestasi di crumb rubber sangat baik. Peluang diserapnya karet kita sangat terbuka dan berharap memicu petani bisa meremajakan kebunnya untuk memperbaiki kualitas karet kita. Namun yang terjadi saat ini, pabrik crumb rubber khususnya di Sumatera Selatan terkendala suplai bahan baku. Hal ini memicu pabrik saling berebut bahan baku.”

Baku rebut bahan baku dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas karet yang di suplai ke pabrik. “Apalagi harga karet saat ini sedang baik. Dikhawatirkan petani jadi tidak memperhatikan kualitas karet yang penting bisa menyuplai ke pabrik. Kebun pun dikhawatirkan jadi rusak, karena terus menerus di sadap. Dampak lain, petani jadi tidak ada gairah untuk meremajakan kebun,” tambah Awi.

Saat ini, di Sumatera Selatan terdapat 23 pabrik crumb rubber dengan kapasitas 1.217.488 ton, sedang suplai bahan baku hanya mencapai 842.000 ton.

Selain membatasi investor crumb rubber, kata Didiek, pemerintah juga membatasi suplai karet alam ke pasar dunia. “Hal ini untuk menjaga harga agar tidak turun drastis karena suplai karet berlebih. Meskipun permintaan dunia saat ini sangat tinggi,” ujar Didiek yang juga sebagai ketua Asosiasi Inventor Indonesia.

Dalam konteks produk jadi, kata Didiek, investasi terbesar masih diduduki industri ban mobil. Menurut Didiek, belum berkembangnya industri hilir karet di Indonesia karena karakter dari industri yang berangkat dari pedagang (trader). “Sehingga mereka kurang bisa mengambil resiko yang tinggi, mereka hanya berkutat di quick yielding,” ujar Didiek. Kurangnya dukungan teknologi juga sebagai penyebabnya. “Teknologi sekarang kebanyakan masih impor. Sebenarnya kalau ada dukungan teknologi mestinya ada keyakinan dari mereka untuk menggeluti bidang ini, karena nilai tambahnya ada di situ.” tambah Didiek.

Perangsang Pemerintah

Pemberian insentif pun dilakukan pemerintah sebagai ujud perhatian khusus pemerintah untuk mengembangkan industri hilir karet Indonesia. “Kebijakan ini dilakukan untuk menciptakan iklim investasi yang baik di Indonesia. Pemerintah tawarkan insentif sama kepada PMA atau dalam negeri. Terutama fiskal, termasuk pajak, bebas pajak bahan baku dan mesin-mesin teknologi dari luar. Sementara produk pertanian saja yang di bebaskan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen,” ujar Didiek. Pemerintah, kata Didiek, juga memberikan keringanan pajak (tax holiday) bagi investor yang akan berinvestasi di industri pioner, industri yang membawa teknologi baru, atau industri yang menyangkut pengembangan wi­la­yah terpencil.

Pemerintah juga memberi insentif bagi yang berinvestasi di infrastruktur. “Dalam pembangunan agribisnis yang menjadi domain pertanian hanya 30 persen, sedang sisanya domain di luar pertanian yang menyangkut infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan, pajak, dan lain-lain. Nah tentu pembangunan pertanian tidak hanya tanggung jawab Kementrian Pertanian, sehingga kita lihat untuk membangun kawasan agribisnis itu berbagai sarana prasarana harus dicukupi pemerintah,” ujar Didiek.

“BKPM mengutamakan tiga pilar utama investasi di pangan, energi, dan infrastruktur. Infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan untuk mendukung pangan dan energi. Pemerintah mengeluarkan kebijakan kemitraan swasta dan publik (public private partnership), pemerintah akan menjamin swasta yang berinvestasi di infrastruktur jika mengalami kerugian,” ungkap Didiek.

Faktor non teknis juga perlu diperhatikan untuk menarik investor agar mengembangkan industri hilir dalam negeri. Menurut Agus Wibowo, Kepala Subdirektorat Program, Evaluasi, dan Pelaporan, Direktorat Industri Kimia Hilir Kementrian Perindustrian, faktor non teknis berupa jaminan keamanan dan kepastian hukum dari pemerintah. Agus mengibaratkan kondisi di Indonesia bak pasar tradisional, “Tidak ada jaminan dan kepastian. Saat ini jaminan keamanan kita menurun dibanding sebelum reformasi. Demokrasi yang kebablasan tercermin dari adanya bakar sana sini, kurangnya toleransi antar umat beragama, adanya berbagai kerusuhan dan pemalakan sana sini. Kalau keamanan tidak bisa dijamin, psikologis investor akan terganggu. Akibatnya mereka berpikir ulang untuk menanamkan modalnya,” ujar Agus.

“Investor bukan cuma pedagang yang jika terjadi ancaman keamanan akan langsung kabur. Kalau kabur, mereka akan meninggalkan aset di sini. Mereka butuh aman dan nyaman. Makanya iklim investasi harus kita ciptakan, kita kontrol, dan perlu kita kendalikan. Itu penting, kalau tidak, investasi kita memang sebuah pepesan kosong,”tegas Agus.

Sekarang ini, ungkap Didiek, saat yang sangat baik untuk berinvestasi di Indonesia, karena pemerintah sudah memberikan berbagai fasilitas insentif. “Khususnya industri karet, dengan bahan baku yang sangat melimpah, akan lebih baik kalau industri hilirnya berkembang di dalam negeri sehingga akan memicu investasi di komoditas ini,” harap Didiek.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5 Pusat Penelitian Karet Indonesia

Comments
  1. Suharto Honggokusumo says:

    Investasi pendirian pabrik crumb rubber masuk DNI? Belum 100% negatif. Dalam Perpres No. 36 Tahun 2010 menyebutkan izin akan dipertimbangkan setelah mendapat rekomendasi dari Kementerian Pertanian bahwa ketersediaan bahan baku di daerah investasi masih cukup. Tetapi dalam prakteknya izin prinsip diberikan dahulu, baru mengajukan permohonan rekomendasi> diharapkan Kementerian Pertanian bertindak lugas; jika tidak cukup tolak pendirian tersebut dan diberiak peringatan kepada BKPM agar izin prinsip dicabut.
    Sebagai renungan: data kapasitas terpasang pabrik crumb rubber di Jambi pada 2010 tercatat total 387.000 ton, sedangkan ketersediaan bahan olah karet (Statistik Perkebunan, Ditjen Perkebunan 2008 – 2010) hanya 290.439 ton; namun hingga bulan Mei 2011 sudah bertambah izin prinsip pendirian 2 (dua) pabrik crumb rubber yang kapasitasnya belum dikeyahui. Apakah Kementerian Pertanian telah menerbitkan rekomendasi positif atau negatif? Masih perlu dimintakan penjelasannya, dan bagaimana sikap BKPN agar Perpres No. 36 Tahun 2010 tidak banci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s