Archive for the ‘Ada Barang Bagus’ Category

Tahun 2006 pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi minyak tanah dengan gas. Peluang pasar pun terbuka bagi industri aksesoris kompor gas, tak terkecuali aksesoris yang berbahan karet alam. Konversi minyak tanah ditandai bantuan pemerintah berupa tabung dan kompor gas satu tungku ke masyarakat. Hingga akhir Agustus 2010 pemerintah telah menyalurkan paket gas sebanyak 46, 366 juta paket ke masyarakat.

Efek kebijakan ini juga berimbas ke masyarakat non bantuan. Mereka pun akan beralih ke gas karena semakin mahalnya harga minyak tanah, lalu kompor gas pun semakin diburu keberadaannya. “Dengan adanya kebijakan ini, prospek karet alam sangat terbuka.  Karet alam bisa ambil bagian di kaki kompor, selang, seal, dan katup tabung,” ujar Fuzy Agus, penasehat Koperasi Pengusaha Industri Kecil Suku Cadang Mesin (Kopisma) Bandung. Menurut Fuzy, 85 persen selang gas masih impor, sisanya diisi oleh lokal. “Untuk kaki kompor sudah pasti dikerjakan industri lokal,” tambahnya.

Jika berbicara standardisasi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), penggunaan karet alam untuk selang tidak diperbolehkan. “Kebanyakan selang gas saat ini terbuat dari Hypalon atau neoprene. Kualitas hypalon lebih baik daripada neoprene. hypalon tahan terhadap asam tinggi dan tahan gesek, harganya pun lebih mahal. Jika menggunakan 100 persen dengan karet alam itu tidak memungkinkan,” ungkap Fuzy. Penggunaan karet alam, tambah Fuzy, kemungkinan ada sebagai pembungkus selang saja. Penggunaan karet alam dikhawatirkan menjadi cepat mengeras dan retak yang bisa menimbulkan kebocoran sehingga membahayakan konsumen. Hal ini terkait dari sifat karet alam itu sendiri.

Menurut Siti A. Rukmana, direktur CV. Tunggal Rubber Industry, kemungkinan karet alam sebagai bahan pembuat selang masih terbuka. Namun karet alam harus diramu dengan bahan kimia lain sedemikian rupa sehingga tidak mudah mengeras dan retak. “Saat ini saya pesimis dengan menggunakan karet alam. Karena karet alam yang beredar di dalam negeri kebanyakan berkualitas rendah, yang tercampur dengan tanah atau bahan lain, sedangkan yang kualitas bagus malah banyak di ekspor. Itulah ketakutan produsen, selang cepat mengeras dan retak. Selang dan seal masih berbahaya jika menggunakan karet alam,” ujarnya

Ditambah kenaikan harga minyak dunia, memunculkan banyak produsen nakal dengan memproduksi selang gas berbahan karet alam. “Karena mengejar keuntungan akhirnya mereka lakukan itu, meskipun tidak masuk spek SNI. Tapi anehnya banyak dari mereka bersertifikat SNI, tidak tahu siapa yang salah. Tidak heran jika banyak kasus kompor mleduk,” ungkap Fuzy. Di pasaran saat ini, harga selang hypalon bisa mencapai Rp15 ribu per meter, biasanya panjang selang untuk kompor gas membutuhkan 1,8 meter.

Digebuk Impor

Data Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), 2008-Juli 2010, kasus ledakan kompor gas tercatat sebanyak 189 kasus. Tahun 2008 terjadi 61 kasus ledakan yang mengakibatkan 27 orang luka-luka dan 19 rumah hancur, tahun 2009 (50 kasus, 12 meninggal dunia, dan 38 luka-luka), sedangkan pertengahan 2010 (78 kasus, 8 orang meninggal, 44 luka-luka). Data Pertamina lebih dahsyat, 2008-2010, kasus ledakan mencapai 270 kasus yang tersebar di Jawa Timur 89 kasus, Jawa Barat (72), dan DKI (35).

“Bayangkan harga tender sekarang menghendaki kompor seharga Rp54 ribu per unit. Untuk selang dipatok Rp6 ribu per meter dan harus memenuhi standar SNI, sedangkan hypalon yang kualitas bagus harganya sudah Rp15 ribu per meter. Ya harga tidak masuk. Kalau harga Rp6 ribu per meter mau dapat kualitas seperti apa? Kompor untuk bangsa kita, dibagikan ke rakyat kita, tapi kualitas jelek, ya akhirnya rakyat yang menanggungnya,” ungkap Fuzy. “Kompor meledak dimana-mana, ya karena kualitas jelek, disamping pengetahuan konsumen yang kurang,” tambahnya.

Dahulu, ketika kompor tender satu tungku masih dengan harga Rp73 ribu per unit, kualitas masih bisa dijamin, tapi sekarang dengan Rp54 ribu, kualitas sangat dipertanyakan. “Menurut saya semua lapar, ingin mendapatkan order. Misal Si A menawarkan Rp60 ribu, sedangkan si B Rp54 ribu, akhirnya pemerintah ambil yang murah. Keluarlah kualitas yang seperti itu. Akhirnya, untuk memperoleh keuntungan, mereka mengimpor dari Cina yang katanya sudah SNI. Tapi menurut saya itu SNI bohongan. Kualitas tidak bagus, tidak sesuai spek SNI. Kalau saya orang SNI, tidak saya loloskan, masa 2-3 bulan selang sudah retak,” ungkap Fuzy.

Saat ini industri lokal kompor gas merasa khawatir dengan serangan kompor gas impor dari Cina. Di satu sisi, industri dalam negeri dituntut kualitas dengan mengikuti standar yang ditetapkan pemerintah, sisi lain pemerintah tampak menutup mata dengan derasnya arus impor. “Kami harus mengikuti standar, tapi dihubungkan harga dengan daya beli masyarakat sedang rendah itu tidak bisa. Saya tidak mengerti kok kompor sekarang ini murah. Dan kalau bicara SNI, itu tidak SNI,”keluh Fuzy.

Fuzy menyesalkan pemerintah terlalu cepat mengambil kebijakan dengan menandatangani China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA). “Menurut saya salah kebijakan pemerintah pada perdagangan bebas terutama perdagangan bebas dengan Cina, terlalu sombong jika kita mengatakan sudah siap menghadapi perdagangan bebas,” ujar Fuzy. Saat ini harga kompor gas satu tungku impor dibanderol dengan harga Rp35 ribu, sedangkan Fuzy masih menjual dengan harga Rp54 ribu.

