Archive for the ‘Coba Beropini’ Category

Image

Dua nenek renta duduk berdua di beranda gubuknya. Tak banyak yang mereka lakukan di bawah teriknya kota Semarang, hanya diam dan sesekali melakukan percakapan. Dunia seolah milik mereka berdua. Tidak peduli lagi ketika Fortuner mewah lalu lalang atau ketika penunggang Ninja 250R menancapkan gas di depan mereka.

Adalah Rubiyem (65) dan Parmah (75), dua nenek renta dan miskin yang tinggal di gubuk berukuran 1×3 meter yang berada di Jalan Sebandaran Timur, pinggiran kali Semarang. Sudah lebih sepuluh tahun Rubiyem dan Parmah tinggal di “istana”nya.

Saat saya menyambangi kediaman mereka, tubuh Rubiyem dan Parmah hanya berbalut pakaian yang layak dipakai ketika negeri ini dikuasai Belanda. Mungkin mereka lupa, bahwa negeri ini hampir 66 tahun merdeka. Namun mereka tampak nyaman mengenakannya, Rubiyem dan Parmah seperti tak memikirkan lagi untuk membalut tubuh keriputnya dengan sutera.

Hari ini Rubiyem dan Parmah hanya mangkrak di gubuknya. Mereka berdua tidak mayeng (memulung kardus dan kertas) yang sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari. Hari itu, fisik Parmah sedang lemah karena batuk. Sebagai seorang “sahabat”, Rubiyem pun memutuskan untuk menemani Parmah. Rubiyem tidak memikirkan hari ini akan makan apa. Mendampingi Parmah adalah waktu terindah dalam hidupnya, karena dia sudah tidak punya lagi sanak saudara.

Rubiyem memutuskan untuk merantau ke Semarang karena tidak punya pekerjaan di kampung halamannya di Magelang. “Wis jaman Pak Karno aku nang Semarang (sudah sejak jaman Soekarno saya di Semarang),” ujar Rubiyem yang sudah lupa kapan tepatnya ia mendarat di kota lunpia ini. Begitu juga dengan Parmah, dia harus meninggalkan kampung halamannya di daerah Kandang Sapi, Solo.

Namun tidak seperti Rubiyem, Parmah masih punya seorang kakak, Parti (85) yang kini berada di Solo. “Aku nek duwe rezeki akeh mesti balik, gus (sebutan untuk anak laki-laki). Niliki  mbakku sing wis tua (Saya kalau punya rezeki banyak, saya jenguk kakak yang sudah tua),” kata Parmah yang paling tidak setahun dua kali mengunjungi kakaknya di Solo.

Dari hasil mayeng, Rubiyem dan Parmah hanya mendapatkan beras dua kilogram. Itupun didapat setelah dua hari bekerja. “rong kilo iso nggo telung dina (dua kilo bisa buat tiga hari),” ujar Rubiyem. Rubiyem dan Parmah berpencar ketika mayeng. Rubiyem memulung kardus ke daerah Kranggan, sedangkan Parmah ke daerah Jagalan, Semarang. Selain mayeng, mereka juga mengumpulkan sisa-sisa nasi, menjemur lalu menjualnya ke penadah. “Aking di dol Rp 1.500 per kg. Kadang di kei tangga (nasi aking dijual Rp 1.500 per kilogram, kadang diberi tetangga),” ujar Rubiyem.

Menurut Parmah, dari bekerja mayeng inilah Rubiyem bertemu dengan dirinya. “Kuwi omahe Rubiyem, aku gor nunut, gus (Itu rumahnya Rubiyem, saya hanya menumpang),” ujar Parmah. “Istana” Rubiyem dan Parmah sangat tidak layak untuk dihuni buat mereka yang sudah renta. Debu dan buliran-buliran dari bambu keropos bisa mengancam kesehatan mereka. Apalagi gubuk juga mereka gunakan untuk memasak. Tak heran jika Parmah saat ini mengidap sakit batuk.

Jika malam tiba, Parmah akan tidur di atas papan, sedang Rubiyem tidur di lantai. Alat-alat dapur akan ditata di atas rak atau ditaruh diluar jika kantuk sudah melanda.

“Apik tho, gus? Istimewa tho omahe mbah (Bagus kan? Istimewa kan rumahnya mbah?),” celetuk Parmah. Namun bukan kesedihan yang terlukis di wajah mereka, malah celetukan tadi membuat Rubiyem dan Parmah tawa lepas, bak tawa gadis-gadis berpakaian modis yang sedang menertawakan gaya kuno pakaian orang yang baru saja lewat di depannya.

Namun hidup dalam kemiskinan tak membuat dua nenek ini lepas dari pungutan. Rubiyem dan Parmah sempat dipungut biaya partisipasi pembangunan Balai Kelurahan Kranggan sebesar Rp 1.000 per hari. Ini juga dibuktikan dengan adanya kupon pembayaran yang masih disimpan oleh kedua nenek tersebut. Namun setelah disindir oleh warga, pungutan tersebut akhirnya dihentikan.

Hidup Rukun Meski Beda Agama

Rubiyem dan Parmah juga hidup dengan “anak angkat” mereka, Manis dan Polang. Manis dan Polang hanya dua ekor kucing yang sudah dianggap sebagai anak mereka. Menurut Parmah, dirinya seperti merasa kehilangan anak jika Polang tidak ada di gubuknya, begitu pun Rubiyem. Manis dan Polang menurut jika disuruh diam, apalagi mereka berlaku manja ketika dipengku Rubiyem dan Parmah.

Karena menganggap dua kucing tersebut sebagai anak, dari dua kilogram beras yang didapat juga dipakai untuk memberi makan Manis dan Polang. Apalagi Rubiyem tak segan-segan membeli pindang untuk kedua kucing tersebut. “Kucing yo duwe nyawa lan kucing iku makhluk ciptaan Gusti Allah (kucing juga punya nyawa dan kucing itu makhluk ciptaan Tuhan),” ujar Rubiyem.

Rubiyem dan Parmah adalah dua makhluk Tuhan berbeda keyakinan. Rubiyem seorang muslim, sedangkan Parmah adalah Nasrani. Rubiyem sudah tidak mampu berpuasa ketika Ramadhan tiba. Begitu juga Parmah sudah tak mampu berpuasa ketika Paskah tiba. Hidup mereka rukun, tidak ada sekat agama yang menghalangi kehidupan mereka. “Nek padu arep entuk opo? Mangan ra mangan sing penting rukun tho, gus (kalau marahan mau dapat apa? makan ga makan yang penting rukun),” ujar Parmah.  Saat ditanya, kemana mereka ketika Lebaran atau Natal tiba? Mereka menjawab hanya tinggal di gubuk mereka. Mereka tidak akan mengemis seperti orang-orang yang karena kemiskinan terpaksa mengemis. Menurut mereka, hidup mereka tidak hanya meminta dan bergantung pemberian orang. Mereka tetap berusaha dengan keringat sendiri, meski hasil tak seberapa. “Dadi wong ki kudu isih ana harga dirine, gus, (jadi orang itu harus punya harga diri)” ujar Parmah.

Namun mereka tidak menolak ketika donatur datang ke gubuk mereka untuk memberi sedekah. “Diparingi yo ditampi, nek ora diparingi yo ora usah muni-muni,(Dikasih ya diterima, tidak dikasih ya ga usah marah2)” ujar Parmah. Mereka sedikit terbantu dengan adanya bantuan beras, gula, teh, dan kopi dari pengurus gereja di daerah Bringin. “Sewulan diparingi 5 kg beras saka gereja Bringin (sebulan diberi 5 kg beras dari gereja Beringin),” ujar Parmah.

