Hujan menjadi dilema bagi petani karet, di satu sisi, hujan sangat membantu pertumbuhan dan produksi tanaman karet. Sisi lain, hujan bakal menganggu kegiatan panen, hujan datang berhenti lah penyadapan. Apalagi sekarang ini, akibat perubahan iklim, hujan turun tak menentu. Untuk itu, diperlukan teknologi untuk mengatasi terganggunya penyadapan ketika hujan tiba. Rainguard menjadi salah satu solusinya.

Perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) puncak hujan terjadi pada bulan Desember. Hujan jatuh bisa dibagi menjadi tiga yaitu langsung ke permukaan tanah (throughfall), melewati cabang dan batang (stemflow), atau tertahan di tajuk (interception) kemudian hilang melalui evaporasi. Stemflow menjadi kendala peyadapan, namun dengan Rainguard, aliran air hujan akan dibelokkan melalui batang agar tidak masuk ke mangkok sadap dan sekaligus menjaga bidang sadap tetap kering sehingga menurunkan kehilangan lateks karena tercuci hujan yang menyebabkan perolehan lump akan lebih banyak.

Adalah Thomas Wijaya, seorang peneliti dari Balai Penelitian (Balit) Sembawa yang memodifikasi Rainguard. Sebenarnya Rainguard bukan barang baru, namun inovasi Rainguard ciptaan Thomas lebih simpel, mudah dalam penggunaannya, dan murah. “Rainguard yang sudah ada sekarang ini harganya mahal hingga mencapai tiga ribu rupiah per pohon dan tidak tahan lama,” ujar Thomas saat ditemui di Seminar Rainguard yang diadakan di Balit Sembawa, Palembang.

Thomas menambahkan, saat ini belum banyak pekebun yang mengadopsi Rainguard. Menurutnya, ada dua faktor yaitu pekebun belum menyadari kehilangan produksi saat hujan karena “Jam dinas penyadap antara jam enam pagi hingga jam satu siang dan sering hujan datang setelah jam dinas”. Biasanya penyadapan dibatalkan pada jam 9 apabila panel sadap masih basah. Hujan sering terjadi setelahnya saat tidak ada pengawasan. Lateks masih menetes, kehilangan produksi pun terjadi. Pekebun belum menyadarinya,” ujar Thomas. Faktor kedua adalah anggapan hujan sebagai konsekuensi alam, hujan turun ya sudah mau apalagi.

Hujan sudah terbukti menyebabkan kehilangan produksi. Di Bogor, dengan adanya hujan menyebabkan penundaan penyadapan selama satu jam dengan kehilangan produksi sebesar 5 persen dan produksi turun 18 persen jika tertunda hingga tiga jam. Di Malaysia, hujan menyebabkan kehilangan hari sadap mencapai 71 hari/tahun atau kehilangan produksi sebesar 535 kg/ha/tahun. Demikian juga kehilangan cup lump sebesar 50 persen karena tercuci hujan siang hari setelah penyadpan. Thomas mengingatkan bahwa dengan kondisi harga tinggi seperti sekarang ini, pekebun harus mengambil tindakan dengan tujuan membuat seminimal mungkin kehilangan produksi untuk memperoleh keuntungan maksimal.

Saat ini PTPN VII dan PT. Pinago Utama di Sumsel sudah menggunakan Rainguard di kebunnya. Rainguard dari kedua perusahaan tersebut dibuat sendiri. “Kedua perusahaan tersebut sudah sadar akan kehilangan produksinya sehingga dengan kreatif membuat Rainguard buatan sendiri,” ujar Thomas.

Rainguard ala Thomas. Negara produsen Rainguard saat ini datang dari Malaysia dan India. Namun, produk mereka masih enggan digunakan karena harga yang tinggi mencapai Rp3 ribu/unit. “Tentu dengan harga tersebut pekebun akan berpikir dua kali untuk menginvestasikan Rainguard dikebunnya,” ujar Thomas. Untuk itu Balit Sembawa menciptakan Rainguard terbuat dari  bonnet dengan memiliki keunggulan lebih murah dengan kualitas lebih bagus, tahan lama, tidak mengganggu kecepatan penyadap, dan mengurangi gangguan penyakit mouldy rot.

Berdasarkan hasil praktik lapangan yang dilakukan di kebun Balit Sembawa, menunjukkan batang yang tidak dilindungi Rainguard masih tampak basah, sedangkan batang dibawah lindungan Rainguard tampak kering sehingga dapat disadap. Meskipun hujan disertai angin kencang, batang tetap basah namun karena adanya Rainguard bidang yang terlindungi akan cepat kering. Manfaat lain, air hujan yang mengalir  ke dalam mangkok sadap jauh berkurang. Hasil pengukuran volume air pada mangkok sadap pada pohon yang menggunakan Rainguard hanya 20 persen, artinya kehilangan lateks karena pencucian lebih kecil.

Dalam penggunaan Rainguard juga dikombinasi pembeku Deorub K untuk membekukan tetesan lanjut dalam mangkok menjadi cup lump sehingga lateks tidak membubur. Aplikasi Deorub K per mangkok cukup 25 cc larutan dengan konsentrasi 5 persen. “Namun penggunaan Deorub K bisa dihemat dengan melihat cuaca, apabila diperkirakan tidak akan terjadi hujan, maka tidak diperlukan penambahan Deorub K dalam mangkok,” jelas Thomas. Thomas menambahkan, pemakaian Deorub K sangat penting jika pekebun menggunakan stimulan dalam memerah lateks. Karena penyadapan 1 hingga 3 kali setelah aplikasi stimulan, setelah pemungutan lateks pada siang hari, lateks masih tetap akan mengalir. Tetesan lanjut ini sangat riskan terhadap pencucian oleh hujan apabila tidak dibekukan. Biaya per penggunaan Deorub K hanya Rp8.125 untuk 500 pohon.

Harga Rainguard inovasi Balit Sembawa hanya dibanderol Rp1.500/unit yang bisa bertahan hingga empat tahun. Namun harga tersebut,menurut Haji Alwi, salah seorang anggota Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (GAPKINDO), dianggap masih terlalu mahal. “Okelah jika yang memakai adalah perkebunan besar atau petani besar, tapi bagi petani kecil masih terlalu mahal buat mereka,” ujar Alwi. Namun menurut Thomas, dengan harga tersebut tidak terlalu memberatkan di saat harga karet sedang melambung seperti sekarang ini. Chairil Anwar, Direktur Utama Pusat Penelitian Karet Indonesia pun angkat bicara,”Harga ini masih hitungan sementara, tentu kami akan menghitung ulang harga khusus bagi petani kecil.”

Analisa Pembiayaan.

Analisa Pembiayaan Rainguard dan Deorub K per Hanca (500 pohon)

Uraian Volume Harga Unit    (Rp) Nilai (Rp) pada Tahun Rata-Rata (Rp)
I II1) III2) IV1)
Rainguard+Lem (Keping) 500 1.500 750.000 75.000 350.000 75.000  
Pemasangan (HOK) 8 40.000 320.000 80.000 320.000 80.000
Deorub K (liter)

(0,625 l/aplikasi, 35 aplikasi/tahun)

21.875 13.000 284.375 284.375 284.375 284.375
Total 1.354.375 439.375 954.375 439.375 796.875

Keterangan =

1)      Tahun II dan IV biaya untuk aplikasi lem supaya tidak bocor

2)      Tahun III, posisi Rainguard dipindahkan sehingga bahan yang diperlukan hanya berupa lem.