Kesiapan pemerintah belum teruji ketika banyak kebijakan yang belum berpihak pada industri dalam negeri. “Dari rate suku bunga saja sudah beda, saat ini Cina memberlakukan 3,8 persen per tahun, sedangkan kita hampir 14 persen. Cina juga memberlakukan kebijakan begitu ekspor mereka diberi insentif 1,5 persen dari nilai. Kalau bicara kinerja, Cina bisa dapat 10, kita dapat tiga, sedangkan ratenya dibayar sama. Mau bagaimana kita melawannya?” tanya Fuzy. Fuzy mengklaim sudah banyak rekan-rekannya gulung tikar akibat tidak mampu bersaing dengan kompor gas impor.

Fuzy mengharapkan pemerintah bisa bersinergi dengan industri dalam negeri dengan memberi perlindungan lewat kebijakan-kebijakannya. “Kita butuh perlindungan pemerintah untuk melawan arus yang begitu besar ini. Caranya melalui kebijakan mengontrol barang impor. Selain pemerintah juga masyarakat kita, harus menciptakan budaya cinta produk dalam negeri walaupun sedikit mahal. Saat ini masyarakat kita kurang menghargai dengan produk dalam negeri,” kata Fuzy.

Jika kondisi masih seperti sekarang ini, Fuzy mengkhawatirkan industri dalam negeri akan mati, orang-orang hanya akan berfikir mencari profit dengan menjadi pedagang atau distributor kompor gas. “Dengan kondisi sekarang ini, kalau saya sudah bicara idealis dengan menciptakan kompor gas berkualitas, saya akan kewalahan sendiri. Dan jika tidak sanggup menjalaninya lagi, saya akan tidak lagi kreatif, saya tidak akan lagi menjadi orang manufaktur, saya akan menjadi pedagang dengan mencari profit sebanyak-banyaknya,”ujar Fuzy. “Kami ingin berharap ada perubahan ekonomi yang cepat, bukan hanya gembor-gembor politik saja. Saya khawatir bangsa ini akan jadi penonton jika tidak ada perubahan”, tandas Fuzy.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Advertisements

Gutta Percha dan Hevea Brasiliensis (karet) merupakan pohon penghasil getah lateks. Secara kimiawi, lateks Gutta Percha dan tanaman karet sama-sama memiliki kandungan Isoprena dan Caoretchina. Karenanya, pada saat Perang Dunia II terjadi, Gutta Percha pernah dipakai saat ketika stok suplai lateks dari tanaman karet sedang kosong.

Sejak perkebunan Gutta Percha di Brazil dikonversi dengan tanaman lain, keberadaan Gutta Percha sekarang ini hanya di Indonesia, dikelola oleh PT. Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII) tepatnya di Perkebunan Sukamaju, termasuk dalam Unit Bisnis Wilayah I PTPN VIII.  “Di Indonesia cuma ada di PTPN VIII, khususnya di Perkebunan Sukamaju,” ujar Tedi Tarunawijaya, Administratur Perkebunan Sukamaju. Perkebunan Sukamaju berada di Kabupaten Sukabumi mengelola areal konsesi seluas 7.379,63 ha, terbagi atas enam afdeling tersebut  meliputi wilayah Cibadak, Cikidang, Bojong Genteng, Parungkuda, dan Kalapanunggal.

Perkebunan Sukamaju mengelola dua tanaman yang dibudidayakan yaitu Gutta Percha dan Kelapa Sawit. Luas areal penanaman Gutta Percha di perkebunan tersebut 282,88 ha, berlokasi di Afdeling III Cipetir. Gutta Percha diperbanyak melalui biji yang diperoleh dari kebun biji khusus di Perkebunan Sukamaju. Tanaman sumber biji itu sendiri ditanam tahun 1885. Tanaman dengan tinggi yang bisa mencapai 30 m dan diameter 0,5 m ini menghasilkan Gutta putih, yakni getah yang diperoleh dari daun. Makin tua umur daun, makin tinggi kadar Guttanya. Dulu, bahan baku Gutta Percha diperoleh dari pohon Gutta Percha di hutan-hutan Sumatera, Riau, Bangka, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia.

Untuk menghasilkan 13 kg Gutta putih dibutuhkan satu ton daun Gutta Percha. Tahun 2009, produksi Gutta Percha PTPN VIII hanya 585 kg Gutta putih. Untuk mengolah daun Gutta Percha menjadi Gutta putih, PTPN VIII memiliki pabrik pengolahannya sendiri, namun pabrik ini hanya beraktivitas jika ada pesanan saja. Pabrik Gutta Percha milik perusahaan perkebunan yang kantor pusatnya berada di Bandung ini bisa dikatakan sebagai pabrik pengolahan Gutta Percha satu-satunya di dunia. “Gutta Percha menjadi identitas tanaman dan menjadi ciri khas PTPN VIII,” ujar Tedi.

Pangsa pasar Gutta Percha PTPN VIII lebih ditujukan ke pasar ekspor. Permintaan datang dari berbagai negara seperti Belanda, Inggris, Jerman, Amerika, Kanada, Hongkong, Australia, Italia, Perancis, dan Irlandia. Pengembangan penggunaan Gutta Percha sudah semakin banyak, Awalnya, Gutta Percha hanya digunakan sebagai insulasi kabel bawah laut. Kini, Gutta Percha digunakan untuk keperluan medis, sebagai pengganti bagian organ manusia, perawatan gigi, dan pembuatan gigi tiruan. Tak hanya itu, Gutta Percha juga digunakan untuk pelapis luar bola golf. Disamping itu, kayu Gutta Percha pun memiliki nilai ekonomis sebagai perabotan/mebel karena memiliki pola-pola yang menarik.

Masuknya Gutta Percha Ke Indonesia. Gutta Percha diperkenalkan pertama kali di Eropa oleh William Montgomery, tahun 1843. Gutta Percha baru memasuki pasaran dunia sekitar tahun 1856 setelah diketahui memiliki sifat-sifat yang cocok sebagai bahan insulasi kabel dasar laut. Pada suhu biasa, Gutta Percha merupakan benda keras, sedikit sekali merentang. Namun ketika dipanaskan pada suhu 650C, material yang diperoleh dari pohon Palagulum Oblongifolium Burck ini menjadi lunak dan dapat dikepal-kepal tangan untuk membentuk apapun.

Tahun 1856 hingga 1896, penggunaan Gutta Percha di dunia untuk insulasi kabel dasar laut sudah mencapai 16.000 ton yang direntangkan sepanjang 184.000 mil laut di sekitar pantai Benua Amerika, Eropa, Asia, Australia, pantai timur dan barat Afrika, dan sepanjang antar samudera. Sekitar tahun 1885, D.E.I. Government melakukan penelitian di Perkebunan Cipetir, saat Afdeling III Perkebunan Sukamaju dengan menanam beberapa varietas pohon Gutta Percha yang kemudian diseleksi.