“Ning donya memang takdire ana wong mlarat ana wong sugih, ana wong susah ana wong seneng, gus. Tapi wong susah aja terus-terus susah, wong seneng ojo terus-terus seneng,(Di dunia memang takdirnya ada orang miskin dan orang kaya, ada orang sedih, ada orang senang. Tapi orang sedih jangan terus-terusan sedih, jadi orang senang jangan terus-terusan senang)” ujar Parmah.

Kehidupan Rubiyem dan Parmah tampak menghiasi gegap gempita pembangunan kota Semarang. Semoga saja aparat pemerintah yang tampak sibuk mengubah wajah kota, tidak lupa akan tanggung jawab mereka terhadap orang-orang seperti Rubiyem dan Parmah.

Advertisements

Hampir dua dasawarsa Pusat Penelitian (Puslit) Karet Indonesia bermukim di Tanjung Morawa, Sumut, mulai tanggal 1 April 2011, kantor Puslit Karet dipindahkan ke Bogor. Efisiensi menjadi alasan untuk hijrah ke kota hujan.

Ini diungkapkan Chairil Anwar, Direktur Puslit Karet Indonesia. “Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham PT. Riset Perkebunan Negara (RPN) tahun 2011 diputuskan untuk memindahkan Pusat Penelitian Karet dari Tanjung Morawa ke Bogor.” Dasar pemindahan adalah untuk peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja Puslit Karet.

Efisiensi biaya diharapkan dapat dicapai dengan mengintegrasikan Balai Penelitian Teknologi Karet (BPTK) Bogor ke dalam Kantor Pusat Penelitian Karet, dan menempatkan posisi Kantor Pusat lebih dekat ke balai penelitiannya.  Posisi di Bogor dinilai strategis karena kegiatan dan klien dari Puslit Karet banyak berkantor pusat di Jakarta dan sekitarnya. Berdasarkan perhitungan, diprediksi tahun ini Puslit Karet bisa melakukan efisiensi biaya sekitar Rp1-1,5 miliar. Apalagi saat ini, kata Chairil, permintaan kerjasama baik studi kelayakan atau pengawalan pembukaan kebun karet baru sedang meningkat, karena prospeknya yang bagus. Jadi Puslit Karet ingin memberikan pelayanan cepat kepada klien.

Kantor Puslit Karet menempati kantor Balai Penelitian Teknologi Karet (BPTK) Bogor di Jalan Salak No. 1. Bogor, dipilih karena letaknya strategis. Kemudian kantor di Tanjung Morawa selanjutnya dikelola oleh Balai Penelitian Sungei Putih, karena di sana masih terdapat laboratorium dan fasilitas lain yang bisa dimanfaatkan. Dengan pemindahan ini maka BPTK Bogor dilebur ke dalam Puslit Karet. Beberapa fungsi BPTK dulu dan para penelitinya kemudian ditempatkan ke dalam Bidang Pasca Panen. “Selain membawahi bidang pasca panen, direktur juga membawahi Bidang Pra Panen, Bidang Umum dan Sumberdaya Manusia, serta tiga balai penelitian yaitu Sembawa, Getas, dan Sungei Putih,” jelas Chairil.

Posisi Kepala Bidang Pra Panen diisi oleh Dr. M. Supriadi, Kepala Bidang Pasca Panen oleh Dr. Dadi Maspanger, sedangkan Bidang Umum dan Sumberdaya Manusia dikepalai Dr. Uhendi Haris. Kepala Balai Getas dan Sungei Putih diisi Dr. Hananto dan Dr. Karyudi, sedangkan Balai Sembawa yang dulu dikepalai oleh Ir. Khaidir Amypalupy, MS diserahkan kepada Ir. Anang Gunawan, MEc. Chairil menyatakan agar klien-klien BPTK Bogor tidak perlu khawatir dengan adanya peleburan ini, karena pelayanan sama seperti sebelumnya, bahkan akan ditingkatkan kualitasnya. “Kami menjamin kemudahan kerjasama, terutama mengenai teknologi. Klien tinggal menemui bidang pasca panen dan semua akan berjalan sama seperti sebelumnya,” kata Chairil.

Dalam kesempatan lain, Kepala Balai Sembawa yang baru, Ir. Anang Gunawan mengatakan bahwa akan terus melanjutkan program yang telah dirintis oleh pendahulunya, meningkatkan kualitas penelitian dan pelayanan khususnya untuk perkebunan rakyat.

(AGUS SUPRIONO) Produksi karet alam dunia dikuasai Thailand, Indonesia, dan Malaysia yang tak kurang dari 70 persen total produksi dunia. Antar ketiganya selalu terjadi persaingan, namun kerjasama di bidang perkaretan selalu dipertahankan.

Muhibah kali ini yang dilakukan oleh Balai Penelitian Sembawa ke Malaysia dan Thailand tak lain dimaksudkan untuk lebih mempererat kerjasama dan menambah wawasan pengetahuan para peneliti dan staf pendukung lembaga riset di Indonesia. “Kita melakukan kongsi pengalaman,” kata Ir. Khaidir Amipalupy, Kepala Balai Penelitian Sembawa, memakai istilah dalam bahasa melayu.

“Muhibah dimaksudkan untuk berbagi pengalaman dengan rekan-rekan dari negeri sahabat Malaysia dan Thailand. Apa yang bagus dari mereka dapat kita ambil dan yang bagus dari kita juga dapat memberikan inspirasi bagi mereka,” lanjut Khaidir. Hal ini diamini oleh Dr. M. Supriadi, Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Karet, “Kita memang selalu memprogramkan kegiatan yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan para staf peneliti, baik melalui kunjungan seperti ini maupun mengikuti seminar dan konferensi internasional di luar negeri”.

Titik Mula Penyebaran

Perjalanan muhibah ini di mulai di negeri Paman Lee, Singapura. Negeri ini seakan tak punya andil dalam perkaretan dunia, karena memang tak satupun batang pohon karet tampak di sini. Namun bila kita tengok kilas balik di akhir abad 19, maka negeri ini mempunyai peran yang sangat penting. Ketika awal penyebaran tanaman karet di Asia Tenggara, di samping Malaya, Singapura merupakan salah satu titik penting penyebaran tanaman karet ke Sumatera Timur dan Sumatera bagian Selatan. Kita masih ingat dengan “Kew Garden” di Singapura yang menjadi tempat penanaman karet pertama di Asia Tenggara.

Singapura juga penting untuk pengolahan karet asal Indonesia sebelum pemerintah Indonesia  melakukan larangan ekspor ‘raw material’ karet alam bermutu rendah di tahun 1969. Sebelum larangan itu, Singapura tercatat sebagai salah satu eksportir terbesar Crumb Rubber di dunia. Namun setelah suplai bahan baku karet dari Indonesia terputus, industri crumb rubber Singapura terpuruk. Namun pengusaha Singapura tak kehabisan akal, mereka melakukan ekspansi kapital dengan membangun pabrik-pabrik crumb rubber di Sumatera bagian selatan. Hoktong misalnya masih beroperasi di Palembang hingga sekarang.

Kini Singapura menjelma menjadi negeri jasa perdagangan terbesar dan termaju di dunia. Di negeri ini terdapat bursa perdagangan karet dunia. Dari sinilah harga karet dunia terbentuk dan menjadi acuan bagi produsen karet alam. Hutan beton menjulang tinggi memenuhi negeri ini, namun tetap terasa kesejukan karena tanaman penghijauan kota tetap diprioritaskan untuk tumbuh dengan baik.