Untuk setiap hanca dengan sistem sadap ½ s d/3, maka jumlah hari sadap per tahun adalah 100 hari. Apabila diasumsikan peluang gangguan hujan sebanyak 35 persen atau 35 hari sadap, maka aplikasi Deorub K pada mangkok sebanyak 35 kali. Setiap penggunaan Deorub K diperlukan 0,625 liter sehingga biaya Deorub K selama setahun Rp284.375. Pemasangan Rainguard pada tahun I mengharuskan merogoh kantong lebih dalam sebesar Rp1.345.375. “Namun karena Rainguard dapat dipakai selama empat tahun maka biaya rata-rata menjadi lebih murah,” ujar Thomas.

Rata-rata biaya pemasangan rainguard per tahun hanya Rp796.875 atau setara dengan 29 kg karet kering. Dengan demikian, menurut Thomas, hanya dengan hasil dari satu hingga dua kali penyadapan setiap hanca (dengan asumsi harga karet kering Rp27 ribu/kg), maka pekebun sudah mencapai Break Event Point (BEP). Thomas kembali mengingatkan, apabila potensi gangguan hujan besar, maka jumlah produksi yang dapat diselamatkan jauh lebih besar baik dari jumlah hari sadap maupun kehilangan tetesan lanjut, dengan demikian penggunaan Rainguard secara ekonomis sangat menguntungkan.

Diterbitkan pada Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Advertisements

Banyak petani karet mengeluh tidak bisa mendapatkan informasi harga yang sedang terjadi. Hal ini kemudian berimbas pada  rendahnya posisi tawar petani terhadap pembeli. Tak ayal, petani hanya pasrah saat karetnya dibeli dengan harga rendah. Namun persoalan itu tampaknya dapat segera teratasi. Balai Penelitian (Balit) Sembawa membuat terobosan dengan membuat fasilitas Short Message Service (SMS) informasi harga karet terkini.

Untuk menyediakan pedoman dan acuan harga bahan olah karet (bokar) tersebut, Balit Sembawa memberikan layanan informasi harga karet harian dengan memanfaatkan fasilitas teknologi informasi terkini yaitu layanan SMS melalui telepon genggam. Sinung Hendratno, salah seorang peneliti Sosial Ekonomi Balit Sembawa menjelaskan bahwa layanan informasi harga melalui SMS digunakan karena memberikan jaminan pelayanan yang mudah dijangkau dan diakses oleh para pengguna. “Untuk mengakses informasi harga tersebut caranya sangat mudah, yaitu hanya mengetik: KARET HARGA, kemudian dikirimkan ke nomor: 9779,” ujar Sinung. Sinung menambahkan, sebagai jawaban bagi pengguna, informasi harga akan diterima kembali dalam teks SMS. Jika pengguna melakukan akses pada tanggal 3 September 2010 misalnya, jawaban SMS sebagai berikut: ”Balai Penelitian Sembawa: Prakiraan Harga Karet Kering 100% di Palembang 03/09/2010: Rp26.800-Rp27.300/Kg”

Sebagai catatan, yang dimaksud sebagai prakiraan harga karet kering 100 % di Palembang adalah prakiraan harga untuk bahan olah karet pada kondisi 100 % kadar karet kering di pintu pabrik karet remah di Palembang. Informasi harga karet tersebut akan diupdate setiap hari pada pukul 09.00 WIB.

Seperti kita ketahui, karet menjadi salah satu komoditas utama perkebunan dan menjadi andalan sumber devisa negara serta sumber pendapatan bagi dua juta keluarga petani. Di Provinsi Sumatera Selatan saja misalnya, terdapat sekitar 500 ribu petani dan pedagang serta lembaga pemasaran yang berkepentingan dengan karet, yang berdomisili di berbagai pelosok pedesaan.

Sampai saat ini informasi mengenai harga karet hampir tidak dipunyai oleh para pelaku pemasaran khususnya petani. Informasi mengenai harga karet di lapangan tidak bebas diakses, kurang transparan, dan asimetri. Hanya sedikit saja dari petani yang mengetahui informasi harga sebelum mereka menjual karetnya di “kalangan atau pasar karet”, itu pun diperoleh secara sepihak dari para pedagang karet dan lembaga pemasaran vertikal lainnya, yang notabene adalah calon pembeli karet petani. Para pedagang karet dan lembaga pemasaran vertikal lebih menguasai perkembangan harga dan bertindak sebagai penentu harga (price maker), sementara petani karet seringkali hanya berfungsi sebagai penerima harga (price taker). Kondisi ini harus segera diperbaiki.

Pedoman atau acuan harga karet yang diperlukan adalah yang dapat tersedia setiap saat dan dapat diakses secara bebas oleh para pelaku pasar terutama petani yang berdomisili di pelosok pedesaan sehingga informasi harga menjadi lebih transparan dan simetri. Pedoman atau acuan harga karet juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pelaku pasar bahan olah karet dalam upaya memperbaiki sistem pemasaran dan pendapatannya.

Masih untuk Palembang. Pada tahap awal, penyediaan layanan harga karet harian melalui SMS masih ditujukan untuk wilayah pasar Palembang (Sumatera Selatan), dengan sasaran utama pengguna layanan adalah para pelaku pasar perkaretan khususnya petani, pedagang karet, dan pengelola pasar lelang dan kemitraan karet. Dalam penyediaan layanan ini, Balit Sembawa bekerja sama dengan tiga operator komunikasi GSM terbesar di Indonesia, yaitu Telkomsel, Indosat, dan Pro XL.

Oleh karena itu, layanan ini hanya bisa diakses bagi pengguna yang menggunakan jasa ketiga operator tersebut. ”Layanan info harga karet lewat SMS ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para pelaku pasar yang menginginkan adanya transparansi dan simetri harga karet guna memperbaiki efisiensi sistem pemasaran dan pendapatannya,” ujar Sinung.

Ke depan, layanan info harga karet akan dikembangkan untuk wilayah pasar karet lainnya seperti wilayah pasar Medan (Sumatera Bagian Utara), Jambi, Padang (Sumatera Bagian Barat), Pontianak (Kalimantan Bagian Barat), dan Banjarmasin (Kalimantan Bagian Selatan, Tengah, dan Timur), sehingga pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh semua pelaku pasar di seluruh sentra karet di Indonesia.

Sinung Hendratno

Peneliti Sosial Ekonomi Balai Penelitian Karet Sembawa

Tahun ke tahun kebutuhan bahan baku kayu nasional semakin meningkat. Data Dirjen Perkebunan tahun 2010 menunjukkan, bahwa kebutuhan kayu nasional mencapai 43 juta m3. Tapi kebijakan soft landing Kementerian Kehutanan membatasinya, sehingga negeri ini di tahun 201 0 hanya diberi  jatah tebangan sebesar 9,1 juta m3. Deforestasi hutan alam yang semakin tinggi penyebab munculnya kebijakan ini. Jelas, terdapat marjin antara supply dan demand sebesar 33,9 juta m3. Semakin jelas pula, diperlukan alternatif pengganti kayu hutan untuk di ekspor.

