Industri Kompor Gas: Sempoyongan Digebuk Impor

Posted: June 8, 2011 in Ada Barang Bagus

Tahun 2006 pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi minyak tanah dengan gas. Peluang pasar pun terbuka bagi industri aksesoris kompor gas, tak terkecuali aksesoris yang berbahan karet alam. Konversi minyak tanah ditandai bantuan pemerintah berupa tabung dan kompor gas satu tungku ke masyarakat. Hingga akhir Agustus 2010 pemerintah telah menyalurkan paket gas sebanyak 46, 366 juta paket ke masyarakat.

Efek kebijakan ini juga berimbas ke masyarakat non bantuan. Mereka pun akan beralih ke gas karena semakin mahalnya harga minyak tanah, lalu kompor gas pun semakin diburu keberadaannya. “Dengan adanya kebijakan ini, prospek karet alam sangat terbuka.  Karet alam bisa ambil bagian di kaki kompor, selang, seal, dan katup tabung,” ujar Fuzy Agus, penasehat Koperasi Pengusaha Industri Kecil Suku Cadang Mesin (Kopisma) Bandung. Menurut Fuzy, 85 persen selang gas masih impor, sisanya diisi oleh lokal. “Untuk kaki kompor sudah pasti dikerjakan industri lokal,” tambahnya.

Jika berbicara standardisasi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), penggunaan karet alam untuk selang tidak diperbolehkan. “Kebanyakan selang gas saat ini terbuat dari Hypalon atau neoprene. Kualitas hypalon lebih baik daripada neoprene. hypalon tahan terhadap asam tinggi dan tahan gesek, harganya pun lebih mahal. Jika menggunakan 100 persen dengan karet alam itu tidak memungkinkan,” ungkap Fuzy. Penggunaan karet alam, tambah Fuzy, kemungkinan ada sebagai pembungkus selang saja. Penggunaan karet alam dikhawatirkan menjadi cepat mengeras dan retak yang bisa menimbulkan kebocoran sehingga membahayakan konsumen. Hal ini terkait dari sifat karet alam itu sendiri.

Menurut Siti A. Rukmana, direktur CV. Tunggal Rubber Industry, kemungkinan karet alam sebagai bahan pembuat selang masih terbuka. Namun karet alam harus diramu dengan bahan kimia lain sedemikian rupa sehingga tidak mudah mengeras dan retak. “Saat ini saya pesimis dengan menggunakan karet alam. Karena karet alam yang beredar di dalam negeri kebanyakan berkualitas rendah, yang tercampur dengan tanah atau bahan lain, sedangkan yang kualitas bagus malah banyak di ekspor. Itulah ketakutan produsen, selang cepat mengeras dan retak. Selang dan seal masih berbahaya jika menggunakan karet alam,” ujarnya

Ditambah kenaikan harga minyak dunia, memunculkan banyak produsen nakal dengan memproduksi selang gas berbahan karet alam. “Karena mengejar keuntungan akhirnya mereka lakukan itu, meskipun tidak masuk spek SNI. Tapi anehnya banyak dari mereka bersertifikat SNI, tidak tahu siapa yang salah. Tidak heran jika banyak kasus kompor mleduk,” ungkap Fuzy. Di pasaran saat ini, harga selang hypalon bisa mencapai Rp15 ribu per meter, biasanya panjang selang untuk kompor gas membutuhkan 1,8 meter.

Digebuk Impor

Data Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), 2008-Juli 2010, kasus ledakan kompor gas tercatat sebanyak 189 kasus. Tahun 2008 terjadi 61 kasus ledakan yang mengakibatkan 27 orang luka-luka dan 19 rumah hancur, tahun 2009 (50 kasus, 12 meninggal dunia, dan 38 luka-luka), sedangkan pertengahan 2010 (78 kasus, 8 orang meninggal, 44 luka-luka). Data Pertamina lebih dahsyat, 2008-2010, kasus ledakan mencapai 270 kasus yang tersebar di Jawa Timur 89 kasus, Jawa Barat (72), dan DKI (35).