Belajar Dari Thailand

Memasuki wilayah Thailand Selatan  seakan berada di Sumatera. Di samping banyak terlihat rumah-rumah orang miskin, wilayah yang berawa dan tanah podsolik tampak menghiasi Thailand bagian Selatan. Tampak jelas persamaannya dengan Sumatera adalah kebun karet sepanjang perjalanan menuju Hatyai, Songkla, Thailand Selatan. Namun terlihat juga dengan jelas kebun karet di Thailand memang layak disebut kebun, karena lebih terawat. Pertanaman karet rakyat di Thailand terlihat rapi berjajar dengan besar batang relatif sama. Berbeda dengan kebun karet di Indonesia yang lebih sesuai di sebut ‘jungle rubber’.

Konon, Thailand banyak menggunakan klon unggul hasil pertukaran klon internasional, terutama dari Indonesia. Hasilnya tak mengecewakan. Sejak akhir tahun 80an, Thailand telah menjadi produsen karet alam peringkat pertama di dunia. Yang lebih mengagumkan penggunaan klon unggul atau bahan tanam okulasi di tingkat petani sudah mencapai 95 persen. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya mencapai 55 persen. Demikian pula produktivitas perkebunan karet rakyat Thailand mencapai 1700 kg karet kering/hektar/tahun, sedangkan Indonesia baru 950 kg karet kering/hektar/tahun.

Ekspor karet alam Thailand cukup beragam jenisnya. Dalam lima tahun terakhir ekspor Thailand berupa RSS (34%), TSR (42%) dan Latex  (24%). Sangat mengagumkan, mengingat dua negara produsen lainnya, yaitu Indonesia dan Malaysia, lebih dari 90 persen sudah beralih ke jenis crumb rubber (karet remah). Dua hal dapat kita cermati dari fakta ini. Pertama, pasar RSS ternyata masih ada, terbukti produksi karet alam Thailand dapat terserap habis di pasar dunia. Kedua, ini menarik, petani Thailand mampu menghasilkan lateks yang dapat diolah menjadi RSS dan lateks pekat. Berarti di tingkat petani, produksi yang dihasilkan lebih tinggi mutunya dibandingkan petani Indonesia yang hanya memproduksi slab atau lump bermutu rendah.

Salah satu kunci keberhasilan Thailand membangun perkebunan karetnya adalah adanya ‘pungutan’ ekspor.. Semua hasil pungutan ekspor ini dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan perkaretan Thailand, baik untuk peremajaan, penguatan kelembagaan petani, perbaikan sistem pemasaran melalui lelang sampai penguatan lembaga riset. Indonesia pun sebenarnya pernah menerapkan pungutan ekspor yang disebut dana Cess. Namun salah kaprah penggunaan dana Cess ini membuat pemerintah menghentikan pungutan ini (baca: dinolkan, bukan dicabut). Mungkin sudah saatnya, dengan di motori Dewan Karet Indonesia, kembali digagas penerapan pungutan dana Cess tersebut.Manfaat dana pungutan ekspor tampak nyata di Thailand. Tengok saja peremajaan perkebunan karet rakyat sangat luas diterapkan. Penggunaan klon unggul merata di tingkat petani. Kualitas produk ditingkat petani sangat terjaga. Sistem pemasaran produk petani melalui sistem lelang juga berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada lelang ‘arisan’ atau ‘basa-basi’ seperti yang sering terjadi pada lelang di Indonesia. Yang menarik, sistem lelang pemerintah Thailand dijalankan oleh Lembaga Penelitian Karet Thailand. Walau hanya mampu menjangkau 10 persen dari total produksi Thailand, namun lembaga pelelangan ini telah mendapatkan ‘trust’ dari konsumen terhadap kualitas barang yang dilelang dan kualitas sistem lelang yang dijalankan.

Tampaknya, kini giliran kita yang harus belajar ke Thailand untuk urusan karet alam. Karakteristik perkebunan karetnya pun nyaris sama, yaitu: dominasi perkebunan rakyat. Jadi, cukup pantas dipertanyakan kenapa perkebunan karet rakyat kita tak bisa sebaik perkebunan rakyat Thailand.

Gandrung Kelapa Sawit

Pemandangan yang kontras cukup terasa ketika kita berada di wilayah Malaysia. Di negeri jiran ini, hampir sepanjang perjalanan dipenuhi kebun-kebun kelapa sawit. Ini bisa dimaklumi, karena memang Malaysia sejak tahun 80-an beralih dari perkebunan karet ke kelapa sawit. Konon, Malaysia membongkar 700.000 hektar kebun karet dan menggantinya dengan kelapa sawit.  Situasi ini tergambar pada komposisi usaha yang digeluti FELDA Plantations Sdn Bhd, sebuah perusahaan milik negara Malaysia. Dari keseluruhan luas perkebunan yang dikembangkan, karet hanya punya porsi 10%. Bandingkan dengan kelapa sawit yang mendominasi tak kurang dari 80% dari luas total.

FELDA sendiri merupakan sebuah badan negara yang mempunyai banyak bidang usaha seperti perkebunan, properti dan wisata. Di bidang perkebunan, di samping mempunyai perkebunan sendiri, FELDA juga membina perkebunan rakyat. Mirip dengan konsep inti-plasma di Indonesia.

Lagi-lagi Indonesia tertinggal satu langkah dibanding Malaysia. Negeri jiran ini menyadari sepenuhnya bahwa nilai tambah hanya dapat diraih dengan membangun industri hilir. Produk yang dikembangkan antara lain, ban kendaraan bermotor, sarung tangan, alas kaki dan komponennya. Kuantitas ekspor karet mentah boleh saja kalah dari negara lain, tapi nilai tambah produk karetnya jauh lebih besar. Saat ini, industri hilir karet  Malaysia mampu menjadi salah satu produsen sarung tangan terbesar di dunia.

Adakah Indonesia segera menyadari semua ketertinggalan itu dari negara-negara tetangga ini? Semoga muhibah kali ini bisa menambah pengetahuan dan membuka mata kita bahwa tak ada kata lain selain bekerja keras untuk mengejar kertinggalan kita.

*Penulis adalah Direktur Centre for Agriculture Policy Studies (CAPS)

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5 Pusat Penelitian Karet Indonesia

Pendanaan menjadi salah satu penyebab belum berkembangnya industri hilir karet di dalam negeri. Pemerintah lalu melirik investor baik dalam maupun luar. Pemberian insentif pun dilakukan untuk merangsang investor agar mau menanamkan modalnya.

Pasokan bahan baku menjadi salah satu aspek penting yang  mempengaruhi keberlangsungan investasi.  Aspek penting lain adalah prospek pasar dari produk yang dihasilkan. Karet alam Indonesia sudah memenuhi kriteria untuk menggaet investor agar menanamkan modalnya. “Sudah banyak yang berinvestasi di karet baik hulu, industri pengolahan, maupun industri hilir,” ujar Didiek Hadjar Goenadi, Staf Khusus di BKPM kepada hevea. Industri pengolahan, lanjut Didiek, lebih banyak berupa industri pengolahan setengah jadi berupa karet remah (crumb rubber), sedangkan untuk industri hilir masih didominasi oleh industri ban, baik ban kendaraan roda empat atau lebih dan roda dua. Di Indonesia, keberadaan Perusahaan Modal Asing (PMA) masih mengungguli Perusahaan Modal Dalam Negeri (PMDN).

Namun saat ini pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memasukkan industri pengolahan crumb rubber ke Daftar Negatif Investasi (DNI). “Karena iklim persaingan industri crumb rubber saat ini terindikasi tidak baik. Suplai bahan baku tidak bisa memenuhi kapasitas pabrik yang ada. Akibatnya muncul persaingan yang tidak sehat. Maka pemerintah memasukkannya ke DNI khususnya pembatasan untuk investor asing,” ujar Didiek. Di Indonesia terdapat lebih 130 pabrik crumb rubber dengan kapasitas mencapai 4 (empat) juta ton.