Sekitar tahun 1901, karena peningkatan kebutuhan akan Gutta Percha, dan dinilai pengalaman yang cukup pada penanaman percobaan sebelumnya, maka Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan untuk membangun Perkebunan Negara Gutta Percha Cipetir dengan menanam tanaman produksi Gutta Percha. Tahun 1901 hingga tahun 1906, terjadi penambahan seluas 1000 ha, yang kemudian pada tahun 1919 penanaman Gutta Percha diperluas lagi 250 ha. Total area Gutta Percha di Perkebunan Cipetir saat itu menjadi sekitar 1.322 ha.

Tahun 1914, Perkebunan Cipetir masuk ke dalam Lands Caoutchouch Bedrijf (LCB), perusahaan perkebunan negara milik Belanda. Masih pada tahun yang sama, Pemerintah Belanda kemudian membangun pabrik Gutta Percha atas prakarsa Tromp de Haas. Namun selama tujuh tahun, pembangunan pabrik ini sempat terbengkalai. Pada tahun 1921, pabrik Gutta Percha dapat diselesaikan oleh H. Van Lennep, yang saat itu menjabat sebagai Administratur Perkebunan Cipetir.

Untuk membuat Gutta Percha dibutuhkan daun dan ranting kecil dari pohon Gutta Percha. Penggilingan daun dan ranting, membutuhkan dibutuhkan dua batu bulat besar menyerupai ban dengan berat masing-masing sekitar empat ton. Batu ini adalah batu granit yang didatangkan dari Italia. Saat ini, terdapat delapan batu yang tersimpan di pabrik Cipetir. Dari delapan batu tersebut, hanya empat batu saja yang masih berfungsi. “Tanpa bantuan batu ini, Gutta Percha tidak bisa diproses,” kata Tedi.

Ada cerita menarik ketika batu ini pertama kali dikirim ke pabrik Cipetir. Dari delapan batu, sebanyak tujuh batu dapat dibawa mudah dan lancar ke pabrik dengan menggunakan pedati yang ditarik oleh kuda. Namun untuk membawa satu batu terakhir dibutuhkan waktu lama. Penyebabnya adalah kuda yang mengangkut batu ini tidak mau jalan jika tidak ditarikan tarian Ronggeng, tarian daerah Jawa Barat. Ketika tarian Ronggeng dimulai, kuda pun akhirnya jalan. Tapi kalau tari Ronggeng berhenti, kuda juga akan berhenti. “Karena itu, batu terakhir ini sering disebut dengan Si Ronggeng,” ujar Tedi.

Gaet Balit Getas. Data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2007 menunjukkan permintaan Gutta Percha trennya terus meningkat. “Awal tahun 2008, harga Gutta Percha mencapai Rp1,5 juta/kg. Harga tersebut tentu sangat menarik untuk mengembangkan Gutta Percha,” ungkap Akhmad Rauf, peneliti dari Balai Penelitian (Balit) Getas. Rauf menambahkan kondisi tersebut belum dapat dimanfaatkan PTPN VIII karena kebutuhan bahan baku yang terbatas. “Kondisi ekstrem terjadi pada tahun 2007, ketika permintaan Gutta Percha mencapai 2.160 kg, namun PTPN VIII hanya mampu memproduksi 108 kg saja,” tambah Rauf.

Karena itu berbagai upaya dilakukan PTPN VIII dalam melestarikan tanaman ini yaitu melalui program pemadatan populasi di areal yang sekarang ini. PTPN VIII juga akan menggaet Balai Penelitian Getas mulai penerapan teknologi budidaya sampai manajemen panen.  “Saat ini PTPN VIII sangat kekurangan bahan baku.Dengan adanya kerjasama ini menjadi langkah awal dalam pengembangan bisnis Gutta Percha PTPN VIII,” ujar Rauf. Tedi menambahkan, harapan Gutta Percha sebagai tanaman kebanggaan Indonesia, khususnya bagi wilayah Kabupaten Sukabumi. Bukan tidak mungkin Perkebunan Cipetir dapat dijadikan sebagai kebun wisata ilmiah di masa yang akan datang.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Hujan menjadi dilema bagi petani karet, di satu sisi, hujan sangat membantu pertumbuhan dan produksi tanaman karet. Sisi lain, hujan bakal menganggu kegiatan panen, hujan datang berhenti lah penyadapan. Apalagi sekarang ini, akibat perubahan iklim, hujan turun tak menentu. Untuk itu, diperlukan teknologi untuk mengatasi terganggunya penyadapan ketika hujan tiba. Rainguard menjadi salah satu solusinya.

Perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) puncak hujan terjadi pada bulan Desember. Hujan jatuh bisa dibagi menjadi tiga yaitu langsung ke permukaan tanah (throughfall), melewati cabang dan batang (stemflow), atau tertahan di tajuk (interception) kemudian hilang melalui evaporasi. Stemflow menjadi kendala peyadapan, namun dengan Rainguard, aliran air hujan akan dibelokkan melalui batang agar tidak masuk ke mangkok sadap dan sekaligus menjaga bidang sadap tetap kering sehingga menurunkan kehilangan lateks karena tercuci hujan yang menyebabkan perolehan lump akan lebih banyak.

Adalah Thomas Wijaya, seorang peneliti dari Balai Penelitian (Balit) Sembawa yang memodifikasi Rainguard. Sebenarnya Rainguard bukan barang baru, namun inovasi Rainguard ciptaan Thomas lebih simpel, mudah dalam penggunaannya, dan murah. “Rainguard yang sudah ada sekarang ini harganya mahal hingga mencapai tiga ribu rupiah per pohon dan tidak tahan lama,” ujar Thomas saat ditemui di Seminar Rainguard yang diadakan di Balit Sembawa, Palembang.

Thomas menambahkan, saat ini belum banyak pekebun yang mengadopsi Rainguard. Menurutnya, ada dua faktor yaitu pekebun belum menyadari kehilangan produksi saat hujan karena “Jam dinas penyadap antara jam enam pagi hingga jam satu siang dan sering hujan datang setelah jam dinas”. Biasanya penyadapan dibatalkan pada jam 9 apabila panel sadap masih basah. Hujan sering terjadi setelahnya saat tidak ada pengawasan. Lateks masih menetes, kehilangan produksi pun terjadi. Pekebun belum menyadarinya,” ujar Thomas. Faktor kedua adalah anggapan hujan sebagai konsekuensi alam, hujan turun ya sudah mau apalagi.