“Bayangkan harga tender sekarang menghendaki kompor seharga Rp54 ribu per unit. Untuk selang dipatok Rp6 ribu per meter dan harus memenuhi standar SNI, sedangkan hypalon yang kualitas bagus harganya sudah Rp15 ribu per meter. Ya harga tidak masuk. Kalau harga Rp6 ribu per meter mau dapat kualitas seperti apa? Kompor untuk bangsa kita, dibagikan ke rakyat kita, tapi kualitas jelek, ya akhirnya rakyat yang menanggungnya,” ungkap Fuzy. “Kompor meledak dimana-mana, ya karena kualitas jelek, disamping pengetahuan konsumen yang kurang,” tambahnya.

Dahulu, ketika kompor tender satu tungku masih dengan harga Rp73 ribu per unit, kualitas masih bisa dijamin, tapi sekarang dengan Rp54 ribu, kualitas sangat dipertanyakan. “Menurut saya semua lapar, ingin mendapatkan order. Misal Si A menawarkan Rp60 ribu, sedangkan si B Rp54 ribu, akhirnya pemerintah ambil yang murah. Keluarlah kualitas yang seperti itu. Akhirnya, untuk memperoleh keuntungan, mereka mengimpor dari Cina yang katanya sudah SNI. Tapi menurut saya itu SNI bohongan. Kualitas tidak bagus, tidak sesuai spek SNI. Kalau saya orang SNI, tidak saya loloskan, masa 2-3 bulan selang sudah retak,” ungkap Fuzy.

Saat ini industri lokal kompor gas merasa khawatir dengan serangan kompor gas impor dari Cina. Di satu sisi, industri dalam negeri dituntut kualitas dengan mengikuti standar yang ditetapkan pemerintah, sisi lain pemerintah tampak menutup mata dengan derasnya arus impor. “Kami harus mengikuti standar, tapi dihubungkan harga dengan daya beli masyarakat sedang rendah itu tidak bisa. Saya tidak mengerti kok kompor sekarang ini murah. Dan kalau bicara SNI, itu tidak SNI,”keluh Fuzy.

Fuzy menyesalkan pemerintah terlalu cepat mengambil kebijakan dengan menandatangani China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA). “Menurut saya salah kebijakan pemerintah pada perdagangan bebas terutama perdagangan bebas dengan Cina, terlalu sombong jika kita mengatakan sudah siap menghadapi perdagangan bebas,” ujar Fuzy. Saat ini harga kompor gas satu tungku impor dibanderol dengan harga Rp35 ribu, sedangkan Fuzy masih menjual dengan harga Rp54 ribu.

Kesiapan pemerintah belum teruji ketika banyak kebijakan yang belum berpihak pada industri dalam negeri. “Dari rate suku bunga saja sudah beda, saat ini Cina memberlakukan 3,8 persen per tahun, sedangkan kita hampir 14 persen. Cina juga memberlakukan kebijakan begitu ekspor mereka diberi insentif 1,5 persen dari nilai. Kalau bicara kinerja, Cina bisa dapat 10, kita dapat tiga, sedangkan ratenya dibayar sama. Mau bagaimana kita melawannya?” tanya Fuzy. Fuzy mengklaim sudah banyak rekan-rekannya gulung tikar akibat tidak mampu bersaing dengan kompor gas impor.

Fuzy mengharapkan pemerintah bisa bersinergi dengan industri dalam negeri dengan memberi perlindungan lewat kebijakan-kebijakannya. “Kita butuh perlindungan pemerintah untuk melawan arus yang begitu besar ini. Caranya melalui kebijakan mengontrol barang impor. Selain pemerintah juga masyarakat kita, harus menciptakan budaya cinta produk dalam negeri walaupun sedikit mahal. Saat ini masyarakat kita kurang menghargai dengan produk dalam negeri,” kata Fuzy.

Jika kondisi masih seperti sekarang ini, Fuzy mengkhawatirkan industri dalam negeri akan mati, orang-orang hanya akan berfikir mencari profit dengan menjadi pedagang atau distributor kompor gas. “Dengan kondisi sekarang ini, kalau saya sudah bicara idealis dengan menciptakan kompor gas berkualitas, saya akan kewalahan sendiri. Dan jika tidak sanggup menjalaninya lagi, saya akan tidak lagi kreatif, saya tidak akan lagi menjadi orang manufaktur, saya akan menjadi pedagang dengan mencari profit sebanyak-banyaknya,”ujar Fuzy. “Kami ingin berharap ada perubahan ekonomi yang cepat, bukan hanya gembor-gembor politik saja. Saya khawatir bangsa ini akan jadi penonton jika tidak ada perubahan”, tandas Fuzy.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s