Masuknya pabrik crumb rubber ke DNI disambut baik oleh Haji Awi, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan,”Adanya kebijakan ini agar bisa terkontrol. Sebenarnya banyaknya yang berinvestasi di crumb rubber sangat baik. Peluang diserapnya karet kita sangat terbuka dan berharap memicu petani bisa meremajakan kebunnya untuk memperbaiki kualitas karet kita. Namun yang terjadi saat ini, pabrik crumb rubber khususnya di Sumatera Selatan terkendala suplai bahan baku. Hal ini memicu pabrik saling berebut bahan baku.”

Baku rebut bahan baku dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas karet yang di suplai ke pabrik. “Apalagi harga karet saat ini sedang baik. Dikhawatirkan petani jadi tidak memperhatikan kualitas karet yang penting bisa menyuplai ke pabrik. Kebun pun dikhawatirkan jadi rusak, karena terus menerus di sadap. Dampak lain, petani jadi tidak ada gairah untuk meremajakan kebun,” tambah Awi.

Saat ini, di Sumatera Selatan terdapat 23 pabrik crumb rubber dengan kapasitas 1.217.488 ton, sedang suplai bahan baku hanya mencapai 842.000 ton.

Selain membatasi investor crumb rubber, kata Didiek, pemerintah juga membatasi suplai karet alam ke pasar dunia. “Hal ini untuk menjaga harga agar tidak turun drastis karena suplai karet berlebih. Meskipun permintaan dunia saat ini sangat tinggi,” ujar Didiek yang juga sebagai ketua Asosiasi Inventor Indonesia.

Dalam konteks produk jadi, kata Didiek, investasi terbesar masih diduduki industri ban mobil. Menurut Didiek, belum berkembangnya industri hilir karet di Indonesia karena karakter dari industri yang berangkat dari pedagang (trader). “Sehingga mereka kurang bisa mengambil resiko yang tinggi, mereka hanya berkutat di quick yielding,” ujar Didiek. Kurangnya dukungan teknologi juga sebagai penyebabnya. “Teknologi sekarang kebanyakan masih impor. Sebenarnya kalau ada dukungan teknologi mestinya ada keyakinan dari mereka untuk menggeluti bidang ini, karena nilai tambahnya ada di situ.” tambah Didiek.

Perangsang Pemerintah

Pemberian insentif pun dilakukan pemerintah sebagai ujud perhatian khusus pemerintah untuk mengembangkan industri hilir karet Indonesia. “Kebijakan ini dilakukan untuk menciptakan iklim investasi yang baik di Indonesia. Pemerintah tawarkan insentif sama kepada PMA atau dalam negeri. Terutama fiskal, termasuk pajak, bebas pajak bahan baku dan mesin-mesin teknologi dari luar. Sementara produk pertanian saja yang di bebaskan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen,” ujar Didiek. Pemerintah, kata Didiek, juga memberikan keringanan pajak (tax holiday) bagi investor yang akan berinvestasi di industri pioner, industri yang membawa teknologi baru, atau industri yang menyangkut pengembangan wi­la­yah terpencil.

Pemerintah juga memberi insentif bagi yang berinvestasi di infrastruktur. “Dalam pembangunan agribisnis yang menjadi domain pertanian hanya 30 persen, sedang sisanya domain di luar pertanian yang menyangkut infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan, pajak, dan lain-lain. Nah tentu pembangunan pertanian tidak hanya tanggung jawab Kementrian Pertanian, sehingga kita lihat untuk membangun kawasan agribisnis itu berbagai sarana prasarana harus dicukupi pemerintah,” ujar Didiek.

“BKPM mengutamakan tiga pilar utama investasi di pangan, energi, dan infrastruktur. Infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan untuk mendukung pangan dan energi. Pemerintah mengeluarkan kebijakan kemitraan swasta dan publik (public private partnership), pemerintah akan menjamin swasta yang berinvestasi di infrastruktur jika mengalami kerugian,” ungkap Didiek.

Faktor non teknis juga perlu diperhatikan untuk menarik investor agar mengembangkan industri hilir dalam negeri. Menurut Agus Wibowo, Kepala Subdirektorat Program, Evaluasi, dan Pelaporan, Direktorat Industri Kimia Hilir Kementrian Perindustrian, faktor non teknis berupa jaminan keamanan dan kepastian hukum dari pemerintah. Agus mengibaratkan kondisi di Indonesia bak pasar tradisional, “Tidak ada jaminan dan kepastian. Saat ini jaminan keamanan kita menurun dibanding sebelum reformasi. Demokrasi yang kebablasan tercermin dari adanya bakar sana sini, kurangnya toleransi antar umat beragama, adanya berbagai kerusuhan dan pemalakan sana sini. Kalau keamanan tidak bisa dijamin, psikologis investor akan terganggu. Akibatnya mereka berpikir ulang untuk menanamkan modalnya,” ujar Agus.

“Investor bukan cuma pedagang yang jika terjadi ancaman keamanan akan langsung kabur. Kalau kabur, mereka akan meninggalkan aset di sini. Mereka butuh aman dan nyaman. Makanya iklim investasi harus kita ciptakan, kita kontrol, dan perlu kita kendalikan. Itu penting, kalau tidak, investasi kita memang sebuah pepesan kosong,”tegas Agus.

Sekarang ini, ungkap Didiek, saat yang sangat baik untuk berinvestasi di Indonesia, karena pemerintah sudah memberikan berbagai fasilitas insentif. “Khususnya industri karet, dengan bahan baku yang sangat melimpah, akan lebih baik kalau industri hilirnya berkembang di dalam negeri sehingga akan memicu investasi di komoditas ini,” harap Didiek.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5 Pusat Penelitian Karet Indonesia

Fantastis! Akhir Februari lalu, harga karet sempat menyentuh level US$ 6,3 per kilogram, menjadi level tertinggi di sepuluh tahun terakhir ini. Pelaku di sektor hulu merasa diuntungkan dengan adanya kenaikan harga ini, tapi tidak bagi industri barang jadi karet.

Namun harga sudah terkoreksi pada pertengahan Maret. Ini diungkapkan Chairil Anwar, Direktur Pusat Penelitian Karet Indonesia, ”Harga karet alam hingga pertengahan Maret terkoreksi menjadi US$ 4,8 per kilogramnya. Harga karet alam sedang berfluktuasi saat ini. Naik turunnya harga karet tidak bisa diprediksi secara pasti karena dipengaruhi berbagai faktor.” Kenaikan harga terjadi, kata Chairil, karena terganggunya suplai-permintaan karet alam dunia, ditunjang perekonomian dunia juga sedang membaik. Namun ini tidak diimbangi suplai tiga negara produsen karet alam yang cenderung menurun karena faktor alam dan cuaca.“Jadi karet alam saat ini sangat dibutuhkan. Dan harga sekarang ini pasti akan mengganggu pelaku di sektor industri hilir,” kata Chairil.

Harap-harap Cemas

Kenaikan harga utamanya tidak menguntungkan bagi industri yang pangsa pasar produknya untuk dalam negeri. Apalagi ditambah pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen jika produknya diluncurkan ke pasar dalam negeri. Hal ini akan menyebabkan pembengkakan harga jual produk tersebut. “Di saat daya beli masyarakat sedang rendah, kenaikan harga produk akan memaksa produsen harus lebih kreatif, agar produknya bisa terjual. Khususnya buat produsen yang pasarnya di dalam negeri. Bagi industri dengan pangsa pasar ekspor tidak ada masalah,” ujar Asril Sutan Amir, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo).