Kementrian kehutanan merilis, laju deforestasi Indonesia dalam kurun waktu 2005 – 2010 mencapai 1,175 juta ha per tahun. “Kayu karet bisa menjawab gap itu. Apalagi dengan diluncurkan program Hutan Tanaman Industri (HTI). Sekarang, tanaman karet memiliki prospek yang baik,” kata Cicilia Nancy, Peneliti Sosial Ekonomi di Balai Penelitian Sembawa. Nancy menambahkan lagi bahwa sebagai tanaman perkebunan, nilai ekonomis tanaman karet tak hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan lateks, tetapi juga kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku perabot rumah tangga.

“Peningkatan permintaan kayu karet karena membaiknya perekonomian dunia, pertambahan penduduk, dan terbatasnya ketersediaan kayu hutan alam seperti kayu meranti putih, ramin, dan Agathis yang dilarang untuk di ekspor dalam bentuk kayu gergajian,” ungkap Nancy. Produk kayu yang berwarna khas putih kekuningan seperti kayu ramin ini banyak dikonsumsi negara-negara seperti Singapura, Jepang, China, Taiwan, dan Amerika Latin dalam bentuk furniture, papan partikel, parquet flooring, moulding, laminating, dan pulp. Perkembangan teknologi pengolahan kayu saat ini menjadikan pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku industri tidak lagi hanya terbatas untuk kayu pertukangan, tetapi kayu-kayu yang berukuran lebih kecilpun dapat diproses di pabrik Medium Density Fiber (MDF) menjadi bubur kayu untuk kemudian menghasilkan produk akhir dalam bentuk particle board, fibre board, pulp, dan kertas.  Seluruh bagian kayu termasuk cabang dan ranting sudah dapat dimanfaatkan.

Kayu karet diharapkan dapat digunakan lebih luas sebagai substisusi kayu alam. Potensi kayu karet untuk diolah menjadi bahan baku industri cukup besar. Jika mengacu kepada statistik karet, diketahui bahwa luas perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2009 seluas 3,4 juta hektar. Sebesar 85 persen atau 3 juta hektar adalah kebun karet rakyat. Dengan demikian perkebunan rakyat menjadi tumpuan pengembangan kayu karet. Potensi kayu karet diperkirakan lebih kurang 8,5 juta m3 per tahun, didasarkan atas luas areal perkebunan karet yang ada. Diasumsikan perkebunan karet setiap tahun meremajakan 5-10 persen dari arealnya. Harap diingat ada 400 ribu ha perkebunan rakyat dalam kondisi tua, rusak, dan tidak produktif, yang saat ini membutuhkan peremajaan. Persoalannya, belum ada sumber dana untuk meremajakannya.

Memenuhi standar.

Kayu karet yang diolah dibedakan atas bentuk gelondong (log) dan limbah, baik limbah penebangan maupun limbah pengolahan. Log kayu karet merupakan bagian dari batang yang berdiameter 20 cm ke atas. Nancy menguraikan pengolahan kayu karet gelondong hingga saat ini bertujuan menghasilkan kayu gergajian dan kayu lapis, sedangkan limbahnya menghasilkan papan partikel, papan serat atau pulp, atau arang.

Rendemen kayu gergajian menjadi produk gergajian kayu sekitar 50%, sudah termasuk penyusutan saat pengeringan. Umumnya kayu karet gergajian digunakan sebagai komponen mebel dan konstruksi bangunan. Produk peralatan kayu karet dapat dibuat secara knock down ataupun completed knock down dengan tujuan Eropa dan Amerika, misalnya untuk dining set, folding chair racking, lounge bed room, dan garden set. Kayu karet juga bisa digunakan untuk moulding (bentuk profil seperti pigura dan lisplank) dan berbagai alat rumah tangga dengan berbagai corak dan design, seperti dinding penyekat, jelusi jendela, dan parquet block (lantai).

Dalam keadaan dingin, kayu karet juga dapat dikupas menjadi venir. Tripleks dari kayu karet yang direkat dengan perekat urea formaldehyde (UF) dan dibubuhi ekstender 20% ternyata mempunyai sifat keteguhan rekat yang memenuhi persyaratan standar Indonesia, standar Jepang, dan standar Jerman. Berarti, sifat perekat kayu karet baik. Tidak semua jenis kayu dapat memenuhi syarat keteguhan rekat ketiga standar tersebut. Dari 26 jenis kayu yang pernah diteliti hanya 92% yang memenuhi standar Jepang, 58% memenuhi standar Jerman, dan 46% memenuhi standar Indonesia. Karena diameter kayu karet relatif kecil, relatif pendek, dan pengurangan diameter relatif besar, sehingga kurang sesuai untuk bahan kayu lapis berbentuk panel. Produk kayu lapis untuk rumah tangga digunakan untuk komponen pintu dan jendela, meja, tangga, dan kursi. Sedangkan untuk bahan bangunan berupa block dan pilar.

Dari papan partikel hingga serat.

Kayu karet juga digunakan untuk papan partikel. Penggunaan papan partikel dari kayu karet lebih sesuai untuk bahan mebel dibanding sebagai bahan bangunan. Untuk meningkatkan keawetan biasanya ditambahkan bahan pengawet 0,5% dari berat papan partikel.  Saat ini, papan partikel yang digunakan sudah dilapisi dengan kertas beraneka corak untuk menambah keindahannya.

Kayu karetpun bisa sebagai bahan baku papan serat. Kayu karet diproses menjadi serpih dan diolah menjadi pulp melalui proses soda panas terbuka (disebut juga proses semi kimia soda panas), kemudian dikempa menjadi papan serat. Rendemen pulp berkisar antara 65-80% (berdasarkan bobot). Hasil papan serat berbahan baku kayu karet mempunyai sifat keteguhan lentur dan tarik yang memenuhi standar Inggris, tetapi sifat penyerapan air dan pengembangan tebalnya belum memenuhi standar. Kekurangan ini dapat disempurnakan dengan menambahkan ramuan kayu jenis yang lain.

Bahan untuk arang.

Kayu karetpun bisa digunakan untuk arang. Kualitas jenis kayu untuk arang berhubungan dengan nilai bakarnya. Nilai bakar berhubungan pula dengan berat jenis kayu. Kayu dengan berat jenis 0.60-0.75 termasuk ke dalam kelas III atau baik. Semakin tinggi berat jenis kayu, semakin keras arang yang dihasilkan, dan semakin tinggi pula rendemen arang dihasilkan. Konsekuensinya, makin tinggi kadar karbon yang terikat, dan makin rendah zat menguap. Diperkirakan, rendemen kayu karet sekitar 31%, kadar karbon terikat 79 %, dan kadar zat menguap 19%. Sedangkan persyaratan arang kayu komersial adalah kadar karbon terikat 74-81%, dan kadar zat menguap 18–22%. Jelas, arang kayu karet termasuk ke dalam arang kayu komersial dan sesuai untuk diolah menjadi arang aktif. Arang kayu karet bahkan cocok digunakan sebagai arang metalurgi untuk peleburan bijih besi. Persyaratan arang metalurgi menurut FAO adalah kadar karbon terikat 60–80%, kadar zat menguap 15-26%, dan kadar abu 3-10%. Pengujian skala laboratorium menunjukkan bahwa arang aktif dari kayu karet dapat diolah dengan hasil yang lebih baik bila menggunakan aktivator. Arang aktif terutama berfungsi sebagai pemurni dalam industri bahan makanan, bahan kimia, dan farmasi.