Hujan sudah terbukti menyebabkan kehilangan produksi. Di Bogor, dengan adanya hujan menyebabkan penundaan penyadapan selama satu jam dengan kehilangan produksi sebesar 5 persen dan produksi turun 18 persen jika tertunda hingga tiga jam. Di Malaysia, hujan menyebabkan kehilangan hari sadap mencapai 71 hari/tahun atau kehilangan produksi sebesar 535 kg/ha/tahun. Demikian juga kehilangan cup lump sebesar 50 persen karena tercuci hujan siang hari setelah penyadpan. Thomas mengingatkan bahwa dengan kondisi harga tinggi seperti sekarang ini, pekebun harus mengambil tindakan dengan tujuan membuat seminimal mungkin kehilangan produksi untuk memperoleh keuntungan maksimal.

Saat ini PTPN VII dan PT. Pinago Utama di Sumsel sudah menggunakan Rainguard di kebunnya. Rainguard dari kedua perusahaan tersebut dibuat sendiri. “Kedua perusahaan tersebut sudah sadar akan kehilangan produksinya sehingga dengan kreatif membuat Rainguard buatan sendiri,” ujar Thomas.

Rainguard ala Thomas. Negara produsen Rainguard saat ini datang dari Malaysia dan India. Namun, produk mereka masih enggan digunakan karena harga yang tinggi mencapai Rp3 ribu/unit. “Tentu dengan harga tersebut pekebun akan berpikir dua kali untuk menginvestasikan Rainguard dikebunnya,” ujar Thomas. Untuk itu Balit Sembawa menciptakan Rainguard terbuat dari  bonnet dengan memiliki keunggulan lebih murah dengan kualitas lebih bagus, tahan lama, tidak mengganggu kecepatan penyadap, dan mengurangi gangguan penyakit mouldy rot.

Berdasarkan hasil praktik lapangan yang dilakukan di kebun Balit Sembawa, menunjukkan batang yang tidak dilindungi Rainguard masih tampak basah, sedangkan batang dibawah lindungan Rainguard tampak kering sehingga dapat disadap. Meskipun hujan disertai angin kencang, batang tetap basah namun karena adanya Rainguard bidang yang terlindungi akan cepat kering. Manfaat lain, air hujan yang mengalir  ke dalam mangkok sadap jauh berkurang. Hasil pengukuran volume air pada mangkok sadap pada pohon yang menggunakan Rainguard hanya 20 persen, artinya kehilangan lateks karena pencucian lebih kecil.

Dalam penggunaan Rainguard juga dikombinasi pembeku Deorub K untuk membekukan tetesan lanjut dalam mangkok menjadi cup lump sehingga lateks tidak membubur. Aplikasi Deorub K per mangkok cukup 25 cc larutan dengan konsentrasi 5 persen. “Namun penggunaan Deorub K bisa dihemat dengan melihat cuaca, apabila diperkirakan tidak akan terjadi hujan, maka tidak diperlukan penambahan Deorub K dalam mangkok,” jelas Thomas. Thomas menambahkan, pemakaian Deorub K sangat penting jika pekebun menggunakan stimulan dalam memerah lateks. Karena penyadapan 1 hingga 3 kali setelah aplikasi stimulan, setelah pemungutan lateks pada siang hari, lateks masih tetap akan mengalir. Tetesan lanjut ini sangat riskan terhadap pencucian oleh hujan apabila tidak dibekukan. Biaya per penggunaan Deorub K hanya Rp8.125 untuk 500 pohon.

Harga Rainguard inovasi Balit Sembawa hanya dibanderol Rp1.500/unit yang bisa bertahan hingga empat tahun. Namun harga tersebut,menurut Haji Alwi, salah seorang anggota Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO), dianggap masih terlalu mahal. “Okelah jika yang memakai adalah perkebunan besar atau petani besar, tapi bagi petani kecil masih terlalu mahal buat mereka,” ujar Alwi. Namun menurut Thomas, dengan harga tersebut tidak terlalu memberatkan di saat harga karet sedang melambung seperti sekarang ini. Chairil Anwar, Direktur Utama Pusat Penelitian Karet Indonesia pun angkat bicara,”Harga ini masih hitungan sementara, tentu kami akan menghitung ulang harga khusus bagi petani kecil.”

Analisa Pembiayaan.

Analisa Pembiayaan Rainguard dan Deorub K per Hanca (500 pohon)

Uraian Volume Harga Unit    (Rp) Nilai (Rp) pada Tahun Rata-Rata (Rp)
I II1) III2) IV1)
Rainguard+Lem (Keping) 500 1.500 750.000 75.000 350.000 75.000  
Pemasangan (HOK) 8 40.000 320.000 80.000 320.000 80.000
Deorub K (liter)

(0,625 l/aplikasi, 35 aplikasi/tahun)

21.875 13.000 284.375 284.375 284.375 284.375
Total 1.354.375 439.375 954.375 439.375 796.875

Keterangan =

1)      Tahun II dan IV biaya untuk aplikasi lem supaya tidak bocor

2)      Tahun III, posisi Rainguard dipindahkan sehingga bahan yang diperlukan hanya berupa lem.

Untuk setiap hanca dengan sistem sadap ½ s d/3, maka jumlah hari sadap per tahun adalah 100 hari. Apabila diasumsikan peluang gangguan hujan sebanyak 35 persen atau 35 hari sadap, maka aplikasi Deorub K pada mangkok sebanyak 35 kali. Setiap penggunaan Deorub K diperlukan 0,625 liter sehingga biaya Deorub K selama setahun Rp284.375. Pemasangan Rainguard pada tahun I mengharuskan merogoh kantong lebih dalam sebesar Rp1.345.375. “Namun karena Rainguard dapat dipakai selama empat tahun maka biaya rata-rata menjadi lebih murah,” ujar Thomas.

Rata-rata biaya pemasangan rainguard per tahun hanya Rp796.875 atau setara dengan 29 kg karet kering. Dengan demikian, menurut Thomas, hanya dengan hasil dari satu hingga dua kali penyadapan setiap hanca (dengan asumsi harga karet kering Rp27 ribu/kg), maka pekebun sudah mencapai Break Event Point (BEP). Thomas kembali mengingatkan, apabila potensi gangguan hujan besar, maka jumlah produksi yang dapat diselamatkan jauh lebih besar baik dari jumlah hari sadap maupun kehilangan tetesan lanjut, dengan demikian penggunaan Rainguard secara ekonomis sangat menguntungkan.