Jika produsen kesulitan menjual produknya di dalam negeri, Asril menyarankan bisa dengan melirik pasar ekspor yang saat ini tidak dikenakan pajak sepeser pun. “Namun secara umum kenaikan harga saat ini belum terlalu mengganggu produksi mereka. Industri hilir saat ini harus bersabar, biarkan saat ini petani menikmati harga seperti sekarang ini,” jelas Asril.

Namun tak demikian dalam pandangan Azis Pane, Ketua Dewan Karet Indonesia (Dekarindo). Menurutnya kenaikan harga karet alam tak cuma dinikmati petani saja, tapi juga dinikmati ‘toke’ atau pedagang besar pengekspor karet alam. “Petani paling cuma bisa menikmati 30 persen saja, pedagang besar yang paling menikmati kenaikan ini. Industri hilir harus tetap bersabar dan berusaha survive dengan kondisi saat ini,“ ujar Azis. Industri ban, kata Azis, menjadi industri hilir yang paling berkembang di Indonesia. Saat ini, Indonesia lebih banyak melakukan ekspor karet alam. Tahun 2009, produksi karet alam Indonesia sebanyak 2,5 juta ton, 1,9 juta ton diekspor dengan mendatangkan devisa sebesar Rp3,2 miliar.

Untuk investasi di industri karet saat ini belum terganggu secara signifikan. Ini diungkapkan Didik Hadjar Goenadi, Ketua Asosiasi Inventor Indonesia,“Saat ini iklim investasi khususnya di karet masih baik-baik saja meski ada kenaikan harga. Mungkin di hilir akan sedikit terganggu, namun kenaikan harga ini berdampak baik untuk investasi di hulu. Saat ini cenderung terjadi peningkatan investasi di hulu.”

Kenaikan harga ban tidak bisa ditampik mengganggu produksi ban sepeda motor merek Millennium. Lewat direktur utamanya, Yasin, mengatakan modal untuk produksi mengalami kenaikan, yang tentu akan berimbas kenaikan harga ban di pasaran. “Untuk industri ban mobil penumpang, kenaikan harga ban tidak terlalu memusingkan, karena pasar jenis ban ini ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Namun bagi kami, industri ban sepeda motor sangat terganggu dengan adanya kenaikan harga, karena pasar kami kebanyakan menengah ke bawah. Apalagi daya beli masyarakat saat ini sedang rendah,” ujarnya.

Hal sama juga dikeluhkan Ade Tarya, direktur utama PT. Sugih Instrumendo Abadi, perusahaan pembuat tensimeter. Menurutnya, saat harga karet alam menyentuh US$ 3,3 per kilogram, harga tensimeter buatannya dikeluhkan oleh konsumen di luar negeri, apalagi dengan harga saat ini. “Kami akhirnya mencari bahan alternatif untuk menurunkan harga produk kami, yaitu menggunakan PVC untuk selang atau bladdernya,” ujar Ade. Namun penggunaan PVC dikhawatirkan membuat daya saing produknya menjadi lemah. Karena saat ini kualitas PVC Indonesia masih kalah dengan Cina.

Setali tiga uang dikeluhkan juga oleh pengusaha industri kecil berbahan dasar karet. “Kenaikan harga saat ini mengganggu cashflow kami. Saat kami menandatangani kontrak dengan mitra, kami harus memproduksi dengan harga karet alam saat kami kontrak. Namun ditengah jalan terjadi kenaikan harga yang drastis. Mau tidak mau kami harus menjual produk kami dengan harga lama karet alam, karena sudah terikat kontrak. Jadi kerugian menjadi bayang-bayang kami,” ungkap Henny, pengusaha industri kecil dari Bandung. Kenaikan harga yang fluktuatif ini, lanjut Henny, membuat pengusaha lebih cermat dalam menandatangani kontrak dengan mitra kerjanya.

Siti A. Rukmana, produsen dock fender dari Bandung pun tak jauh beda dengan Henny. Siti lebih baik menghentikan sementara kegiatan produksinya. “Kalau saya paksakan berproduksi, sedang output tidak ada, malah rugi besar. Bisa-bisa saya berhenti dan menghilangkan pekerjaan bagi karyawan saya. Lebih baik saya hentikan sementara, produk yang sudah ada lebih baik disimpan hingga nanti situasi sudah kondusif,” ujarnya.

Yasin berharap pemerintah bisa memberikan insentif harga karet bagi industri dalam negeri. Dengan adanya insentif ini, industri tidak perlu membeli karet alam sesuai dengan harga dunia,  sehingga industri dalam negeri dapat sedikit bernafas meskipun terjadi lonjakan harga seperti sekarang ini.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 5 Pusat Penelitian Karet Indonesia

Nada optimis dilontarkan Asril Sutan Amir, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) untuk perkaretan Indonesia sebagai dampak membumbungnya harga karet hingga menyentuh USD 4,2. Asrilpun menggadang perkaretan Indonesia bakal menduduki nomor wahid pada tahun 2020. Berikut petikan wawancara dengan Asril Sutan Amir di kantor Gapkindo, Jalan Cideng Barat, Jakarta Pusat:

Bagaimana perkembangan harga karet di Indonesia 10 tahun terakhir?

Sepuluh tahun yang lalu, negara kita masih kurang tepat dalam menganalisa pasar karet. Banyak yang mengatakan bahwa terjadi over supply dari karet. Namun setelah dikaji ulang tahun 2000, sebenarnya tidak. Kemudian terjadi pertumbuhan cepat di China, India, Asia pasifik. Industri otomotif membutuhkan karet alam. Tahun 2001, diadakan Bali Concord oleh tiga negara Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Kita inginkan remunerasi harga yang patut. Kemudian meningkat harga dari 46 cent sampai USD 1 per kilogram. China mengalami perkembangan luar biasa dengan hampir semua provinsi bisa membuka industri ban, dan hingga saat ini China mempunyai pabrik ban sebanyak 366 unit. Dengan penduduk yang banyak, yang dulunya naik sepeda, kemudian motor lalu mobil akibat pertumbuhan ekonomi yang cepat, sangat menyedot karet, dan sampai sekarang ini harga karet naik hingga USD 4,2.

Harga saat ini menyentuh USD 4,2, menurut Anda?

Harga saat ini sebenarnya membuat pusing pengusaha, karena akan membengkakkan working capital mereka. Selama karet di Indonesia paling tinggi sekarang ini, Perang Korea saja hanya mendongkrak hingga USD 3,2. Paling beruntung saat ini adalah pelaku karet di hulu, khususnya petani. Taruh jika kadar mereka 40 persen, mereka sudah dapat Rp14 ribu. Kalau kadar mereka 100 persen bisa mencapai Rp 35 ribu.

Penyebab kenaikan harga tersebut?

Karena negara-negara di Asia, yang disebut emerging market, saat ini mengalami peningkatan GDP. China dan India mengalami pertumbuhan yang luar biasa, China pada kuartal I mencapai 11 persen, 10,6 persen pada kuartal II, dan kuartal III di atas 9%. Pada tahun 2010 China akan tumbuh 10%, meskipun China mengadakan kenaikan suku bunga, tapi ekonomi tetap menghangat. India naik 8%, tahun ini Indonesia sendiri mencapai 6,5%. Dengan kenikan GDP berarti kemakmuran bertambah yang berkorelasi dengan kenaikan konsumsi karet. Tahun lalu, penjualan mobil di China mencapai 13,6 juta unit, tahun ini diprediksi mencapai 16 juta unit. Di Amerika, tahun lalu mencapai 10 juta, tahun ini bisa mencapai 12 juta unit. Terjadi kenaikan permintaan karet alam luar biasa, setidaknya mencapai 5-6 %.

Penyebab lain, menurut Anda?