“Saat ini yang perlu dibenahi adalah infrastruktur. Potensi kayu karet ada di kebun rakyat, tetapi lokasi kebun karet rakyat umumnya sulit dijangkau. Kalau bahan baku banyak namun sulit dijangkau, ya sama saja….,” ujar Nancy.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Perambahan hutan jati oleh masyarakat di wilayah Perum Perhutani Unit I, Jawa Tengah khususnya di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang semakin tidak terbendung. Minimnya lapangan pekerjaan ditenggarai sebagai penyebabnya. Mengkonversi kebun jati menjadi kebun karet dijadikan sebagai salah satu solusi permasalahan. Balai Penelitian (Balit) Getas pun dirangkul untuk andil dalam budidaya kebun tersebut.

“Inti utama kami melakukan konversi dengan tanaman karet adalah tingginya perambahan hutan oleh masyarakat di wilayah KPH Pemalang. Tanaman Jati masih muda sering hilang diambil masyarakat dan kami sudah kewalahan menanganinya. Sehingga kami memutuskan seandainya lahan tersebut ditanami karet, akan menjadi solusi sehingga bermanfaat ke masyarakat,” ungkap Mamat Surahmat, Kepala Administrasi Pengelolaan Sumberdaya Hutan (PSDH) KPH Pemalang. Mamat menambahkan kerjasama ini juga dalam rangka program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) racikan Perum Perhutani, sehingga penanaman karet diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi masyarakat untuk merambah hutan.

Dalam redesain lahan tersebut, total lahan yang akan ditanam karet mencapai 2.342 ha dengan target hingga 2012. Kerjasama yang tertuang dalam kontrak Pengembangan dan Pengelolaan Tanaman Karet Klonal Penghasil Lateks dan Kayu (Latex Timber Clone, LTC) ini sudah dimulai tahun 2008. Luas areal kebun karet ini memakai 10 persen dari total areal KPH Pemalang dengan lokasi di Desa Karanganyar, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Akses menuju lokasi penanaman memang agak sulit, ada dua alternatif menuju ke sana. Pertama, dengan menggunakan mobil, namun jika tidak sedang musim hujan. Karena jika musim hujan tiba, mobil tidak bisa menjangkau karena jalan masih tanah yang akan menjadi lumpur pekat. Alternatif kedua menggunakan perahu motor kecil, berangkat dari Danau Cacaban dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 15 menit menuju lokasi.

Lahan yang sudah ditanam karet hingga akhir 2009 mencapai 399,1 ha dengan perincian tahun 2008 seluas 106,7 ha dan tahun 2009 mencapai 292,4 ha, sedangkan untuk tahun 2010, ditargetkan mencapai 93,7 ha. “Kurang lebih dalam satu hektar terdapat 480 pohon, dan kami menggunakan klon anjuran dari Balit Getas yaitu PB 217,” ujar Mamat. Karena harus mengacu pada Hutan Tanaman Industri (HTI), maka pada lahan tersebut tidak 100 persen untuk tanaman karet. Konsep penanaman di kebun tersebut yaitu setiap enam larik tanaman karet, akan ada tanaman selingan sebanyak tiga larik. Perhutani menggunakan tanaman jati sebagai tanaman selingannya. Sadap perdana kebun ini direncanakan pada tahun 2013. Produktivitas kebun dengan luas 2.342 ha ini diprediksi akan mencapai 1048 kg/ha/tahun, kata Mamat, siang itu di kantornya.

Sebelum penanaman, survei lahan dilakukan bersama Balit Getas untuk melihat kesesuaian lahan tersebut bagi tanaman karet. “Menurut Balit Getas, lahan sangat cocok untuk tanaman karet. Terbukti dengan pertumbuhan karet tahun 2008 menunjukkan hasil yang memuaskan,” ujar Sugianto, penanggung jawab kerjasama ini. Sugianto menambahkan bentuk kerjasama antara Perhutani dengan Balit Getas ini berupa lahan dan pemeliharaan menjadi ranah Perhutani, sedangkan Balit Getas penyedia bibit tanaman karet dan melakukan pengawalan teknologi dari pra panen, pemanenan, dan pasca panen termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Kerjasama ini sangat bermanfaat bagi kami, karena dapat menambah pengetahuan kami akan budidaya tanaman karet,” ujar Mamat.

Dalam kerjasama ini terdapat sharing pendapatan antara Perum Perhutani, Balit Getas, dan masyarakat. Perbandingan sharing kerjasama ini 40:40:20, artinya 40 persen dari hasil penjualan getah merupakan jatah Perhutani dan Balit getas, sedangkan 20 persen untuk masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) binaan Perhutani. LMDH nantinya juga diberdayakan sebagai tenaga penyadap. “Jadi mereka juga akan mendapat penghasilan tambahan dari tenaga penyadapan,” ungkap Mamat.

Penyediaan bahan tanam untuk tahun 2010, Balit Getas sudah menyiapkan sebanyak 103 ribu bibit yang kini sudah mendekam di kebun persemaian seluas empat hektar di Desa Kedung Jati, Kecamatan Waru Reja, Kabupaten Tegal. Dalam perawatannya, Perhutani menempatkan seorang pengawas dan beberapa pekerja. “Saat ini ada 13 pekerja, enam orang sebagai okulator dan tujuh orang bagian perawatan yang kami ambil dari masyarakat sekitar, sehingga tidak hanya di kebun saja masyarakat memperoleh tambahan pendapatan,“ ujar Dedi Hastomo, pengawas kebun persemaian.

Penyiraman rutin dilakukan di kebun persemaian, begitu juga pemupukan dengan pupuk tunggal atau majemuk serta organik. Untuk menghasilkan bahan tanam, bibit di okulasi menggunakan sistem okulasi hijau dengan melakukan okulasi saat bibit batang bawah berumur empat bulan. “Meski okulator baru mengenal tanaman karet, tapi mereka sudah dapat melakukan okulasi,” ujar Dedi. Bibit tahun 2010 sebagian sudah di okulasi, namun menurut Dedi, okulator yang sekarang ada masih kurang. Bibit untuk tanam tahun 2010 sudah masuk waktu okulasi sehingga kebun persemaian membutuhkan beberapa tenaga okulator. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Sugianto akan segera mendatangkan lima okulator dari Balit Getas untuk membantu pengokulasian. Masyarakat Desa Karanganyar sangat antusias terhadap penanaman karet di wilayahnya. Menurut Daryoso, kepala RPH Winong, masyarakat sangat berharap ada tambahan penghasilan dari kebun ini, di samping menanam tanaman palawija.