Diterbitkan pada Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Banyak petani karet mengeluh tidak bisa mendapatkan informasi harga yang sedang terjadi. Hal ini kemudian berimbas pada  rendahnya posisi tawar petani terhadap pembeli. Tak ayal, petani hanya pasrah saat karetnya dibeli dengan harga rendah. Namun persoalan itu tampaknya dapat segera teratasi. Balai Penelitian (Balit) Sembawa membuat terobosan dengan membuat fasilitas Short Message Service (SMS) informasi harga karet terkini.

Untuk menyediakan pedoman dan acuan harga bahan olah karet (bokar) tersebut, Balit Sembawa memberikan layanan informasi harga karet harian dengan memanfaatkan fasilitas teknologi informasi terkini yaitu layanan SMS melalui telepon genggam. Sinung Hendratno, salah seorang peneliti Sosial Ekonomi Balit Sembawa menjelaskan bahwa layanan informasi harga melalui SMS digunakan karena memberikan jaminan pelayanan yang mudah dijangkau dan diakses oleh para pengguna. “Untuk mengakses informasi harga tersebut caranya sangat mudah, yaitu hanya mengetik: KARET HARGA, kemudian dikirimkan ke nomor: 9779,” ujar Sinung. Sinung menambahkan, sebagai jawaban bagi pengguna, informasi harga akan diterima kembali dalam teks SMS. Jika pengguna melakukan akses pada tanggal 3 September 2010 misalnya, jawaban SMS sebagai berikut: ”Balai Penelitian Sembawa: Prakiraan Harga Karet Kering 100% di Palembang 03/09/2010: Rp26.800-Rp27.300/Kg”

Sebagai catatan, yang dimaksud sebagai prakiraan harga karet kering 100 % di Palembang adalah prakiraan harga untuk bahan olah karet pada kondisi 100 % kadar karet kering di pintu pabrik karet remah di Palembang. Informasi harga karet tersebut akan diupdate setiap hari pada pukul 09.00 WIB.

Seperti kita ketahui, karet menjadi salah satu komoditas utama perkebunan dan menjadi andalan sumber devisa negara serta sumber pendapatan bagi dua juta keluarga petani. Di Provinsi Sumatera Selatan saja misalnya, terdapat sekitar 500 ribu petani dan pedagang serta lembaga pemasaran yang berkepentingan dengan karet, yang berdomisili di berbagai pelosok pedesaan.

Sampai saat ini informasi mengenai harga karet hampir tidak dipunyai oleh para pelaku pemasaran khususnya petani. Informasi mengenai harga karet di lapangan tidak bebas diakses, kurang transparan, dan asimetri. Hanya sedikit saja dari petani yang mengetahui informasi harga sebelum mereka menjual karetnya di “kalangan atau pasar karet”, itu pun diperoleh secara sepihak dari para pedagang karet dan lembaga pemasaran vertikal lainnya, yang notabene adalah calon pembeli karet petani. Para pedagang karet dan lembaga pemasaran vertikal lebih menguasai perkembangan harga dan bertindak sebagai penentu harga (price maker), sementara petani karet seringkali hanya berfungsi sebagai penerima harga (price taker). Kondisi ini harus segera diperbaiki.

Pedoman atau acuan harga karet yang diperlukan adalah yang dapat tersedia setiap saat dan dapat diakses secara bebas oleh para pelaku pasar terutama petani yang berdomisili di pelosok pedesaan sehingga informasi harga menjadi lebih transparan dan simetri. Pedoman atau acuan harga karet juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pelaku pasar bahan olah karet dalam upaya memperbaiki sistem pemasaran dan pendapatannya.

Masih untuk Palembang. Pada tahap awal, penyediaan layanan harga karet harian melalui SMS masih ditujukan untuk wilayah pasar Palembang (Sumatera Selatan), dengan sasaran utama pengguna layanan adalah para pelaku pasar perkaretan khususnya petani, pedagang karet, dan pengelola pasar lelang dan kemitraan karet. Dalam penyediaan layanan ini, Balit Sembawa bekerja sama dengan tiga operator komunikasi GSM terbesar di Indonesia, yaitu Telkomsel, Indosat, dan Pro XL.

Oleh karena itu, layanan ini hanya bisa diakses bagi pengguna yang menggunakan jasa ketiga operator tersebut. ”Layanan info harga karet lewat SMS ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para pelaku pasar yang menginginkan adanya transparansi dan simetri harga karet guna memperbaiki efisiensi sistem pemasaran dan pendapatannya,” ujar Sinung.

Ke depan, layanan info harga karet akan dikembangkan untuk wilayah pasar karet lainnya seperti wilayah pasar Medan (Sumatera Bagian Utara), Jambi, Padang (Sumatera Bagian Barat), Pontianak (Kalimantan Bagian Barat), dan Banjarmasin (Kalimantan Bagian Selatan, Tengah, dan Timur), sehingga pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh semua pelaku pasar di seluruh sentra karet di Indonesia.

Sinung Hendratno

Peneliti Sosial Ekonomi Balai Penelitian Karet Sembawa

Tahukah anda bagaimana membedakan kambing peranakan ettawa (PE) berdasarkan klas atau grade? Bagi orang awam pastilah akan sulit membedakannya, namun tidak bagi orang yang telah berkecimpung di dunia kambing PE, mereka akan mudah menerka klas dan harga dari kambing PE yang diliihat. Bagi orang awam, untuk permulaan anda akan saya beri dua gambar kambing PE di bawah ini :

Bisakah anda menerka berada di klas mana dan mana yang lebih mahal dari dua kambing diatas? Apabila anda menerka gambar sebelah kanan yang lebih mahal, maka jawaban anda salah. Kambing sebelah kiri ternyata yang lebih mahal dibanding kambing sebelah kanan. Mengapa demikian?

Kambing sebelah kanan meskipun umur lebih tua dan lebih tinggi dari kambing sebelah kiri, namun hanya mempunyai harga berkisar 2,5 juta rupiah dan termasuk ke dalam klas D. Namun berapakah harga kambing di sebelah kiri? Jawabannya ada di bawah ini :

Ya, 15 juta rupiah harga dari kambing tersebut dan masuk klas A. Lho, padahal lebih muda dan pendek? Mengapa demikian? Bak ikan koi, ayam alas, burung perkutut, ikan arwana, dan binatang “mahal” lainnya, kambing PE pun dilihat dari segi artistik atau seni. Dalam memilih kambing PE sense of art anda akan di uji. Anda bisa menemukan pula kambing PE dengan harga ratusan juta rupiah, jika kambing tersebut pernah menjadi juara dalam kontes. Percaya atau tidak, silahkan anda kunjungi sendiri Pasar Hewan Pandanrejo.