Pedagang perantara juga memegang peranan terjadinya kenaikan harga saat ini. Rantai tataniaga karet masih cukup panjang. Dari petani, pengumpul tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai pabrik. Mereka cukup mengganggu suplai karet, karena kalau harga naik mereka malah menyimpan karet, sehingga pabrik pengolahan kosong kekurangan suplai bahan baku. Namun kalau harga turun, mereka mengeluarkan semua karet mereka.

Namun harga tinggi, volume produksi kita rendah?

Ya benar. Hingga 22 Oktober 2010, Indonesia yang mempunyai luas areal 3,445 juta hektar. Itu paling luas dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. Namun dengan luas itu, hanya tersadap 2,7 juta dengan produksi 2,592 juta ton atau hanya 935 kg per hektar. Kenapa? Masih banyaknya kebun kita menggunakan bibit asalan tadi. Ini banyak dilakukan pada kebun rakyat, karena hampir 90% areal merupakan kebun rakyat. Penanaman dengan bibit klonal sudah dilakukan pada perkebunan asing, perkebunan negara, dan perkebunan swasta. Sebagai jalan keluar tentu dengan penyediaan bibit unggul yang banyak dan murah bagi petani.

Perubahan iklim disebut-sebut juga mempengaruhi?

Ya benar. Cuaca juga mempengaruhi produksi. Dimana-mana produksi turun karena tidak bisa sadap. Ini terjadi karena hujan turun dari sore hingga pagi. Lateks yang biasanya disadap dengan kadar 30 persen, sekarang kurang dari itu. Biasanya bisa mencapai 70 liter, sekarang paling dapat 30 liter. Ini karena datangnya la nina, tahun ini la nina itu berjalan membawa hujan di daerah Pasifik Barat yaitu Indonesia, Laos, Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia Utara, dan Papua Nugini.

Perubahan iklim juga sebagai penyebab kenaikan harga?

Ya. Terjadi kontraksi dalam suplai karet, Thailand biasanya 3,2 juta ton per tahun, tahun ini diprediksi hanya menghasilkan tiga juta ton akibat perubahan iklim ini, selain juga sempat terjadi bencana banjir. Di Malaysia pun terjadi banjir di lahan produksi karetnya, sehingga mempengaruhi suplai karet. Ketidakseimbangan suplai demand maka terjadi lonjakan harga.

Prediksi anomali sampai kapan?

None knows, only God knows. Anomali cuaca tidak bisa diprediksi, kita hanya bisa mengikuti. Kita lihat saja seberapa jauh perubahan iklim ini berlangsung.

Prediksi harga USD 4,2 bertahan?

Saya kira sampai akhir tahun harga masih bertahan di atas USD 4.

Anomali cuaca yang tidak bisa diprediksi, ada kemungkinan harga bisa melebihi USD 4,2?

Tidak. Kita tidak bisa men-statement seperti itu. Tapi harga tidak akan di bawah USD 2,5, idealnya USD 2,5-3.

Dengan harga seperti sekarang ini, yang harus dilakukan pelaku karet di hulu?

Make it square. Berapa anda produksi, segitu lah yang anda jual. Jangan menyimpan terlalu banyak yang dapat mengganggu suplai.

Pembatasan harga bisa dilakukan?

Tidak bisa. Let the market do that. Ini semua adanya mekanisme pasar yang menentukan harga. Sebagai pengusaha hilir di saat harga tinggi, mereka harus tahu kapan Break Event Point (BEP) perusahaannya. Kenapa Bridgestone, Michelin, Goodyear, Cooper, dan Toyo tidak pernah komplain tentang harga? Yang terpenting buat mereka adalah ketersediaan bahan baku. Masih “anak-anak” buat pengusaha hilir yang meminta pembatasan harga.

Permintaan Karet Indonesia ke depan?

Ke depan permintaan akan karet terus meningkat. Permintaan luar negeri bakal meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan industri otomotif dunia. Dalam negeri pun demikian, terjadi peningkatan produksi produk berbahan karet. Contohnya, beberapa pabrik ban seperti Goodyear dan Bridgestone berencana memindahkan lokasi pabrik karena memperluas dan meningkatkan kapasitas produksinya.

Konsumen potensial karet Indonesia?

Konsumen karet Indonesia masih datang dari Amerika. Mereka dikatakan sebagai traditional market karena sudah dari dulu menjadi konsumen kita. Pemakaian terbesar karet alam oleh Amerika untuk ban, hampir 90 persen.

Tahun depan harga bagaimana?

Tahun 2011, none knows, only God knows. Kalau kita bisnis di karet, kita tidak bisa berspekulasi. Tapi kita harus berhati-hati. If we want to work in rubber business, you have to prepare 24 hour a day, 7 day a week, 30 days a month, 12 month a year. Tapi tahun depan diperkirakan masih banyak perusahaan yang tidak bisa memenuhi kontrak, jadi suplai karet masih terganggu.

Karet Indonesia ke depan akan seperti apa?

Tidak terlalu gegabah jika Saya berkeyakinan tahun 2020 Indonesia bisa nomor satu di dunia dengan produksi 3,5 juta ton, bahkan kemungkinan bisa lebih cepat.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Ningsih, buruh sadap Desa Pulau, Kecamatan Banyuasin, Sumatera Selatan, tampak semangat menyadap lateks di setiap pohon karet milik majikannya. Sudah sedari pagi ia berada di kebun itu. “Saya semangat menyadap kalau harga karet naik seperti sekarang ini, sangat membantu di saat harga-harga barang juga ikut naik,” kata Ningsih. Ditanya soal apakah majikannya akan meremajakan kebunnya, Ningsih menjawab tidak ada indikasi kebun milik majikannya akan diremajakan. “Sepertinya tidak, karena tanaman di sini masih muda, harga tinggi seperti sekarang ini yang penting sadap dan sadap,” ujarnya.

Pernyataan Ningsih diamini oleh Cicilia Nancy, Peneliti Sosial Ekonomi dari Balai Penelitian (Balit) Sembawa, Palembang. Melambungnya harga karet hingga USD 4,2 per kg karet kering (Rp 14 ribu per kg slab dengan kada karet kering 50%) seperti sekarang ini mendorong petani karet untuk terus menggenjot produksi lateks. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, lonjakan harga getah karet dipicu membaiknya ekspor ke sejumlah negara seperti Eropa dan Amerika Serikat terutama membaiknya usaha di bidang otomotif.

Analisa Nancy, harga tinggi akan berimbas terhadap peningkatan pendapatan petani. Seiring meningkatnya pendapatan juga akan mendorong peningkatan konsumsi petani. “Konsumsi petani cenderung meningkat, bisa mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau digunakan meremajakan kebunnya. Namun biasanya petani lebih memilih membeli barang konsumsi di saat harga tinggi. Ini membuat petani menunda meremajakan kebunnya, dan mindset ini harus segera diubah,” ujar Nancy.

Menurut Nancy, kecil kemungkinan bila harga karet tinggi petani kemudian meremajakan kebunnya. “Kecuali bagi petani yang mempunyai tanaman sudah berumur lebih 20 tahun, namun itu juga mereka punya kebun cadangan lain yang dapat digunakan sebagai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Nancy. Nancy menjelaskan ada kasus lain, jika mereka tidak mempunyai kebun cadangan, tetapi mereka mempunyai penghasilan lain, petani akan mengambil keputusan meremajakan kebunnya. “Biasanya mereka menjadi buruh sadap di kebun orang,” tambahnya.