Ke depan Perhutani akan segera memperbaiki akses jalan menuju kebun tersebut. “Perbaikan jalan untuk mempermudah ketika panen nanti. Karena jika musim hujan, dengan kondisi jalan tanah seperti sekarang ini tidak dapat dilewati, dan kami harus menggunakan perahu dari danau Cacaban untuk menuju lokasi,” ungkap Mamat. Perhutani juga berencana membangun pabrik pengolahan karet. “Dengan luas lahan sekarang ini, kami sudah memenuhi syarat untuk membangun pabrik pengolahan karet. Dan kami sudah ada wacana menuju ke sana,” ungkap Mamat. Selain lateks, kayu karet nantinya juga akan dimanfaatkan dan dimasukan ke dalam pengelolaan industri perkayuan Perhutani.

Kerjasama Perhutani dengan Balit Getas tidak hanya sebatas kerjasama ini saja, pembuatan kebun percobaan untuk Balit Getas seluas 100 ha di wilayah KPH Pemalang pun sedang direncanakan. “Seperti kita ketahui Balit Getas belum memiliki kebun karet sendiri, kami berencana membangun kebun karet seluas 100 ha di wilayah kami untuk Balit Getas. Namun sampai saat ini, kami belum menemukan lahan yang tepat,” ungkap Mamat.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Ningsih, buruh sadap Desa Pulau, Kecamatan Banyuasin, Sumatera Selatan, tampak semangat menyadap lateks di setiap pohon karet milik majikannya. Sudah sedari pagi ia berada di kebun itu. “Saya semangat menyadap kalau harga karet naik seperti sekarang ini, sangat membantu di saat harga-harga barang juga ikut naik,” kata Ningsih. Ditanya soal apakah majikannya akan meremajakan kebunnya, Ningsih menjawab tidak ada indikasi kebun milik majikannya akan diremajakan. “Sepertinya tidak, karena tanaman di sini masih muda, harga tinggi seperti sekarang ini yang penting sadap dan sadap,” ujarnya.

Pernyataan Ningsih diamini oleh Cicilia Nancy, Peneliti Sosial Ekonomi dari Balai Penelitian (Balit) Sembawa, Palembang. Melambungnya harga karet hingga USD 4,2 per kg karet kering (Rp 14 ribu per kg slab dengan kada karet kering 50%) seperti sekarang ini mendorong petani karet untuk terus menggenjot produksi lateks. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, lonjakan harga getah karet dipicu membaiknya ekspor ke sejumlah negara seperti Eropa dan Amerika Serikat terutama membaiknya usaha di bidang otomotif.

Analisa Nancy, harga tinggi akan berimbas terhadap peningkatan pendapatan petani. Seiring meningkatnya pendapatan juga akan mendorong peningkatan konsumsi petani. “Konsumsi petani cenderung meningkat, bisa mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau digunakan meremajakan kebunnya. Namun biasanya petani lebih memilih membeli barang konsumsi di saat harga tinggi. Ini membuat petani menunda meremajakan kebunnya, dan mindset ini harus segera diubah,” ujar Nancy.

Menurut Nancy, kecil kemungkinan bila harga karet tinggi petani kemudian meremajakan kebunnya. “Kecuali bagi petani yang mempunyai tanaman sudah berumur lebih 20 tahun, namun itu juga mereka punya kebun cadangan lain yang dapat digunakan sebagai pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Nancy. Nancy menjelaskan ada kasus lain, jika mereka tidak mempunyai kebun cadangan, tetapi mereka mempunyai penghasilan lain, petani akan mengambil keputusan meremajakan kebunnya. “Biasanya mereka menjadi buruh sadap di kebun orang,” tambahnya.

Pendapatan sebagai buruh sadap mengalami peningkatan seiring kenaikan harga karet. Diasumsikan buruh sadap mengelola kebun seluas dua hektar. Dalam seminggu diambil rata-rata memperoleh 100 kg/ha, berarti dalam seminggu buruh dapat menyadap 200 kg lateks. Dengan sharing 40:60 maka buruh sadap memperoleh lateks sebanyak 80 kg. Apabila harga lateks Rp 12 ribu/kg maka buruh sadap akan memperoleh Rp 960 ribu/minggu sehingga dalam satu bulan buruh sadap bisa memperoleh pendapatan Rp 3.840.000. Menurut Nancy, dengan penghasilan dari buruh sadap saja, petani sudah dapat memenuhi kehidupan sehari-hari. “Belum jika suami istri juga bekerja, bisa memperoleh penghasilan dua kali lipatnya,” jelas Nancy.

Oleh karena itu, jika petani sama sekali tidak mempunyai penghasilan lain, mereka akan tetap terus menyadap tak peduli umur tanaman mereka sudah lebih 20 tahun. Karena dengan keputusan meremajakan maka penghasilan mereka akan terputus hingga lima tahun kedepan. Penghasilan lain digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejalan dengan pernyataan Nancy, Jahidin Rosyid peneliti Farming System Balit Sembawa membagi petani menjadi tiga kelompok yaitu petani kecil, menengah, dan besar. Petani kecil mempunyai areal kebun karet kurang dari 2 ha, petani menengah (2-5 ha), dan petani besar (lebih dari 5 ha). Merreka memiliki respons yang berbeda terhadap naiknya harga karet. Petani kecil dengan harga tinggi seperti sekarang ini, akan lebih menggenjot produksi lateksnya ketimbang meremajakan kebun.

Jika mereka mendapat karet 5 kg/hari dengan harga sekarang mencapai Rp1 4 ribu/kg maka mereka mendapatkan Rp 70 ribu/hari dengan kerja hanya tiga jam, maka mereka akan malas meremajakan. “Ini kesempatan mereka untuk menikmati hidup yang lebih baik, maka pendapatan akan dialokasikan untuk konsumsi bahkan cenderung pemborosan,” ujar Jahidin.

Peluang besar meremajakan kebun ada pada kelompok petani menengah dan petani besar. Petani menengah, dengan areal hingga lima hektar yang mereka punya, kemungkinan dua hektar kebun mereka akan diremajakan. “Mereka tak masalah dengan dua hektar kebun yang diremajakan, karena mereka masih mempunyai pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari dari tiga hektar kebunnya,” jelas Jahidin.

Petani besar pun demikian, harga tinggi sebagai kesempatan besar untuk meremajakan kebun. Di samping itu, mereka akan mengalokasikan dana untuk ekspansi lahan. “Harga tinggi membuat petani melakukan ekspansi lahan hingga puluhan hektar. Karena di Sumatera Selatan lahan sudah mulai sempit, mereka biasanya membeli lahan jauh hingga ratusan kilometer .. Mereka biasanya mencari lahan inkonvensional, lahan yang belum pernah ditanam karet,” ungkap Jahidin.

Konsumsi berlebihan di saat harga tinggipun dilakukan Ateng Suryana, petani Desa Pulau. “Karena hal tersebut tidak bisa dihindari, ini kesempatan untuk menikmati hasil jerih payah kami,” ujar Ateng. Namun Ateng sedikit lebih baik, karena dia sudah menyisihkan dana untuk meremajakan kebun dan ekspansi lahan seluas 20 ha.

Biarkan Petani Bergairah. Naiknya harga karet ternyata disambut baik oleh Noerdy Tedjaputra, Direktur Utama PT. Badja Baru, perusahaan crumb rubber di Palembang. Noerdy melihatnya sebagai sinyal positif bagi perkaretan Indonesia. “Harga saat ini terlalu tinggi dan menjadi record-nya tertinggi. Tidak masalah bagi perusahaan kami, malahan ini bagus karena menjadi daya tarik bagi petani karet. Mereka akan menanam dan mereka mampu replanting, kedepan mereka bisa mengembangkan kebunnya,” ujar Noerdy.