Berikut ini sekilas untuk memilih kambing PE berdasarkan klas atau grade dan visual

Tabel 11. Ciri-Ciri Kambing Peranakan Ettawa Berdasarkan Grade A, B, C, dan D

No. Grade Ciri-ciri
1. A Kepala/muka melengkung/cembung tidak berjambul, bibir bawah lebih kedepan dibanding telinga menempel muka dengan lipatan kedepan sekitar 30 cm, bergelambir, tanduk ke belakang melingkari telinga, warna bulu hitam penuh dari kepala sampai leher, panjang gumba sekitar 70 cm, gambol/rewok panjang dan tebal, lingkar dada lebar dan melengkung, ambing untuk betina dan testis untuk jantan mempunyai panjang yang sama (simetris), ekor besar seperti mawar dan lurus menyerupai tupai, tubuh besar dan sehat serta mempunyai kaki yang besar.
2. B Kepala/muka segitiga, telinga kurang melipat dan kaku terdapat warna bulu merah atau cokelat pada kepala.
3. C Kepala/muka lurus atau terlalu monyong, warna bulu hitam pada kepala sangat sedikit, telinga melebar, pendek, dan pangkal telinga terlalu keras, dan kaki kecil.
4. D Untuk grade D biasanya usia kambing sudah melebihi satu tahun. Kambing grade D merupakan kambing afkir atau masyarakat sekitar menyebutnya poel. Kambing ini merupakan kambing yang siap dipotong. Umumnya kambing jantan, ciri-cirinya gigi sudah besar seperti gigi manusia. Usianya sekitar 12 – 16 bulan.

Sumber : Hasil Wawancara Langsung Dengan Petani Peternak

Setiap grade mempunyai harga jual yang berbeda-beda. Untuk grade A umumnya mempunyai harga 5 juta rupiah. Namun harga jual kambing grade A akan berada di atas harga normal jika kambing tersebut mempunyai keistimewaan tertentu dan juga pernah memenangkan kontes atau lomba, maka harga jual bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. Untuk grade B mempunyai harga 3 – 5 juta rupiah. Untuk grade C mempunyai harga jual sekitar 2 juta rupiah. Sedangkan untuk grade D mempuyai harga 1 – 2 juta rupiah.

DSCN6468

kerupuk kulit

Kerupuk kulit tidak hanya sekedar street food atau jajanan saja. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kudapan ini. Dari segi bisnis hingga segi kesehatan.





Kerupuk sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Jajanan ini sering dikonsumsi untuk makanan selingan dan pelengkap makan nasi, bahkan tak sedikit orang menganggap kerupuk sebagai lauk sehari-hari.

Ada dua jenis kerupuk yang dikenal masyarakat, yaitu kerupuk dengan bahan baku nabati dan kerupuk dengan tambahan bahan pangan hewani. Kerupuk bahan baku nabati seperti kerupuk singkong, kerupuk bawang, kerupuk pecel, kerupuk rambak, dan kerupuk mie. Sedangkan untuk kerupuk tambahan bahan pangan hewani seperti kerupuk udang, kerupuk ikan, dan kerupuk rambak kulit.

Untuk kerupuk rambak kulit masih belum banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Kerupuk dengan bahan tambahan hewani yang banyak beredar di masyarakat saat ini mengunakan tambahan ikan dan udang. Bawang merah, bawang putih, dan garam umumnya digunakan produsen sebagai penyedap rasa alami.

Agak Rumit.

Konsumsi kerupuk rambak kulit yang rendah disebabkan juga karena belum banyak produsen yang menekuni usaha ini karena memang proses pembuatannya cukup rumit.Butuh ketekunan dan ketelitian dari pembuatnya. “Saya harus mencoba sampai lima kali, setelah itu baru bisa lancar membuat kerupuk rambak,” ujar Dalimin (66) yang sudah 22 tahun menggeluti usaha ini.

Proses awal yang harus Anda lakukan untuk membuat kerupuk rambak yaitu kulit utuh sapi atau kerbau diiris menjadi empat. Disarankan memakai kulit kerbau karena akan memudahkan dalam pengelupasan bulunya. Kemudian dibuat lubang di salah satu sudutnya. Lalu direbus sekitar 15 menit hingga bulu dan kulit luar mudah dikelupas. Setelah direbus lalu didinginkan. Kemudian Anda kerok dengan menggunakan pisau sampai bersih.

Langkah berikutnya, kulit tadi dipotong-potong segi empat kurang lebih 10 cm. Lalu di rebus kembali sampai matang. Proses selanjutnya adalah pendinginan dan pembersihan serta pengambilan daging yang masih melekat di kulit. Kemudian dipotong kecil-kecil sekitar 2 cm. Baru dijemur kurang lebih 2-3 hari. Apabila tidak dijemur hingga kering bisa membuat kerupuk hancur pada saat penggorengan.

Proses terakhir adalah proses penggorengan dan pemberian bumbu. Di sini merupakan proses yang paling sulit. Penggorengan akan menentukan kerupuk yang mengembang dan renyah. Sedangkan pemberian bumbu akan menentukan merata atau tidaknya bumbu. Untuk penggorengan bisa memakan waktu hingga 8 jam.

Dalam proses penggorengan disarankan menggunakan kayu bakar. “Pakai kayu bakar selain murah juga bisa mengatur suhu minyaknya,” ungkap Dalimin. Pemberian bumbu dilakukan saat kerupuk sudah mulai mengembang. Bumbu untuk kerupuk rambak umumnya bawang putih dan garam. Keduanya dihaluskan hingga benar-benar halus. Ada tips pemberian bumbu dari Dalimin, yaitu mengurangi jumlah kayu dan minyak kira-kira sampai setengahnya. Ini supaya suhu tidak terlalu panas dan mengurangi letupan yang diakibatkan adanya garam dalam bumbu tadi. Jika terjadi letupan, selain membahayakan penggoreng juga bisa menyebabkan kerupuk menjadi rusak.

DSCN6461

Dalimin, pengusaha kerupuk kulit

Peluang Bisnis.