Pendapatan sebagai buruh sadap mengalami peningkatan seiring kenaikan harga karet. Diasumsikan buruh sadap mengelola kebun seluas dua hektar. Dalam seminggu diambil rata-rata memperoleh 100 kg/ha, berarti dalam seminggu buruh dapat menyadap 200 kg lateks. Dengan sharing 40:60 maka buruh sadap memperoleh lateks sebanyak 80 kg. Apabila harga lateks Rp 12 ribu/kg maka buruh sadap akan memperoleh Rp 960 ribu/minggu sehingga dalam satu bulan buruh sadap bisa memperoleh pendapatan Rp 3.840.000. Menurut Nancy, dengan penghasilan dari buruh sadap saja, petani sudah dapat memenuhi kehidupan sehari-hari. “Belum jika suami istri juga bekerja, bisa memperoleh penghasilan dua kali lipatnya,” jelas Nancy.

Oleh karena itu, jika petani sama sekali tidak mempunyai penghasilan lain, mereka akan tetap terus menyadap tak peduli umur tanaman mereka sudah lebih 20 tahun. Karena dengan keputusan meremajakan maka penghasilan mereka akan terputus hingga lima tahun kedepan. Penghasilan lain digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejalan dengan pernyataan Nancy, Jahidin Rosyid peneliti Farming System Balit Sembawa membagi petani menjadi tiga kelompok yaitu petani kecil, menengah, dan besar. Petani kecil mempunyai areal kebun karet kurang dari 2 ha, petani menengah (2-5 ha), dan petani besar (lebih dari 5 ha). Merreka memiliki respons yang berbeda terhadap naiknya harga karet. Petani kecil dengan harga tinggi seperti sekarang ini, akan lebih menggenjot produksi lateksnya ketimbang meremajakan kebun.

Jika mereka mendapat karet 5 kg/hari dengan harga sekarang mencapai Rp1 4 ribu/kg maka mereka mendapatkan Rp 70 ribu/hari dengan kerja hanya tiga jam, maka mereka akan malas meremajakan. “Ini kesempatan mereka untuk menikmati hidup yang lebih baik, maka pendapatan akan dialokasikan untuk konsumsi bahkan cenderung pemborosan,” ujar Jahidin.

Peluang besar meremajakan kebun ada pada kelompok petani menengah dan petani besar. Petani menengah, dengan areal hingga lima hektar yang mereka punya, kemungkinan dua hektar kebun mereka akan diremajakan. “Mereka tak masalah dengan dua hektar kebun yang diremajakan, karena mereka masih mempunyai pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari dari tiga hektar kebunnya,” jelas Jahidin.

Petani besar pun demikian, harga tinggi sebagai kesempatan besar untuk meremajakan kebun. Di samping itu, mereka akan mengalokasikan dana untuk ekspansi lahan. “Harga tinggi membuat petani melakukan ekspansi lahan hingga puluhan hektar. Karena di Sumatera Selatan lahan sudah mulai sempit, mereka biasanya membeli lahan jauh hingga ratusan kilometer .. Mereka biasanya mencari lahan inkonvensional, lahan yang belum pernah ditanam karet,” ungkap Jahidin.

Konsumsi berlebihan di saat harga tinggipun dilakukan Ateng Suryana, petani Desa Pulau. “Karena hal tersebut tidak bisa dihindari, ini kesempatan untuk menikmati hasil jerih payah kami,” ujar Ateng. Namun Ateng sedikit lebih baik, karena dia sudah menyisihkan dana untuk meremajakan kebun dan ekspansi lahan seluas 20 ha.

Biarkan Petani Bergairah. Naiknya harga karet ternyata disambut baik oleh Noerdy Tedjaputra, Direktur Utama PT. Badja Baru, perusahaan crumb rubber di Palembang. Noerdy melihatnya sebagai sinyal positif bagi perkaretan Indonesia. “Harga saat ini terlalu tinggi dan menjadi record-nya tertinggi. Tidak masalah bagi perusahaan kami, malahan ini bagus karena menjadi daya tarik bagi petani karet. Mereka akan menanam dan mereka mampu replanting, kedepan mereka bisa mengembangkan kebunnya,” ujar Noerdy.

Noerdy menambahkan, jika harga tidak seperti sekarang ini mungkin petani akan malas berproduksi. Harga bagus sebagai hikmah yang baik sehingga petani penuh gairah. “Biarkan petani bergairah memproduksi karet, daripada mereka malas tentu akan merepotkan perusahaan kami dalam memenuhi bahan baku,” tambahnya. Namun yang disayangkan Noerdy adalah kenaikan harga tidak diimbangi dengan peningkatan volume karet. “Harga tinggi tapi volume karet yang masuk berkurang jumlahnya, suplai kami ke pabrik ban masih kurang,” ujar Noerdy di kantornya.

Menurut Noerdy, melambungnya harga karet disebabkan karena anomali cuaca yang menerpa dunia. Negara produsen karet, Thailand saat ini sedang dilanda banjir, begitu juga banjir menggenangi perbatasan Malaysia. “Daerah produksi terganggu akibat banjir di kedua negara, sehingga mengganggu suplai karet dunia. Apalagi ekonomi dunia sudah mulai membaik, harga minyak juga naik, dan kebutuhan karet dunia meningkat,” jelas Noerdy.

Kekhawatiran muncul bagi industri hilir karet seperti perusahaan ban. Harga tinggi karet berimbas meningkatnya harga ban di pasaran, dan produsen khawatir ban yang mereka produksi tidak laku terjual ditambah daya beli konsumen yang sedang menurun. Namun Noerdy meyakinkan bahwa produsen dan konsumen tidak perlu khawatir, karena harga tinggi sekarang ini hanya sementara. “Tentu akan ada koreksi pasar, harga tidak akan terus meninggi. Produsen dan konsumen harap bersabar, berikan kesempatan petani untuk menikmati harga tinggi ini,” ujar Noerdy. Noerdy memprediksi, harga tinggi akan bertahan satu hingga dua bulan kedepan. Noerdy mengharapkan di saat harga tinggi petani dapat menyisihkan dana untuk meremajakan kebun, agar volume karet yang dihasilkan bisa meningkat.

Harga tinggi juga disambut baik oleh PT. Sumatera Prima Fibreboard (SPF), perusahaan pengolahan kayu karet di Palembang. John Hendarso selaku Direktur Operasional PT. SPF mengatakan harga tinggi akan meningkatkan kemampuan petani karet dalam meremajakan kebunnya. Apabila peremajaan dapat dilakukan oleh banyak petani, tentu suplai bahan baku kayu karet akan semakin meningkat. “Peremajaan kebun sangat membantu kami dalam suplai bahan baku,” ujarnya.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Karet di Indonesia diusahakan oleh tiga perkebunan yaitu perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta. Areal perkebunan rakyat mempunyai luas yang paling besar dibanding perkebunan besar. Data Ditjen Perkebunan Kementrian Pertanian tahun 2008 menunjukkan areal perkebunan karet rakyat seluas 2,9 juta ha, sedangkan sisanya perkebunan besar (negara dan swasta) seluas 0,57 juta ha.

Selama kurun waktu empat dekade, perkebunan karet di Indonesia mengalami pertumbuhan  yang cukup pesat. Pada tahun 1968, luas areal karet mencapai 2,21 juta ha, kemudian meningkat pada tahun 2008 menjadi 3,47 juta ha. Namun selama lebih 40 tahun itu, pertumbuhan hanya terjadi pada areal perkebunan karet rakyat yaitu sekitar 1,5% per tahun. ”Untuk perkebunan besar negara dan swasta, arealnya hanya sedikit berubah atau bahkan bisa dikatakan stagnan,” kata Uhendi Haris, Kepala Balai Penelitian dan Teknologi Karet (BPTK) Bogor.