Noerdy menambahkan, jika harga tidak seperti sekarang ini mungkin petani akan malas berproduksi. Harga bagus sebagai hikmah yang baik sehingga petani penuh gairah. “Biarkan petani bergairah memproduksi karet, daripada mereka malas tentu akan merepotkan perusahaan kami dalam memenuhi bahan baku,” tambahnya. Namun yang disayangkan Noerdy adalah kenaikan harga tidak diimbangi dengan peningkatan volume karet. “Harga tinggi tapi volume karet yang masuk berkurang jumlahnya, suplai kami ke pabrik ban masih kurang,” ujar Noerdy di kantornya.

Menurut Noerdy, melambungnya harga karet disebabkan karena anomali cuaca yang menerpa dunia. Negara produsen karet, Thailand saat ini sedang dilanda banjir, begitu juga banjir menggenangi perbatasan Malaysia. “Daerah produksi terganggu akibat banjir di kedua negara, sehingga mengganggu suplai karet dunia. Apalagi ekonomi dunia sudah mulai membaik, harga minyak juga naik, dan kebutuhan karet dunia meningkat,” jelas Noerdy.

Kekhawatiran muncul bagi industri hilir karet seperti perusahaan ban. Harga tinggi karet berimbas meningkatnya harga ban di pasaran, dan produsen khawatir ban yang mereka produksi tidak laku terjual ditambah daya beli konsumen yang sedang menurun. Namun Noerdy meyakinkan bahwa produsen dan konsumen tidak perlu khawatir, karena harga tinggi sekarang ini hanya sementara. “Tentu akan ada koreksi pasar, harga tidak akan terus meninggi. Produsen dan konsumen harap bersabar, berikan kesempatan petani untuk menikmati harga tinggi ini,” ujar Noerdy. Noerdy memprediksi, harga tinggi akan bertahan satu hingga dua bulan kedepan. Noerdy mengharapkan di saat harga tinggi petani dapat menyisihkan dana untuk meremajakan kebun, agar volume karet yang dihasilkan bisa meningkat.

Harga tinggi juga disambut baik oleh PT. Sumatera Prima Fibreboard (SPF), perusahaan pengolahan kayu karet di Palembang. John Hendarso selaku Direktur Operasional PT. SPF mengatakan harga tinggi akan meningkatkan kemampuan petani karet dalam meremajakan kebunnya. Apabila peremajaan dapat dilakukan oleh banyak petani, tentu suplai bahan baku kayu karet akan semakin meningkat. “Peremajaan kebun sangat membantu kami dalam suplai bahan baku,” ujarnya.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Sejak tahun 1990, PT. Sugih Instrumendo Abadi berkecimpung di dunia kesehatan dengan memproduksi Sphygmomanometer (tensimeter). Karet alam (lateks) ikut campur dalam pembuatan alat ini. Empat puluh ton lateks per bulan pun dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan produksinya.

Bagian tensimeter yang terbuat dari lateks adalah Bulb dan Bladders. Bulb merupakan katup untuk memompa udara, sedangkan bladders kantong tensimeter yang biasanya melekat dilengan pasien. Kebutuhan lateks 40 ton per bulan digunakan untuk memproduksi bulb dan bladders masing-masing sebanyak 200.000 unit. Lateks sendiri dipasok dari PT. Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII), Bandung dan PT. Huma Indah Mekar, Lampung. “Hampir fifty-fifty banyaknya lateks yang masuk dari kedua perusahaan tersebut,” ungkap Ade Tarya Hidayat, Presiden Direktur PT. Sugih Instrumendo Abadi. Kualitas lateks dari kedua perusahaan tersebut, menurut Ade, sudah memenuhi kriteria yang diinginkan perusahaannya. “Lateks yang masuk mengacu kepada American Standard Testing Material (ASTM) Lateks,” tambah Ade.

Perusahaan yang berada di Desa Cipeundeuy, Padalarang ini mempunyai pabrik seluas 1 hektar. Dalam proses produksinya, PT. Sugih Instrumendo Abadi mengacu kepada Standard Internasional Requirement ISO 13485-2007, CE 0197 untuk standar Eropa, dan US-FDA 510(k) untuk standar Amerika. Tak hanya itu, perusahaan ini juga selalu update dalam pemenuhan regulasi yang menyangkut komponen yang dilarang pada negara-negara tertentu seperti RoHS, REACH, Bisphenol-A, Phtalates, PAHs, dan DEHP. Sebelum dilempar ke pasar, bulb dan bladders terlebih dahulu dilakukan pengujian oleh bagian quality control. Pengujian meliputi tes visual, tes kebocoran, hingga tes kekuatan. “Jadi tidak perlu meragukan kualitas produk-produk kami, meski ini produk lokal,” ujar Ade.

ABN. Dalam memasarkan produknya, PT. Sugih Instrumendo Abadi menggunakan trademark “ABN”. “ABN merupakan singkatan dari Abadi Nusa yang merupakan holding company kami,” kata Ade. Ade menambahkan, ABN merupakan strategi brand image perusahaannya untuk mengurangi ketidakpercayaan konsumen terhadap produk lokal. “Kadang konsumen ada yang tidak suka dengan produk lokal, maka kami pakai ABN, biar konsumen menebak-nebak sendiri apa itu ABN. Selain itu juga, merek ABN saya rasa mudah teridentifikasi.” ungkap Ade.

Selain berbahan lateks, PT. Sugih Instrumendo Abadi juga memproduksi tensimeter bahan sintetis yang penggunaaanya sekitar 20 persen. Di pasaran Anda bisa memperoleh tensimeter ini dengan harga $6,5 hingga $10 dengan berbagai varian ukuran dan warna seperti hitam, merah, biru, hijau, abu-abu, dan ungu. “Anda juga akan memperoleh garansi selama lima tahun, tidak seperti tensimeter impor dari Jerman yang hanya bergaransi satu tahun,” tambah pria yang sekilas mirip dengan Jusuf Kalla ini.

Ekspor. Produksi tensimeter tak hanya ditujukan untuk pasar lokal, perusahan yang mempunyai 350 karyawan ini juga menjamah pasar internasional. Bahkan sekitar 90 persen produknya dipasarkan untuk ekspor. Segmen pasar lokal ditujukan untuk rumah sakit, klinik, dokter, perawat, hingga rumah tangga. Ade mengklaim perusahaannya telah mampu menguasai 50 persen pasar lokal. PT. Sugih Instrumendo Abadi juga pernah bekerjasama dengan pemerintah dalam tender pengadaan tensimeter. “Kami  pernah bekerjasama dengan beberapa rumah sakit, Departemen Kesehatan, dan Dinas Kesehatan Kabupaten,” kata pria berusia 59 tahun ini.