Belum banyaknya pengrajin yang menekuni usaha kerupuk rambak kulit, tentunya membuka peluang bisnis bagi Anda. Dengan sedikitnya pesaing di usaha ini akan memudahkan Anda dalam proses pemasarannya. Dua kulit sapi atau kerbau bisa menghasilkan 100 kg kerupuk rambak. Harga yang dipatok Dalimin dalam menjual kerupuknya sebesar 100 ribu rupiah per kg. “Harga 100 ribu per kilo tidak memberatkan pembeli kok, kalau lebaran Saya sampai kewalahan memenuhi permintaan pembeli,” ujar pengrajin yang saat pertama kali usaha menjual kerupuknya seharga 12 ribu rupiah per kg ini. Dalimin bisa menjual kerupuk rambak hingga 300 kg per produksi jika lebaran tiba.

Kesulitan dalam usaha ini terletak pada pemenuhan bahan baku utamanya yaitu kulit. Lebih sulit mencari kulit kerbau daripada kulit sapi, padahal kulit kerbau lebih mudah dalam proses penglupasan bulunya. “Kalau di Purworejo sudah tidak ada kulit kerbau, Saya harus mencari sampai Solo,” kata pengrajin asal Purworejo itu.

Diantara kerupuk rambak yang berhasil dalam penggorengan ada pula kerupuk yang gagal. kerupuk-kerupuk gagal tersebut tetap bisa dijual. Umumnya digunakan untuk sayur. Untuk kerupuk sayur ini, Dalimin tetap menjual dengan harga 100 ribu per kg. Saat ditanya berapa omzet per bulan, Dalimin hanya mengatakan mengambil keuntungan 5 ribu rupiah per kilogram dari kerupuk rambak yang dijualnya.

Bergizi Tinggi.

Tak hanya berpeluang bisnis, kerupuk kulit juga berpeluang menambah gizi untuk kesehatan tubuh. Berdasarkan hasil penelitian dari Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, menyimpulkan bahwa kerupuk kulit merupakan kerupuk yang paling bergizi dibandingkan dengan kerupuk tapioka, terigu, dan kedelai. Berbagai macam gizi seperti protein, karbohidrat, dan lemak serta mineral terkandung didalamnya. Kerupuk kulit mengandung 82,9 % protein. Sedangkan mineral seperti kalsium, fosfor, dan besi terkandung sebanyak 0,04%.

Jajanan ini juga tak semuanya dibuat dengan bahan alami. Demi meraup keuntungan yang lebih, pengrajin kadang mencampurkan bahan tambahan seperti boraks, MSG, dan zat pewarna buatan. Anda tentunya harus berhati-hati dengan ketiga bahan tambahan tersebut. Pengrajin nakal kadang menambahkan warna kuning agar penampilan kerupuk lebih menarik. Untuk kerupuk rambak tanpa zat pewarna mempunyai warna kuning kusam yang terciptakan secara alami dalam proses penggorengan.

DSCN6469

Proses membersihkan rambut

Pemberian MSG pada kerupuk kulit biasanya untuk penyedap rasa. Terlalu banyak pemberian MSG tentunya tidak baik bagi kesehatan yaitu bisa menimbulkan Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Gejala pengidap CRS ini adalah perasaan kaku bagian tengkuk kemudian menyebar ke bagian tangan, punggung. Hal lain yaitu Anda merasa lemas, denyut jantung lebih cepat, pusing, muka memerah, sesak nafas dan perasaan tidak enak.

Boraks umumnya digunakan pengrajin untuk bahan pengawet. “Saya tak perlu menggunakan bahan pengawet, dengan proses pengeringan yang baik bisa bikin kerupuk lebih tahan lama kok,” ungkap Dalimin. Sesuai dengan Permenkes No. 1168/Menkes/Per/X/1999, penggunaan boraks pada makanan dilarang. Ini dikarenakan akan menyebabkan efek samping negatif pada kesehatan tubuh. Efek samping tersebut seperti mual, lemas, pusing, depresi, muntah-muntah, diare, dan kram perut. Apabila terlalu sering menyantap makanan berboraks bisa menyebabkan efek samping yang lebih parah seperti kekejangan, koma, dan koleps.

Makanan kecil, makanan ringan, atau kudapan apapun, jika kita jeli maka akan mempunyai manfaat dan peluang yang besar.

Diterbitkan di Majalah Agro Observer Edisi 23

Klangenan Jutaan Rupiah

Posted: February 16, 2009 in Ada Barang Bagus
DSCN5776

Kambing PE Grade A

Satu lagi sektor peternakan mempunyai hewan primadona. Hewan itu adalah Kambing Peranakan Ettawa (PE) Ras Kaligesing. Kambing ini merupakan hasil persilangan antara Kambing Ettawa dari India dengan kambing lokal dari daerah Kaligesing.


Kambing PE Ras Kaligesing sekarang ini sedang digandrungi dan dicari banyak orang karena keindahan dan harga jualnya. Tak hayal, kambing ini menjadi komoditas unggulan bagi daerah asalnya. Kaligesing merupakan kecamatan untuk budidaya kambing tersebut karena merupakan daerah perbukitan yang sejuk dan bertemperatur rata-rata 26 oC dengan kelembaban berkisar 60-70% disertai curah hujan relatif sedang. Kecamatan ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dan letak Kabupaten Purworejo sendiri berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan Data Dinas Peternakan Kabupaten Purworejo, populasi kambing PE di Purworejo pada tahun 2006 mencapai 60.808 ekor.

Sistem penjualan Kambing PE Ras Kaligesing dibedakan berdasarkan grade atau kelas. Di Purworejo, kambing dibedakan menjadi empat kelas yaitu A, B, C, dan D. Untuk kelas A menandakan bahwa kambing tersebut mempunyai kualitas super dibandingkan kelas B dan C, sedangkan untuk kambing yang masuk kelas D umumnya kambing berumur lebih dari satu tahun dan sudah afkir serta siap untuk dipotong. Kelas A mempunyai ciri-ciri kepala melengkung atau cembung dan tidak berjambul, bibir bawah lebih kedepan, telinga menempel muka dengan lipatan kedepan sekitar 30 cm, bergelambir, tanduk ke belakang melingkari telinga, warna bulu hitam penuh dari kepala sampai leher, panjang gumba sekitar 70 cm, gembol atau rewok panjang dan tebal, lingkar dada lebar dan melengkung, ambing untuk betina dan testis untuk jantan mempunyai panjang yang sama (simetris), ekor besar seperti mawar dan lurus menyerupai tupai, tubuh besar dan sehat serta mempunyai kaki yang besar. Kelas kambing dapat mempengaruhi harga jual kambing tersebut. Berdasarkan harga jual di tingkat pedagang, menunjukkan kambing dengan kelas A mempunyai harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga kelas lainnya.

Harga Umum Kambing PE di Kabupaten Purworejo Berdasarkan Grade

No.

Grade

Harga

1.