Lambatnya pertumbuhan areal karet di perkebunan besar disebabkan karena masa tanaman belum menghasilkan (TBM) yang panjang sehingga menjadi kendala dalam pengembangan karet di perkebunan besar. “Untuk menjadi tanaman menghasilkan butuh waktu sekitar enam tahun, hal ini memberatkan investasi awal bagi perusahaan untuk mengembangkan areal karet,“ ungkap Uhendi. “Kondisi ini akan lebih memberatkan lagi dengan tingkat suku bunga bank yang tinggi,” tambahnya. Selain itu, dari segi profitabilitas untuk wilayah tertentu seperti di Sumatera Utara mempunyai curah hujan yang tinggi yang lebih cocok untuk kelapa sawit daripada untuk tanaman karet. Uhendi menambahkan dari segi teknis agronomis dan pengolahan, tanaman karet relatif lebih sulit sehingga membutuhkan curahan perhatian yang lebih tinggi dibanding tanaman lain seperti kelapa sawit.

Perkebunan besar negara dikelola oleh beberapa perusahaan antara lain PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) I, II, III, V, VII, VIII, IX, XII, XIII, dan XIV. Kebanyakan perusahaan perkebunan besar negara tidak hanya mengelola tanaman karet saja, tetapi juga mengelola tanaman lain seperti kelapa sawit atau teh. Sedangkan tiga besar perusahaan yang mengelola perkebunan swasta di Indonesia diantaranya Bridgestone, Socfindo, dan London Sumatera (Lonsum). Socfindo dan Lonsum selain mengelola karet juga mengelola kelapa sawit.

Untuk produksi, pada tahun 2008 karet Indonesia mencapai 2,9 juta ton. Perkebunan rakyat memberi kontribusi sebanyak 2,3 juta ton atau sekitar 79 persen dari total produksi karet alam nasional, sedangkan produksi perkebunan besar sebanyak 0,6 juta ton. Pada periode tahun 1982-2000, pertumbuhan produksi karet alam Indonesia rata-rata sekitar 3,8 persen per tahun. Namun pada periode 2000-2008, pertumbuhan produksi karet alam Indonesia meningkat tajam sekitar 8,7% per tahun.

Jika dilihat dari produktivitas, produktivitas perkebunan besar di atas perkebunan rakyat yaitu mencapai 1.053 kg/ha/tahun, sedangkan untuk perkebunan rakyat hanya 793 kg/ha/tahun. “Ini terjadi karena perkebunan besar sudah menerapkan teknologi budidaya dan adopsi penggunaan klon-klon unggul di kebunnya,” jelas Uhendi. “Namun besar produktivitas sekarang ini masih jauh dari Bench Mark yang telah ditetapkan yaitu 1.800 kg/ha/tahun,” tambahnya.

Untuk Ekspor. Hampir 90 persen segmen pasar karet perkebunan besar ditujukan untuk pasar ekspor, sedangkan 10 persen digunakan untuk industri dalam negeri. Pada tahun 2008 ekspor Indonesia mencapai 9,7 juta ton. Jenis karet yang paling banyak di ekspor adalah Crumb Rubber. Data Bloomberg menunjukkan karet Indonesia banyak diserap oleh Amerika Serikat (26%), Jepang (16%), dan China (14,7%) yang merupakan tiga raksasa industri otomotif dunia. Untuk dalam negeri, pemanfaatan karet  untuk industri ban (55%), sarung tangan, benang ,dan kondom (17%), alas kaki (11%), vulkanisir (11%), dan barang-barang karet lainnya (9%).

“Saat ini perkebunan besar kebanyakan masih memproduksi produk primer seperti Crumb Rubber, Ribbed Smoke Sheet (RSS),Thin Pale Creepe (TPC) atau lateks pekat untuk diekspor,” kata Uhendi. Uhendi menambahkan, selain memproduksi produk primer, beberapa perusahaan perkebunan besar juga mempunyai industri hilir dengan memproduksi barang-barang karet seperti kondom, conveyor belt, dan benang karet, kebanyakan industri hilir ini dikelola oleh perkebunan besar negara.

Dalam mengolah karetnya, karet dari perkebunan rakyat umumnya masih dikirim ke pabrik pengolahan milik swasta, sedangkan perkebunan besar sudah mempunyai pabrik pengolahan sendiri yang telah bersertifikat SNI 19-14001:2005 atau ISO 9001:2000. “Dengan adanya sertifikat ini kualitas karet perkebunan besar sudah bisa diakui di pasar ekspor. Mereka (perkebunan besar-red) pun sudah mempunyai buyer loyal masing-masing,” ujar Uhendi. “Untuk perkebunan besar negara punya Kantor Pemasaran Bersama dalam menjual karetnya,” tambah Uhendi.

Karet termasuk komoditi industri yang diperjualbelikan secara bebas. Karena pasar karet sudah sangat luas maka tidak ada yang bisa menetapkan harga karet. “Saat ini perkebunan besar masih sebagai penerima harga (price taker), sehingga harga karet perkebunan besar pun ditentukan oleh harga pasar yang terjadi,” kata Uhendi yang juga sebagai anggota Committee on Strategic Market Operation (CSMO) ini. Harga karet di perkebunan besar selain dipengaruhi oleh permintaan, penawaran, dan stok karet alam dunia, juga dipengaruhi oleh efektivitas keragaan dari pasar berjangka karet seperti di Singapore Commodity Exchange (SICOM), Tokyo Commocity Exchange (TOCOM), Agriculture Future Exchange of Thailand (AFET), atau Malaysia Rubber Exchange (MRE).

Pada tahun 2008 harga karet mengalami penurunan karena menurunnya permintaan karet alam akibat krisis global, hingga Desember 2008 harga karet hampir menembus USD1 per kilogram. Dengan adanya penurunan harga ini, pada Januari 2009, Indonesia yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) bersama Thailand dan Malaysia sepakat menurunkan tonase ekspor sebesar 700.000 ton melalui instrumen Agreed Export Tonnage Scheme (AETS). Instrumen ini digunakan untuk mengendalikan suplai karet di pasar internasional. “Selain AETS, ada instrumen lain yaitu Supply Management Scheme (SMS) agar perkebunan karet di Indonesia termasuk perkebunan besar mengurangi produksinya dengan replanting, pembatasan perluasan, hingga pengurangan intesitas penyadapan,” jelas Uhendi. Uhendi mengklaim instrumen yang dibuat telah bekerja secara efektif, sehingga membuat harga kembali merangkak naik menjadi USD3,2 per kilogram.

Perusahaan perkebunan besar sendiri tergabung dalam Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO). “GAPKINDO berperan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan produsen terhadap kepentingan pemerintah semisal peraturan atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, namun GAPKINDO tidak berperan dalam menentukan harga,” kata Uhendi. Prospek untuk menghasilkan ouput yang lebih besar masih terbuka lebar bagi perkebunan besar. Produksi dan produktivitas perkebunan besar pun masih bisa ditingkatkan, namun tentu saja dibutuhkan pengelolaan yang lebih efisien sehingga dapat menghasilkan output yang optimal.

Diterbitkan di Majalah Hevea, Pusat Penelitian Karet Indonesia Edisi 3

Majalah Agro Observer adalah majalah bulanan ekonomi dan bisnis di bidang pertanian. Kami merupakan satu-satunya majalah pertanian yang menyajikan aspek bisnis dan ekonomi dari agribisnis dan agroindustri. Saat ini kami membutuhkan SDM untuk ditempatkan pada posisi Jurnalis/Reporter

Syarat :

1. Pria/Wanita, usia max. 26 tahun

2. Pendidikan min. S1 dari berbagai jurusan

3. Tertarik menggeluti dunia jurnalistik

4. Dapat Berbahasa Inggris, dan

5. Dapat bekerja dalam tim serta dibawah tekanan dan deadline

Kirim CV beserta contoh tulisan ke : agroabrar@yahoo.com dengan Kode : REP