Untuk pasar ekspor, tensimeter telah dipasarkan di beberapa negara seperti Amerika, Jerman, Inggris, Italia, Perancis,Inggris, Spanyol, Jepang, Taiwan, China, Timur Tengah, dan Australia. Sekitar 60 persen, Amerika merupakan negara yang paling banyak mengimpor tensimeter buatan perusahaan ini. “Salah satu customer Saya di Amerika ada yang memesan 45.000 unit per bulan. Untuk Eropa, Jerman merupakan customer terbanyak kami” ungkap Ade. Di Amerika, tensimeter buatan PT. Sugih Instrumendo Abadi diterpa isu allergic reaction bahwa penggunaan karet alam menyebabkan alergi terhadap beberapa pemakai. Dengan adanya isu ini maka PT. Sugih Instrumendo Abadi menggunakan karet sintetis dari Chloroprene sebagai bahan substitusi karet alam. “Alergi terjadi karena protein, dan lateks mengandung protein. Karena itu khusus di Amerika kami substitusi dengan karet sintetis,” ungkap Ade.

Win Solution.Sebelum bisnis tensimeter, Ade sempat memproduksi sarung tangan karet. “Waktu itu Saya tidak punya pabrik sendiri, Saya pakai pabrik orang lain,” kenang Ade. Bisnis sarung tangannya pun berkembang cukup pesat hingga dapat ekspor ke Australia dan Yugoslavia. Namun bisnis sarung tangan ini tidak bertahan lama karena Ade merasa dipermainkan oleh pemilik pabrik. “Harga karet dipermainkan oleh pabrik. Setiap akan mengekspor, harga karet selalu dinaikkan. Kalau naik hanya sekali tidak masalah, tapi ini berkali-kali,” ungkap Ade.

Akhirnya Ade memberhentikan bisnisnya ini, dan mencari bisnis lain. Untuk mencari bisnis yang berpeluang, Ade pun harus pergi ke Jerman. Di sana dia melihat peluang di bisnis tensimeter. Kemudian Ade menyelidiki asal muasal tensimeter yang di impor oleh Jerman. Tensimeter di Jerman ternyata kebanyakan didatangkan dari Jepang. “Jerman impor dari Jepang, sedangkan Jepang saja masih mengimpor lateks dari Indonesia. Karet Indonesia tentu punya daya saing yang tinggi, ini jadi peluang besar,” ungkap Ade.

Untuk mengetahui seluk beluk kualitas dan cara produksi tensimeter dari Jepang, Ade pun harus membeli produk mereka, tak tanggung-tanggung Ade membeli sebanyak 10.000 unit. Untuk mengetahui formulasi Bulb dan Bladders tensimeter buatan Jepang, Ade kemudian berkonsultasi ke Balai Penelitian Teknologi Karet (BPTK), Bogor. Setelah memperoleh formulasinya, di akhir tahun 1990, Ade kemudian mendirikan pabrik seluas 1500 m2. “Kemudian saya memberanikan untuk mengekspor. Ekspor pertama, ya 10.000 unit tensimeter dari Jepang itu,” kata Ade sambil tersenyum. Baru satu tahun berdiri, Ade sudah bisa memproduksi sebanyak 20.000 unit dan bisnisnya pun semakin berkembang hingga bertahan sekarang ini.

Kini, yang menjadi perhatian Ade adalah harga karet yang menurutnya sudah terlampau tinggi. “Dulu harga karet cuma $1 per kilogram, Saya perkirakan ini sangat merugikan buat di sektor Hulu. Namun sekarang ini justru kebalikan, dengan harga mencapai $3,4 justru mengkhawatirkan untuk sektor hilir,” jelas Ade. Ade menambahkan, dengan tingginya harga karet seperti sekarang, bulan Juni ini, beberapa customer mengindikasi untuk mengganti karet alam dengan bahan yang lebih murah. “Atas permintaan customer kami berinovasi mengganti lateks dengan PVC,” kata Ade.

Ade berharap ada lembaga yang mengatur harga karet di pasaran sehingga harga tersebut bisa dikatakan adil untuk sektor hulu dan hilir. “Kalau harga tetap tinggi yang menyebabkan penggantian lateks ke PVC, nantinya produk kita tidak punya daya saing. Untuk PVC tentu Indonesia kalah bersaing dengan China. Kalau perusahaan tidak punya daya saing, ya bisa-bisa perusahaan itu mati,” jelas Ade. “Menurut perhitungan Saya, harga $2,5 bisa dikatakan sebagai win-win solution,” saran Ade di akhir perbincangan.

Diterbitkan di Majalah Hevea, Pusat Penelitian Karet Indonesia Edisi 3

Karet di Indonesia diusahakan oleh tiga perkebunan yaitu perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta. Areal perkebunan rakyat mempunyai luas yang paling besar dibanding perkebunan besar. Data Ditjen Perkebunan Kementrian Pertanian tahun 2008 menunjukkan areal perkebunan karet rakyat seluas 2,9 juta ha, sedangkan sisanya perkebunan besar (negara dan swasta) seluas 0,57 juta ha.

Selama kurun waktu empat dekade, perkebunan karet di Indonesia mengalami pertumbuhan  yang cukup pesat. Pada tahun 1968, luas areal karet mencapai 2,21 juta ha, kemudian meningkat pada tahun 2008 menjadi 3,47 juta ha. Namun selama lebih 40 tahun itu, pertumbuhan hanya terjadi pada areal perkebunan karet rakyat yaitu sekitar 1,5% per tahun. ”Untuk perkebunan besar negara dan swasta, arealnya hanya sedikit berubah atau bahkan bisa dikatakan stagnan,” kata Uhendi Haris, Kepala Balai Penelitian dan Teknologi Karet (BPTK) Bogor.

Lambatnya pertumbuhan areal karet di perkebunan besar disebabkan karena masa tanaman belum menghasilkan (TBM) yang panjang sehingga menjadi kendala dalam pengembangan karet di perkebunan besar. “Untuk menjadi tanaman menghasilkan butuh waktu sekitar enam tahun, hal ini memberatkan investasi awal bagi perusahaan untuk mengembangkan areal karet,“ ungkap Uhendi. “Kondisi ini akan lebih memberatkan lagi dengan tingkat suku bunga bank yang tinggi,” tambahnya. Selain itu, dari segi profitabilitas untuk wilayah tertentu seperti di Sumatera Utara mempunyai curah hujan yang tinggi yang lebih cocok untuk kelapa sawit daripada untuk tanaman karet. Uhendi menambahkan dari segi teknis agronomis dan pengolahan, tanaman karet relatif lebih sulit sehingga membutuhkan curahan perhatian yang lebih tinggi dibanding tanaman lain seperti kelapa sawit.

Perkebunan besar negara dikelola oleh beberapa perusahaan antara lain PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) I, II, III, V, VII, VIII, IX, XII, XIII, dan XIV. Kebanyakan perusahaan perkebunan besar negara tidak hanya mengelola tanaman karet saja, tetapi juga mengelola tanaman lain seperti kelapa sawit atau teh. Sedangkan tiga besar perusahaan yang mengelola perkebunan swasta di Indonesia diantaranya Bridgestone, Socfindo, dan London Sumatera (Lonsum). Socfindo dan Lonsum selain mengelola karet juga mengelola kelapa sawit.