A

> Rp. 10.000.000,000

2.

B

Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000,00

3.

C

Rp. 2.000.000,00 – Rp. 5.000.000,00

4.

D

< Rp. 2.000.000,00

Sumber : Pedagang Kambing PE di Purworejo

Capai Ratusan Juta Rupiah.

Perlu Anda ketahui bahwa kambing PE Ras Kaligesing jarang digunakan untuk konsumsi, disamping mempunyai harga yang mahal, ternyata kambing ini mempunyai daging yang lebih sedikit dibandingkan dengan Kambing Ras Jawa. Umumnya kambing ini digunakan sebagai kambing klangenan atau disebut sebagai kambing kegemaran. Karena memiliki keindahan pada fisiknya, kambing ini pun bisa disebut kambing hias. Terdapat perbedaan dengan kambing pada umumnya, perbedaan terletak pada kepala kambing yang berbentuk cembung dan terdapat bulu tebal di kaki belakang yang tidak dimiliki kambing lain. Masyarakat sering menyebutnya rewok/gembol. Karena kekhasan itulah maka kambing ini sering dilombakan.

Harga kambing akan melambung di atas harga umum jika kambing pernah menjadi jawara kontes. Kambing bisa dibandrol hingga ratusan juta rupiah. Biaya untuk kawin pun akan menjadi mahal. Jika peternak mengawinkan kambingnya dengan kambing yang belum pernah juara kontes, peternak harus mengeluarkan biaya Rp. 25 ribu, sedangkan untuk mengawinkan dengan kambing jawara, peternak bisa mengeluarkan biaya hingga Rp. 250 ribu.

Kambing PE Ras Kaligesing diminati pembeli dari berbagai daerah seperti Lampung, Medan, Kalimantan, Papua, Yogyakarta, Kulonprogo, Wonosobo, Temanggung, Purwokerto, Banjarnegara, Pati, Jombang, Tegal, Brebes, Bogor dan berbagai daerah di Jawa Timur. Permintaan terhadap kambing ini pun tidak hanya dari dalam negeri saja, namun juga sudah mencapai luar negeri. “Saya pernah diminta mengirim kambing ke Malaysia, waktu itu sekitar 300 ekor Saya kirim ke sana,” ungkap Giarto, salah satu peternak sekaligus supplier kambing PE.

DSCN5774

Lengkungan kepala khas kambing PE

Peluang Bisnis.

Kambing PE Ras Kaligesing mempunyai beberapa manfaat yaitu sebagai penghasil susu dan daging. Kambing ini bisa menghasilkan susu 1 – 3 liter per hari. Namun di Purworejo sendiri, peternak lebih fokus terhadap budidaya dan pembibitan. Belum banyak peternak di sana memanfaatkan susu kambing, hal ini dikarenakan peternak belum mempunyai ketrampilan dalam memerah susu kambing. “Peternak di sini belum tahu cara memerah susu yang baik. Kalau cara memerahnya salah, bisa-bisa ambing kambing terkena mastitis”, ujar Supiandi, salah satu peternak kambing. Mastitis merupakan infeksi yang menyerang ambing kambing.

Permintaan terhadap susu kambing sangat tinggi namun tidak diimbangi oleh peningkatan jumlah produksinya. Hal ini bisa dijadikan peluang bisnis bagi Anda. Di Jakarta saja permintaan terhadap susu kambing belum dapat dipenuhi seluruhnya, apalagi ditambah permintaan dari di daerah lain. Untuk harga jual, susu kambing lebih tinggi dibanding susu sapi. Daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta harga susu berkisar Rp. 20 ribu – Rp. 25 ribu per liter, sedangkan untuk daerah Bogor harga susu telah mencapai Rp.50 ribu per liter.

Petani peternak di Purworejo sudah merasakan dampak dari bisnis kambing ini. Semula mereka memelihara kambing hanya sebagai sampingan saja. Namun sekarang sudah bisa menjadi mata pencaharian hingga digunakan untuk meyekolahkan anak-anaknya. “Alhamdulillah berkat kambing Saya bisa menyekolahkan anak Saya sampai perguruan tinggi”, ungkap Sarman, salah satu peternak asal Pandanrejo.

Upaya Sertifikasi Kambing.

Bagaimana Kambing PE bisa berada di Purworejo? Menurut sejarah, Kambing Ettawa di impor oleh pemerintah Belanda, tujuannya untuk memperbaiki produktivitas kambing lokal Indonesia. Impor dilakukan pada tahun 1931 dalam dua gelombang yaitu pada tanggal 12 April dan 28 Juni. Pada gelombang pertama, jumlah pejantan kambing yang di impor sebanyak 60 ekor, sedangkan gelombang kedua, terjadi penurunan jumlahnya karena banyak mengalami kematian. Kambing-kambing tersebut kemudian ditampung dan dikembangkan di Stasiun Ternak Bogor. Setelah di kembangkan di Stasiun Ternak Bogor, selanjutnya didistribusikan ke berbagai daerah. Terdapat delapan daerah yang menjadi lokasi pendistribusian yaitu Cirebon, Bogor, Madura, Pengarasan, Sumbawa Besar, Padang Mangatas, Cianjur, dan salah satunya adalah Purworejo.

Pengembangan kambing PE di Purworejo mengalami kemajuan yang cukup pesat, sehingga Purworejo ditetapkan sebagai daerah sumber bibit nasional. Sebagai wujud dukungan dari Pemerintahan Kabupaten, maka Kepala Daerah Kabupaten Purworejo mengeluarkan Surat Keputusan No. 188.4/2267/1998 mengenai pelestarian Kambing Peranakan Ettawa Ras Kaligesing. Namun, keseriusan Pemda Purworejo tidak hanya itu saja. Berdasarkan Pertimbangan peraturan Indikasi Geografis sesuai dengan PP No. 51 tahun 2007, maka Kambing PE Ras Kaligesing akan disertifikasi menjadi nama Kambing Kaligesing. Sertifikasi digunakan untuk memberikan jaminan bagi pedagang dan pembeli perihal keaslian ras peranakan ettawa dari kambing tersebut.

Peluang bisnis Kambing PE Ras Kaligesing masih sangat terbuka bagi siapa saja. Namun, bagi peternak sendiri dirasakan kalah dalam persaingan. Kebanyakan peternak termasuk peternak kecil. Dalam perdagan, mereka pun masih sebagai price taker ( penerima harga ), ini dikarenakan masih rendahnya posisi tawar peternak, sehingga keuntungan yang diperoleh belum optimal.

Diterbitkan di Majalah Agro Observer edisi 22