Untuk produksi, pada tahun 2008 karet Indonesia mencapai 2,9 juta ton. Perkebunan rakyat memberi kontribusi sebanyak 2,3 juta ton atau sekitar 79 persen dari total produksi karet alam nasional, sedangkan produksi perkebunan besar sebanyak 0,6 juta ton. Pada periode tahun 1982-2000, pertumbuhan produksi karet alam Indonesia rata-rata sekitar 3,8 persen per tahun. Namun pada periode 2000-2008, pertumbuhan produksi karet alam Indonesia meningkat tajam sekitar 8,7% per tahun.

Jika dilihat dari produktivitas, produktivitas perkebunan besar di atas perkebunan rakyat yaitu mencapai 1.053 kg/ha/tahun, sedangkan untuk perkebunan rakyat hanya 793 kg/ha/tahun. “Ini terjadi karena perkebunan besar sudah menerapkan teknologi budidaya dan adopsi penggunaan klon-klon unggul di kebunnya,” jelas Uhendi. “Namun besar produktivitas sekarang ini masih jauh dari Bench Mark yang telah ditetapkan yaitu 1.800 kg/ha/tahun,” tambahnya.

Untuk Ekspor. Hampir 90 persen segmen pasar karet perkebunan besar ditujukan untuk pasar ekspor, sedangkan 10 persen digunakan untuk industri dalam negeri. Pada tahun 2008 ekspor Indonesia mencapai 9,7 juta ton. Jenis karet yang paling banyak di ekspor adalah Crumb Rubber. Data Bloomberg menunjukkan karet Indonesia banyak diserap oleh Amerika Serikat (26%), Jepang (16%), dan China (14,7%) yang merupakan tiga raksasa industri otomotif dunia. Untuk dalam negeri, pemanfaatan karet  untuk industri ban (55%), sarung tangan, benang ,dan kondom (17%), alas kaki (11%), vulkanisir (11%), dan barang-barang karet lainnya (9%).

“Saat ini perkebunan besar kebanyakan masih memproduksi produk primer seperti Crumb Rubber, Ribbed Smoke Sheet (RSS),Thin Pale Creepe (TPC) atau lateks pekat untuk diekspor,” kata Uhendi. Uhendi menambahkan, selain memproduksi produk primer, beberapa perusahaan perkebunan besar juga mempunyai industri hilir dengan memproduksi barang-barang karet seperti kondom, conveyor belt, dan benang karet, kebanyakan industri hilir ini dikelola oleh perkebunan besar negara.

Dalam mengolah karetnya, karet dari perkebunan rakyat umumnya masih dikirim ke pabrik pengolahan milik swasta, sedangkan perkebunan besar sudah mempunyai pabrik pengolahan sendiri yang telah bersertifikat SNI 19-14001:2005 atau ISO 9001:2000. “Dengan adanya sertifikat ini kualitas karet perkebunan besar sudah bisa diakui di pasar ekspor. Mereka (perkebunan besar-red) pun sudah mempunyai buyer loyal masing-masing,” ujar Uhendi. “Untuk perkebunan besar negara punya Kantor Pemasaran Bersama dalam menjual karetnya,” tambah Uhendi.

Karet termasuk komoditi industri yang diperjualbelikan secara bebas. Karena pasar karet sudah sangat luas maka tidak ada yang bisa menetapkan harga karet. “Saat ini perkebunan besar masih sebagai penerima harga (price taker), sehingga harga karet perkebunan besar pun ditentukan oleh harga pasar yang terjadi,” kata Uhendi yang juga sebagai anggota Committee on Strategic Market Operation (CSMO) ini. Harga karet di perkebunan besar selain dipengaruhi oleh permintaan, penawaran, dan stok karet alam dunia, juga dipengaruhi oleh efektivitas keragaan dari pasar berjangka karet seperti di Singapore Commodity Exchange (SICOM), Tokyo Commocity Exchange (TOCOM), Agriculture Future Exchange of Thailand (AFET), atau Malaysia Rubber Exchange (MRE).

Pada tahun 2008 harga karet mengalami penurunan karena menurunnya permintaan karet alam akibat krisis global, hingga Desember 2008 harga karet hampir menembus USD1 per kilogram. Dengan adanya penurunan harga ini, pada Januari 2009, Indonesia yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) bersama Thailand dan Malaysia sepakat menurunkan tonase ekspor sebesar 700.000 ton melalui instrumen Agreed Export Tonnage Scheme (AETS). Instrumen ini digunakan untuk mengendalikan suplai karet di pasar internasional. “Selain AETS, ada instrumen lain yaitu Supply Management Scheme (SMS) agar perkebunan karet di Indonesia termasuk perkebunan besar mengurangi produksinya dengan replanting, pembatasan perluasan, hingga pengurangan intesitas penyadapan,” jelas Uhendi. Uhendi mengklaim instrumen yang dibuat telah bekerja secara efektif, sehingga membuat harga kembali merangkak naik menjadi USD3,2 per kilogram.

Perusahaan perkebunan besar sendiri tergabung dalam Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO). “GAPKINDO berperan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan produsen terhadap kepentingan pemerintah semisal peraturan atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, namun GAPKINDO tidak berperan dalam menentukan harga,” kata Uhendi. Prospek untuk menghasilkan ouput yang lebih besar masih terbuka lebar bagi perkebunan besar. Produksi dan produktivitas perkebunan besar pun masih bisa ditingkatkan, namun tentu saja dibutuhkan pengelolaan yang lebih efisien sehingga dapat menghasilkan output yang optimal.

Diterbitkan di Majalah Hevea, Pusat Penelitian Karet Indonesia Edisi 3

Majalah Agro Observer adalah majalah bulanan ekonomi dan bisnis di bidang pertanian. Kami merupakan satu-satunya majalah pertanian yang menyajikan aspek bisnis dan ekonomi dari agribisnis dan agroindustri. Saat ini kami membutuhkan SDM untuk ditempatkan pada posisi Jurnalis/Reporter

Syarat :

1. Pria/Wanita, usia max. 26 tahun

2. Pendidikan min. S1 dari berbagai jurusan

3. Tertarik menggeluti dunia jurnalistik

4. Dapat Berbahasa Inggris, dan

5. Dapat bekerja dalam tim serta dibawah tekanan dan deadline

Kirim CV beserta contoh tulisan ke : agroabrar@yahoo.com dengan Kode : REP


Danau Toba Membiru

Kelayaban ke Medan, Sumatera Utara tak cuma bisa menikmati wisata alam saja. Wisata bangunan-bangunan peninggalan masa baheula pun bisa ditemui di kota Orang Batak ini.

Menikmati Danau Toba

Wisata Air di Danau Toba

Makam Pahlawan Sisingamangaraja XII

Air Terjun Sipiso-Piso

Masjid Agung Medan

Istana Sultan Maimun

Wild Life International Museum

Salah Satu Koleksi Museum

Pulau Sempu nan Eksotis

Posted: July 14, 2010 in Kaki Langit

Foto Bareng Anggota Backpacker Indonesia

Istirahat di tengah tracking

karang bolong

segara anakan dari atas tebing karang

segara anakan

mencari obyek foto

menikmati laut di atas karang segara anakan

Sunrise di Pulau Sempu

Kelayaban ke Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur begitu mengasyikkan. Alam berupa hutan dan pantai nan eksotis tersaji di pulau yang diklaim masih virgin ini.